Logo BPS
BPS REPUBLIK INDONESIA

Berita Statistik BPS Republik Indonesia

PDB-PPP Menempati Posisi ke Empat

PDB-PPP Menempati Posisi ke Empat

2007-08-15

Produk Domestik Bruto Indonesia pada tahun 2005 berdasarkan Purchasing Power Parity (PDB-PPP) menempati posisi ke empat di antara 23 negara kawasan Asia Pasifik di luar Jepang dan Korea Selatan. PDB-PPP Indonesia tahun 2005 tercatat sebesar HK$ 4.033 milyar atau setara dengan US$ 522,97 milyar*. Rangking pertama ditempati Republik Rakyat China (HK$ 30.711 milyar); disusul India (HK$ 13.293 milyar), dan Republik Islam Iran (HK$ 4.181 milyar). PDB per Kapita Indonesia pada tahun 2005 yang dinyatakan secara langsung dengan US$ (Kurs Rupiah terhadap US$) adalah sebesar US$ 1.320,6 akan tetapi apabila dinyatakan dalam Purchasing Power Parity (PPP), PDB per Kapita Indonesia mencapai US$ 2.389,4*. Berarti daya beli masyarakat Indonesia sesungguhnya apabila diukur dengan Purchasing Power Parity (PPP) adalah 1,8 kali lipat dibandingkan dengan melalui kurs rupiah terhadap US$ yang berlaku. Price Level Index (PLI) Indonesia berdasarkan PPP tercatat 55. Hal ini berarti tingkat harga barang dan jasa di Indonesia umumnya lebih murah 45 persen dibandingkan dengan harga-harga di Hong Kong. Dengan kata lain nilai tukar Rupiah terhadap HK$ under value sebesar 45 persen. Harga makanan di Indonesia relatif lebih murah dibandingkan dengan harga makanan di Hongkong, Singapura, Malaysia dan Thailand. Sedangkan harga pakaian di Singapura relatif lebih mahal dibandingkan dengan harga pakaian di Hong Kong, Malaysia, Thailand, dan Indonesia.

