Logo BPS
BPS REPUBLIK INDONESIA

Berita Statistik BPS Republik Indonesia

Pada Bulan Juni 2007 Terjadi Inflasi 0,23 %

Pada Bulan Juni 2007 Terjadi Inflasi 0,23 %

2007-07-02

Pada bulan Juni 2007 terjadi inflasi 0,23 persen. Dari 45 kota tercatat 33 kota mengalami inflasi dan 12 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Ternate 2,16 persen dan inflasi terendah di Batam 0,04 persen. Sedangkan deflasi terbesar terjadi di Ambon 1,26 persen dan deflasi terkecil di Pekanbaru 0,01 persen. Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh kenaikan indeks pada kelompok barang dan jasa sebagai berikut : kelompok bahan makanan 0,47 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau 0,33 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas & bahan bakar 0,13 persen, kelompok kesehatan 0,22 persen, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,03 persen, dan kelompok transpor, komunikasi & jasa keuangan 0,11 persen. Sedangkan kelompok yang mengalami penurunan indeks adalah kelompok sandang sebesar 0,43 persen. Laju inflasi tahun kalender (Januari - Juni) 2007 sebesar 2,08 persen, sedangkan laju inflasi “year on year” (Juni 2007 terhadap Juni 2006) sebesar 5,77 persen. Inflasi komponen inti pada bulan Juni 2007 sebesar 0,10 persen, laju inflasi komponen inti tahun kalender (Januari - Juni) 2007 sebesar 2,11 persen, sedangkan laju inflasi komponen inti “year on year” (Juni 2007 terhadap Juni 2006) sebesar 5,40 persen.

Download PDF
Bulan Maret 2007 NTP Turun 0,84 %

Bulan Maret 2007 NTP Turun 0,84 %

2007-06-04

Dari 23 Provinsi yang dilaporkan pada Maret 2007, 10 Provinsi mengalami kenaikan, 1 Provinsi dapat dikatakan stabil dan 12 Provinsi mengalami penurunan. Kenaikan NTP tertinggi terjadi di Provinsi Bali, yaitu sebesar 6,16 persen karena harga produsen buah salak naik 4,73 persen, sedangkan penurunan NTP terbesar terjadi di Provinsi Sulawesi Tengah, yaitu sebesar 4,86 persen, karena harga produsen ketela pohon tidak pahit turun 1,27 persen. Pada Maret 2007, terjadi deflasi di daerah perdesaan Indonesia sebesar 0,13 persen. Deflasi perdesaan disebabkan karena penurunan indeks harga sub kelompok makanan sebesar 0,50 persen, walaupun terjadi kenaikan indeks harga pada sub kelompok perumahan sebesar 0,39 persen, pakaian 0,29 persen, dan sub kelompok aneka barang dan jasa naik 0,18 persen. Berdasarkan observasi sebanyak 970 transaksi gabah di 19 provinsi, rata-rata harga gabah di tingkat petani pada Mei 2007 dibandingkan keadaan April 2007 adalah sebagai berikut: untuk kualitas Gabah Kering Giling (GKG) turun sebesar 14,83 persen; sebaliknya Gabah Kering Panen (GKP) naik 2,17 persen; dan gabah kualitas rendah naik sebesar 5,94 persen. Rata-rata harga gabah di tingkat penggilingan untuk kualitas GKG mencapai Rp2.385,- per kg, berada di bawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Namun, rata-rata harga gabah untuk kualitas GKP mencapai Rp2.242,- per kg di tingkat penggilingan dan Rp2.190,- per kg di tingkat petani, keduanya berada di atas HPP. Persentase observasi harga gabah di tingkat penggilingan yang berada di bawah HPP turun, yaitu dari 41,67 persen pada April 2007 menjadi 28,02 persen pada Mei 2007. Persentase observasi gabah berkualitas rendah turun dari 31,92 persen pada April 2007 menjadi 22,37 persen pada Mei 2007. Harga gabah terendah di tingkat petani sebesar Rp1.400,- per kg dijumpai di Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat dengan kualitas Rendah. Harga tertinggi sebesar Rp3.600,- per kg dijumpai di Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah dengan kualitas GKP. Upah nominal harian buruh tani pada Maret 2007 naik sebesar 0,72 persen dibanding upah Februari 2007, yaitu dari Rp 14.826,- menjadi Rp 14.932,- per hari. Secara riil juga mengalami peningkatan sebesar 1,07 persen*). Dibanding upah Maret 2006 (year on year) upah nominal naik 10,53 persen. Upah nominal harian buruh bangunan (tukang bukan mandor) pada Mei 2007 naik 0,16 persen dibanding upah April 2007, yaitu dari Rp 35.551,- menjadi Rp 35.608,- per hari. Secara riil juga naik sebesar 0,06 persen*). Dibanding upah Mei 2006 (year on year), upah nominal naik 4,51 persen Upah nominal bulanan buruh industri pada triwulan IV 2006 naik sebesar 1,81 persen dibanding upah triwulan III 2006 yaitu dari Rp 943.857,- menjadi Rp 960.982,- per bulan, secara riil turun 0,60 persen*). Dibanding upah triwulan IV 2005 (year on year), upah nominal naik 3,25 persen.

Download PDF
Jumlah Wisman Naik 9,47%

Jumlah Wisman Naik 9,47%

2007-06-04

Jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang datang ke Indonesia melalui 15 pintu masuk pada April 2007 mencapai 364,2 ribu orang, mengalami kenaikan 9,47 persen dibanding jumlah wisman April 2006 sebanyak 332,7 ribu orang. Dibanding Maret 2007, wisman April 2007 mengalami kenaikan tipis sebesar 0,68 persen. Jumlah wisman ke Bali pada April 2007 naik 19,45 persen dibanding April 2006. Dibanding bulan sebelumnya, jumlah wisman ke Bali juga mengalami kenaikan yaitu dari 124,9 ribu orang pada Maret 2007 menjadi 131,0 ribu orang atau naik 4,90 persen. Jumlah wisman dari 15 pintu masuk selama Januari-April 2007, mencapai 1,37 juta orang atau meningkat 12,78 persen dibanding jumlah wisman pada periode yang sama tahun 2006 sebanyak 1,21 juta orang. Tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang di 10 Daerah Tujuan Wisata (DTW) pada Maret 2007 mencapai rata-rata 46,36 persen, mengalami kenaikan 0,28 poin dibanding TPK Februari 2007 sebesar 46,08 persen. TPK hotel berbintang di Bali turun dari 48,91 persen pada Februari 2007 menjadi 45,05 persen pada Maret 2007. Rata-rata lama menginap tamu asing dan Indonesia pada hotel berbintang selama Maret 2007 adalah 2,22 hari, tidak mengalami perubahan jika dibandingkan Februari 2007. Jumlah penumpang kereta api bulan April 2007 mencapai 14,42 juta orang, yang berarti naik 7,50 persen dibanding bulan Maret 2007, sedangkan jumlah barang yang diangkut kereta api turun 9,30 persen menjadi 1,23 juta ton. Selama Januari-April 2007, jumlah penumpang mencapai 52,76 juta orang atau naik 5,55 persen, sedangkan jumlah barang mencapai 5,30 juta ton atau turun 3,78 persen dibanding periode yang sama tahun 2006. Jumlah penumpang angkutan laut dalam negeri bulan April 2007 tercatat sebesar 480,75 ribu orang atau naik 3,66 persen, sebaliknya jumlah barang yang diangkut turun 1,46 persen menjadi 13,41 juta ton dibanding bulan Maret 2007. Selama Januari-April 2007, jumlah penumpang mencapai 2,02 juta orang atau turun 58,44 persen dan jumlah barang mencapai 53,69 juta ton atau turun 12,39 persen dibanding periode yang sama tahun 2006. Jumlah penumpang angkutan udara domestik bulan April 2007 mencapai 2,36 juta orang atau naik 1,42 persen dibanding bulan Maret 2007 dan jumlah penumpang tujuan luar negeri (internasional) mencapai 505,4 ribu orang atau turun 1,90 persen. Selama Januari-April 2007 jumlah penumpang domestik mencapai 8,48 juta orang, turun 7,50 persen. Sebaliknya, jumlah penumpang internasional mencapai 1,91 juta orang, naik 15,65 persen dibanding periode yang sama tahun 2006.