Download PDF
NTP Naik 0,15%, Harga Gabah Kualitas GKG Naik 0,98%

NTP Naik 0,15%, Harga Gabah Kualitas GKG Naik 0,98%

2007-08-01

Pada Mei 2007, Nilai Tukar Petani (NTP) tercatat 105,67 atau naik 0,15 persen dibanding NTP April 2007 yang mencapai 105,51. Hal ini disebabkan karena Indeks harga yang diterima petani naik sebesar 0,13 persen, sebaliknya Indeks harga yang dibayar petani turun sebesar 0,02 persen dibanding bulan sebelumnya. Dari 23 Provinsi yang dilaporkan pada Mei 2007, 15 Provinsi mengalami kenaikan dan 8 Provinsi mengalami penurunan. Kenaikan NTP tertinggi terjadi di Provinsi Bengkulu, yaitu sebesar 6,97 persen karena harga produsen kubis hijau naik 100,00 persen, sedangkan penurunan NTP terbesar terjadi di Provinsi Sulawesi Tengah, yaitu sebesar 3,12 persen, karena harga produsen gabah kering giling IR 36 turun 9,09 persen. Pada Mei 2007, terjadi deflasi di daerah perdesaan Indonesia sebesar 0,13 persen. Deflasi perdesaan terjadi karena penurunan indeks harga sub kelompok makanan sebesar 0,73 persen, sebaliknya sub kelompok perumahan naik sebesar 0,60 persen, pakaian naik 0,16 persen, dan sub kelompok aneka barang dan jasa naik 0,50 persen. Berdasarkan observasi sebanyak 850 transaksi gabah di 18 provinsi, rata-rata harga gabah di tingkat petani pada Juli 2007 dibandingkan keadaan Juni 2007 adalah sebagai berikut: untuk kualitas Gabah Kering Giling (GKG) naik sebesar 0,98 persen; Gabah kualitas rendah naik sebesar 0,31 persen; sebaliknya Gabah Kering Panen (GKP) turun 1,32 persen. Rata-rata harga gabah di tingkat penggilingan untuk kualitas GKG mencapai Rp2.683,- per kg, berada di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Rata-rata harga gabah untuk kualitas GKP mencapai Rp2.250,- per kg di tingkat petani dan Rp2.301,- per kg di tingkat penggilingan, keduanya berada di atas HPP. Persentase observasi harga gabah di tingkat penggilingan yang berada di bawah HPP turun, yaitu dari 14,66 persen pada Juni 2007 menjadi 8,20 persen pada Juli 2007. Persentase observasi gabah berkualitas rendah naik dari 15,15 persen pada Juni 2007 menjadi 16,82 persen pada Juli 2007. Harga gabah terendah di tingkat petani sebesar Rp1.800,- per kg dijumpai di Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat dan Kabupaten Karang Anyar, Provinsi Jawa Tengah, dengan kualitas Rendah. Harga tertinggi sebesar Rp3.727,- per kg dijumpai di Kabupaten Tanah Laut, Provinsi Kalimantan Selatan dengan kualitas GKP. Upah nominal harian buruh tani pada Mei 2007 naik sebesar 0,36 persen dibanding upah April 2007, yaitu dari Rp 14.957,- menjadi Rp 15.011,- per hari. Secara riil juga mengalami peningkatan sebesar 0,50 persen*). Dibanding upah Mei 2006 (year on year) upah nominal naik 10,21 persen. Upah nominal harian buruh bangunan (tukang bukan mandor) pada Juli 2007 naik 1,18 persen dibanding upah Juni 2007, yaitu dari Rp 35.721,- menjadi Rp 36.142,- per hari. Secara riil juga naik sebesar 0,45 persen*). Dibanding upah Juli 2006 (year on year), upah nominal naik 5,86 persen Upah nominal bulanan buruh industri pada triwulan I 2007 naik sebesar 13,21 persen dibanding upah triwulan IV 2006 yaitu dari Rp 947.904,- menjadi Rp 1.073.132,- per bulan, secara riil naik 11,09 persen*). Dibanding upah triwulan I 2006 (year on year), upah nominal naik 9,25 persen.

Download PDF
Pada Juni 2007 Jumlah Wisman Naik 13,05%

Pada Juni 2007 Jumlah Wisman Naik 13,05%

2007-08-01

Jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang datang ke Indonesia melalui 15 pintu masuk pada April 2007 mencapai 364,2 ribu orang, mengalami kenaikan 9,47 persen dibanding jumlah wisman April 2006 sebanyak 332,7 ribu orang. Dibanding Maret 2007, wisman April 2007 mengalami kenaikan tipis sebesar 0,68 persen. Jumlah wisman ke Bali pada April 2007 naik 19,45 persen dibanding April 2006. Dibanding bulan sebelumnya, jumlah wisman ke Bali juga mengalami kenaikan yaitu dari 124,9 ribu orang pada Maret 2007 menjadi 131,0 ribu orang atau naik 4,90 persen. Jumlah wisman dari 15 pintu masuk selama Januari-April 2007, mencapai 1,37 juta orang atau meningkat 12,78 persen dibanding jumlah wisman pada periode yang sama tahun 2006 sebanyak 1,21 juta orang. Tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang di 10 Daerah Tujuan Wisata (DTW) pada Maret 2007 mencapai rata-rata 46,36 persen, mengalami kenaikan 0,28 poin dibanding TPK Februari 2007 sebesar 46,08 persen. TPK hotel berbintang di Bali turun dari 48,91 persen pada Februari 2007 menjadi 45,05 persen pada Maret 2007. Rata-rata lama menginap tamu asing dan Indonesia pada hotel berbintang selama Maret 2007 adalah 2,22 hari, tidak mengalami perubahan jika dibandingkan Februari 2007. Jumlah penumpang kereta api bulan April 2007 mencapai 14,42 juta orang, yang berarti naik 7,50 persen dibanding bulan Maret 2007, sedangkan jumlah barang yang diangkut kereta api turun 9,30 persen menjadi 1,23 juta ton. Selama Januari-April 2007, jumlah penumpang mencapai 52,76 juta orang atau naik 5,55 persen, sedangkan jumlah barang mencapai 5,30 juta ton atau turun 3,78 persen dibanding periode yang sama tahun 2006. Jumlah penumpang angkutan laut dalam negeri bulan April 2007 tercatat sebesar 480,75 ribu orang atau naik 3,66 persen, sebaliknya jumlah barang yang diangkut turun 1,46 persen menjadi 13,41 juta ton dibanding bulan Maret 2007. Selama Januari-April 2007, jumlah penumpang mencapai 2,02 juta orang atau turun 58,44 persen dan jumlah barang mencapai 53,69 juta ton atau turun 12,39 persen dibanding periode yang sama tahun 2006. Jumlah penumpang angkutan udara domestik bulan April 2007 mencapai 2,36 juta orang atau naik 1,42 persen dibanding bulan Maret 2007 dan jumlah penumpang tujuan luar negeri (internasional) mencapai 505,4 ribu orang atau turun 1,90 persen. Selama Januari-April 2007 jumlah penumpang domestik mencapai 8,48 juta orang, turun 7,50 persen. Sebaliknya, jumlah penumpang internasional mencapai 1,91 juta orang, naik 15,65 persen dibanding periode yang sama tahun 2006.