Download PDF
Bulan April 2007 Nilai ekspor Turun 3,70%, Nilai impor Naik 3,86%.

Bulan April 2007 Nilai ekspor Turun 3,70%, Nilai impor Naik 3,86%.

2007-06-04

Nilai ekspor Indonesia April 2007 mencapai US$ 8,85 miliar atau mengalami penurunan sebesar 3,70 persen dibanding ekspor Maret 2007. Tetapi bila dibanding April 2006 mengalami peningkatan sebesar 15,79 persen. Ekspor nonmigas April 2007 mencapai US$ 7,35 miliar, turun 3,75 persen dibanding Maret 2007, sedangkan dibanding ekspor April 2006 meningkat 23,63 persen. Secara kumulatif nilai ekspor Indonesia Januari-April 2007 mencapai US$ 34,55 miliar atau meningkat 14,82 persen dibanding periode yang sama tahun 2006, sementara ekspor nonmigas mencapai US$ 28,52 miliar atau meningkat 22,67 persen. Peningkatan ekspor nonmigas terbesar April 2007 terjadi pada lemak & minyak hewan/nabati sebesar US$ 218,2 juta, sedangkan penurunan terbesar terjadi pada mesin/peralatan listrik sebesar US$ 121,2 juta. Ekspor nonmigas ke Jepang April 2007 mencapai angka terbesar yaitu US$ 1,03 miliar, disusul Amerika Serikat US$ 847,3 juta dan Singapura US$ 624,9 juta, dengan kontribusi ketiganya mencapai 34,02 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa ( 25 negara ) sebesar US$ 1,04 miliar. Menurut sektor, ekspor hasil pertanian periode Januari-April 2007 meningkat 6,68 persen dibanding periode yang sama tahun 2006, sementara ekspor hasil industri serta hasil tambang dan lainnya naik masing-masing sebesar 19,47 persen dan 50,17 persen. Nilai impor Indonesia April 2007 mencapai US$ 5,64 miliar atau meningkat 3,86 persen dibanding Maret 2007 sebesar US$ 5,44 miliar, sedangkan selama Januari-April 2007 nilai impor mencapai US$ 21,03 miliar atau meningkat 16,13 persen dibanding periode yang sama tahun 2006 sebesar US$ 18,11 miliar. Impor Nonmigas April 2007 mencapai US$ 4,02 miliar atau meningkat 2,37 persen dibanding impor Maret 2007, sedangkan selama Januari-April 2007 mencapai US$ 15,41 miliar atau meningkat sebesar 18,81 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Impor Migas April 2007 mencapai US$ 1,62 miliar atau meningkat 7,76 persen dibanding impor Maret 2007, sedangkan selama Januari-April 2007 mencapai US$ 5,62 miliar atau meningkat 9,38 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Selama Januari-April 2007 impor nonmigas terbesar terjadi pada mesin/pesawat mekanik dengan nilai US$ 2,71 miliar atau 17,58 persen dari total impor nonmigas. Negara pemasok barang impor nonmigas terbesar ditempati oleh Jepang dengan nilai US$ 2,19 miliar dengan pangsa 14,20 persen, diikuti Cina US$ 2,05 miliar (13,32 persen) dan Amerika Serikat US$ 1,44 miliar (9,36 persen). Sementara impor nonmigas dari ASEAN mencapai 22,58 persen dan Uni Eropa sebesar 13,25 persen. Menurut golongan penggunaan barang, impor barang konsumsi dan bahan baku/penolong selama Januari-April 2007 meningkat masing-masing sebesar 34,11 persen dan 16,36 persen dibanding periode yang sama tahun 2006. Sedangkan impor barang modal meningkat sebesar 5,46 persen.

Download PDF
Pada Bulan Mei 2007 Terjadi Inflasi 0,10 Persen.

Pada Bulan Mei 2007 Terjadi Inflasi 0,10 Persen.

2007-06-04

Pada bulan Mei 2007 terjadi inflasi 0,10 persen. Dari 45 kota tercatat 23 kota mengalami inflasi dan 22 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Ambon 2,00 persen dan inflasi terendah di Palangkaraya 0,01 persen. Sedangkan deflasi terbesar terjadi di Banda Aceh 2,07 persen dan deflasi terkecil di Jambi 0,01 persen. Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh kenaikan indeks pada kelompok barang dan jasa sebagai berikut: kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau 0,47 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas & bahan bakar 0,35 persen, kelompok sandang 0,21 persen, kelompok kesehatan 0,18 persen, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,01 persen, dan kelompok transpor, komunikasi & jasa keuangan 0,13 persen. Sedangkan kelompok yang mengalami penurunan indeks adalah kelompok bahan makanan sebesar 0,39 persen. Laju inflasi tahun kalender (Januari - Mei) 2007 sebesar 1,84 persen, sedangkan laju inflasi “year on year” (Mei 2007 terhadap Mei 2006) sebesar 6,01 persen. Inflasi komponen inti pada bulan Mei 2007 sebesar 0,32 persen, laju inflasi komponen inti tahun kalender (Januari - Mei) 2007 sebesar 2,01 persen, sedangkan laju inflasi komponen inti “year on year” (Mei 2007 terhadap Mei 2006) sebesar 5,62 persen.

Download PDF
Jumlah Angkatan Kerja Di Indonesia Pada Februari 2007 Mencapai 108,13 Juta Orang

Jumlah Angkatan Kerja Di Indonesia Pada Februari 2007 Mencapai 108,13 Juta Orang

2007-05-15

Jumlah angkatan kerja di Indonesia pada Februari 2007 mencapai 108,13 juta orang, bertambah 1,74 juta orang dibanding jumlah angkatan kerja Agustus 2006 sebesar 106,39 juta orang atau bertambah 1,85 juta orang dibanding Februari 2006 sebesar 106,28 juta orang. Jumlah penduduk yang bekerja di Indonesia pada Februari 2007 mencapai 97,58 juta orang, bertambah 2,12 juta orang jika dibandingkan dengan keadaan pada Agustus 2006 sebesar 95,46 juta orang, atau bertambah 2,40 juta orang jika dibandingkan dengan keadaan Februari 2006 sebesar 95,18 juta orang. Jumlah penganggur pada Februari 2007 mengalami penurunan sebesar 384 ribu orang dibandingkan dengan keadaan Agustus 2006 yaitu dari 10,93 juta orang pada Agustus 2006 menjadi 10,55 juta orang pada Februari 2007, dan mengalami penurunan sebesar 556 ribu orang jika dibandingkan dengan keadaan Februari 2006 sebesar 11,10 juta orang. Tingkat pengangguran terbuka di Indonesia pada Februari 2007 mencapai 9,75 persen, mengalami penurunan dibandingkan keadaan pada Agustus 2006 (10,28 persen), demikian juga terhadap keadaan Februari 2006 (10,40 persen). Situasi ketenagakerjaan pada bulan Februari 2007 ditandai dengan meningkatnya jumlah pekerja di seluruh sektor. Sektor yang mengalami peningkatan dengan jumlah tertinggi dibandingkan dengan keadaan Februari 2006 adalah sektor perdagangan, industri dan jasa kemasyarakatan. Dari sisi gender, partisipasi perempuan dalam lapangan kerja meningkat signifikan. Selama Februari 2006-Februari 2007, jumlah pekerja perempuan bertambah 2,12 juta orang, terbesar di sektor pertanian dan perdagangan, sedangkan jumlah pekerja laki-laki hanya bertambah 287 ribu orang. Hampir di seluruh wilayah terjadi penurunan pengangguran, kecuali Maluku dan Papua meningkat dari 8,65 persen menjadi 8,77 persen. Namun tingkat pengangguran tertinggi masih terjadi di Jawa sebesar 10,39 persen pada Februari 2007, dan terendah di Bali dan Nusa Tenggara sebesar 5,49 persen.

Download PDF
Pada Triwulan I-2007 ITB Sebesar 100,19 dan ITK sebesar 106,93

Pada Triwulan I-2007 ITB Sebesar 100,19 dan ITK sebesar 106,93

2007-05-15

Indeks Tendensi Bisnis (ITB) pada Triwulan I-2007 sebesar 100,19 mengindikasikan kondisi bisnis pada Triwulan I-2007 relatif tidak mengalami perubahan dibandingkan Triwulan IV-2006. Nilai indeks sebesar 100,19 terjadi karena adanya kenaikan penggunaan kapasitas produksi dengan indeks sebesar 107,68, namun terjadi penurunan pendapatan usaha dengan indeks 96,00. Sementara itu jumlah jam kerja relatif tidak berubah. Dilihat dari perubahan besarannya, nilai ITB menurun 7,24 poin, dari 107,43 pada Triwulan IV-2006 menjadi 100,19 pada Triwulan I-2007, menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan pengusaha terhadap kondisi bisnis pada Triwulan I-2007 menurun. Nilai ITB Triwulan II-2007 diperkirakan sebesar 101,35. Secara umum berarti kondisi bisnis pada Triwulan II-2007 diperkirakan akan sedikit membaik dibandingkan triwulan I-2007. Membaiknya kondisi bisnis pada triwulan II-2007 disebabkan karena adanya kenaikan order dalam negeri dengan indeks sebesar 104,43 dan kenaikan harga produk kini dengan indeks sebesar 109,20. Dilihat dari perubahan besarannya, nilai perkiraan ITB Triwulan II-2007 meningkat 1,16 poin dibandingkan nilai ITB Triwulan I-2007, yang mengindikasikan tingkat kepercayaan pengusaha terhadap kondisi bisnis pada Triwulan II-2007 meningkat. Indeks Tendensi Konsumen (ITK) Triwulan I-2007 di Jabotabek sebesar 106,93 yang berarti kondisi ekonomi konsumen pada Triwulan I-2007 di Jabotabek lebih baik dibandingkan dengan kondisi triwulan sebelumnya. Peningkatan nilai ITK terjadi karena peningkatan pendapatan rumah tangga, tidak adanya pengaruh inflasi pada konsumsi sehari-hari, dan peningkatan konsumsi beberapa komoditi pokok. Peningkatan konsumsi yang tinggi terjadi pada biaya perumahan (listrik dan air), transportasi, dan pendidikan, sementara penurunan konsumsi tertinggi adalah pengeluaran untuk rekreasi. Perkiraan nilai ITK Triwulan II-2007 sebesar 97,02, berarti kondisi ekonomi konsumen pada Triwulan II-2007 di Jabotabek diperkirakan menurun dibandingkan dengan Triwulan I-2007. Penurunan kondisi ekonomi konsumen diperkirakan terjadi karena karena mayoritas responden tidak mempunyai rencana membeli barang-barang tahan lama, meskipun pendapatan rumah tangga pada Triwulan II-2007 meningkat.

Download PDF
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Pada Triwulan I Tahun 2007 Meningkat Sebesar 2,0%

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Pada Triwulan I Tahun 2007 Meningkat Sebesar 2,0%

2007-05-15

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia pada triwulan I tahun 2007 yang diukur dari kenaikan Produk Domestik Bruto (PDB) meningkat sebesar 2,0 persen (q-to-q) dibandingkan triwulan IV tahun 2006. Pertumbuhan ini terjadi pada sektor pertanian, listrik-gas-air bersih, perdagangan-hotel-restoran, keuangan-real estat-jasa perusahaan dan sektor jasa-jasa. Pertumbuhan tertinggi dihasilkan oleh sektor pertanian sebesar 16,8 persen sebagai akibat faktor musim panen pada triwulan I. PDB Indonesia pada triwulan I tahun 2007 dibandingkan triwulan yang sama tahun 2006 (y-on-y) mengalami pertumbuhan sebesar 6,0 persen. Perekonomian Indonesia yang diukur berdasarkan besaran PDB atas dasar harga berlaku pada triwulan I tahun 2007 mencapai Rp 915,9 triliun, sedangkan PDB atas dasar harga konstan 2000 adalah Rp 475,0 triliun. Pengeluaran konsumsi rumah tangga pada triwulan I tahun 2007 dibandingkan dengan triwulan IV tahun 2006 secara riil menurun sebesar minus 0,5 persen, demikian pula pengeluaran konsumsi pemerintah menurun sebesar minus 31,1 persen, pembentukan modal tetap bruto turun sebesar minus 2,5 persen, ekspor barang-jasa turun sebesar sebesar minus 0,1 persen dan komponen impor barang-jasa turun sebesar minus 1,4 persen. Seluruh komponen penggunaan pada triwulan I 2007 dibandingkan triwulan yang sama tahun 2006 (y-on-y) mengalami peningkatan, yakni: pengeluaran konsumsi rumah tangga naik sebesar 4,5 persen, pengeluaran konsumsi pemerintah sebesar 4,3 persen, pembentukan modal tetap bruto sebesar 7,5 persen, ekspor barang-jasa sebesar 8,9 persen, dan impor barang dan jasa sebesar 8,4 persen. Pulau Jawa merupakan penyumbang terbesar dalam pembentukan PDB Indonesia Triwulan I 2007 (60,2 persen). PDB Pulau Jawa didominasi secara berurutan oleh sektor industri pengolahan, perdagangan-hotel-restoran dan sektor pertanian.

Download PDF
Pada Februari 2007, NTP Naik 1,52 %, GKG Turun 5,02 %, GKP Turun 14,58 %

Pada Februari 2007, NTP Naik 1,52 %, GKG Turun 5,02 %, GKP Turun 14,58 %

2007-05-01

Pada Februari 2007, Nilai Tukar Petani (NTP) tercatat 109,93 atau naik 1,52 persen dibanding NTP Januari 2007 yang mencapai 108,29. Hal ini disebabkan karena kenaikan Indeks harga yang diterima petani sebesar 3,11 persen, lebih besar dibandingkan dengan kenaikan Indeks harga yang dibayar petani sebesar 1,57 persen. Dari 23 Provinsi yang dilaporkan pada Februari 2007, 12 Provinsi mengalami kenaikan, 1 Provinsi stabil dan 10 Provinsi mengalami penurunan. Kenaikan NTP tertinggi terjadi di Provinsi Jawa Timur, yaitu sebesar 5,75 persen karena harga produsen tembakau daun kering naik 14,81 persen, sedangkan penurunan NTP terbesar terjadi di Provinsi Bali yaitu sebesar 5,80 persen, karena harga produsen buah salak turun 15,47 persen. Pada Februari 2007, terjadi inflasi di daerah perdesaan Indonesia sebesar 1,97 persen. Inflasi perdesaan terjadi karena kenaikan indeks harga sub kelompok makanan sebesar 3,09 persen, perumahan 0,84 persen, pakaian 0,53 persen, dan sub kelompok aneka barang dan jasa naik 0,74 persen. Berdasarkan observasi sebanyak 1692 transaksi gabah di 20 provinsi, rata-rata harga gabah di tingkat petani pada April 2007 dibandingkan keadaan Maret 2007 adalah sebagai berikut: untuk kualitas Gabah Kering Giling (GKG) turun sebesar 5,02 persen; Gabah Kering Panen (GKP) turun 14,58 persen; dan gabah kualitas rendah turun sebesar 16,24 persen. Rata-rata harga gabah di tingkat penggilingan untuk kualitas GKG mencapai Rp2.784,- per kg dan untuk GKP mencapai Rp2.192,- per kg, keduanya berada di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Persentase observasi harga gabah di tingkat penggilingan yang berada di bawah HPP naik tajam, yaitu dari 0,24 persen pada Maret 2007 menjadi 41,67 persen pada April 2007. Persentase observasi gabah berkualitas rendah naik, yaitu dari 25,02 persen pada Maret 2007 menjadi 31,92 persen pada April 2007. Harga gabah terendah di tingkat petani sebesar Rp1.400,- per kg dijumpai di Kabupaten Lamongan, Provinsi Jawa Timur dan Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten (semua kualitas Rendah). Harga tertinggi sebesar Rp3.727,- per kg dijumpai di Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan dengan kualitas GKP. Upah nominal harian buruh tani pada Februari 2007 naik sebesar 0,88 persen dibanding upah Januari 2007, yaitu dari Rp 14.697,- menjadi Rp 14.826,- per hari. Secara riil mengalami penurunan sebesar 1,33 persen*). Dibanding upah Februari 2006 (year on year) upah nominal naik 10,88 persen. Upah nominal harian buruh bangunan (tukang bukan mandor) pada April 2007 naik 0,43 persen dibanding upah Maret 2007, yaitu dari Rp 35.399,- menjadi Rp 35.551,- per hari. Secara riil juga naik sebesar 0,60 persen*). Dibanding upah April 2006 (year on year), upah nominal naik 4,72 persen. Upah nominal bulanan buruh industri pada triwulan IV 2006 naik sebesar 3,08 persen dibanding upah triwulan III 2006 yaitu dari Rp 950.307,- menjadi Rp 979.610,- per bulan, secara riil juga naik 0,64 persen*). Dibanding upah triwulan IV 2005 (year on year), upah nominal naik 5,25 persen.

Download PDF
Pada Bulan Maret 2007 Jumlah Wisman Naik 15,34 %.

Pada Bulan Maret 2007 Jumlah Wisman Naik 15,34 %.

2007-05-01

Jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang datang ke Indonesia melalui 15 pintu masuk pada Maret 2007 mencapai 361,8 ribu orang, mengalami kenaikan 15,34 persen dibanding jumlah wisman Maret 2006 sebanyak 313,7 ribu orang. Demikian pula, dibanding Februari 2007, wisman Maret 2007 mengalami kenaikan sebesar 12,25 persen. Jumlah wisman ke Bali pada Maret 2007 naik cukup tajam 40,44 persen dibanding Maret 2006. Dibanding bulan sebelumnya, jumlah wisman ke Bali juga mengalami kenaikan yaitu dari 123,2 ribu orang pada Februari 2007 menjadi 124,9 ribu orang atau naik 1,37 persen. Jumlah wisman dari 15 pintu masuk selama Januari-Maret 2007, mencapai 1,00 juta orang atau meningkat 14,21 persen dibanding jumlah wisman pada periode yang sama tahun 2006 sebanyak 877,0 ribu orang. Tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang di 10 Daerah Tujuan Wisata (DTW) pada Februari 2007 mencapai rata-rata 46,08 persen, mengalami kenaikan 1,74 poin dibanding TPK Januari 2007 sebesar 44,34 persen. Begitu pula TPK hotel berbintang di Bali naik dari 44,69 persen pada Januari 2007 menjadi 48,91 persen pada Februari 2007. Rata-rata lama menginap tamu asing dan Indonesia pada hotel berbintang selama Februari 2007 adalah 2,22 hari, mengalami penurunan 0,25 hari jika dibanding Januari 2007. Jumlah penumpang kereta api bulan Maret 2007 mencapai 13,41 juta orang, yang berarti naik 22,23 persen dibanding bulan Februari 2007 dan jumlah barang yang diangkut kereta api naik 8,58 persen menjadi 1,36 juta ton. Selama Januari-Maret 2007, jumlah penumpang mencapai 38,34 juta orang atau naik 3,42 persen dan jumlah barang mencapai 4,06 juta ton atau turun 1,38 persen dibanding periode yang sama tahun 2006. Jumlah penumpang angkutan laut dalam negeri bulan Maret 2007 tercatat sebesar 463,77 ribu orang atau turun 1,58 persen dan jumlah barang yang diangkut turun 6,08 persen menjadi 13,61 juta ton dibanding bulan Februari 2007. Selama Januari-Maret 2007, jumlah penumpang mencapai 1,54 juta orang atau turun 60,12 persen dan jumlah barang mencapai 40,28 juta ton atau turun 9,81 persen dibanding periode yang sama tahun 2006. Jumlah penumpang angkutan udara domestik bulan Maret 2007 mencapai 2,33 juta orang atau naik 41,43 persen dibanding bulan Februari 2007 dan jumlah penumpang tujuan luar negeri (internasional) mencapai 515,2 ribu orang atau naik 24,99 persen. Selama Januari- Maret 2007 jumlah penumpang domestik mencapai 6,12 juta orang, turun 9,69 persen. Sebaliknya, jumlah penumpang internasional mencapai 1,42 juta orang, naik 15,76 persen dibanding periode yang sama tahun 2006.

Download PDF