Download PDF
Juni 2007 Ekspor Turun 2,98%, Impor Turun 8,57%

Juni 2007 Ekspor Turun 2,98%, Impor Turun 8,57%

2007-08-01

Nilai ekspor Indonesia Juni 2007 mencapai US$ 9,42 miliar atau mengalami penurunan sebesar 2,98 persen dibanding ekspor Mei 2007. Sementara itu bila dibanding Juni 2006 mengalami peningkatan sebesar 11,40 persen. Ekspor nonmigas Juni 2007 mencapai US$ 7,61 miliar, turun 3,96 persen dibanding Mei 2007, sedangkan dibanding ekspor Juni 2006 meningkat 14,11 persen. Secara kumulatif nilai ekspor Indonesia Januari-Juni 2007 mencapai US$ 53,62 miliar atau meningkat 14,29 persen dibanding periode yang sama tahun 2006, sementara ekspor nonmigas mencapai US$ 43,93 miliar atau meningkat 20,35 persen. Penurunan ekspor nonmigas terbesar Juni 2007 terjadi pada bijih, kerak, dan abu logam sebesar US$ 132,3 juta, sedangkan peningkatan terbesar terjadi pada lemak & minyak hewan/nabati sebesar US$ 128,8 juta. Ekspor nonmigas ke Jepang Juni 2007 mencapai angka terbesar yaitu US$ 1,35 milyar, disusul Amerika Serikat US$ 922,2 juta dan Singapura US$ 637,8 juta, dengan kontribusi ketiganya mencapai 38,26 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa ( 25 negara ) sebesar US$ 1,05 miliar. Menurut sektor, ekspor hasil pertanian periode Januari-Juni 2007 meningkat 3,45 persen dibanding periode yang sama tahun 2006, sementara ekspor hasil industri serta hasil tambang dan lainnya naik masing-masing sebesar 18,94 persen dan 35,38 persen. Nilai impor Indonesia Juni 2007 mencapai US$ 5,93 miliar atau turun 8,57 persen dibanding Mei 2007 sebesar US$ 6,49 miliar, sedangkan selama semester I 2007 nilai impor mencapai US$ 33,66 miliar atau meningkat 16,34 persen dibanding periode yang sama tahun 2006 sebesar US$ 28,93 miliar. Impor Nonmigas Juni 2007 mencapai US$ 4,31 miliar atau turun 6,33 persen dibanding impor Mei 2007, sedangkan selama semester I 2007 mencapai US$ 24,32 miliar atau meningkat sebesar 22,27 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Impor Migas Juni 2007 mencapai US$ 1,62 miliar atau turun 14,00 persen dibanding impor Mei 2007, sedangkan selama semester I 2007 mencapai US$ 9,33 miliar atau meningkat 3,29 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Selama semester I 2007 impor nonmigas terbesar terjadi pada mesin/pesawat mekanik dengan nilai US$ 4,17 miliar atau 17,15 persen dari total impor nonmigas. Negara pemasok barang impor nonmigas terbesar ditempati oleh Cina dengan nilai US$ 3,62 miliar dengan pangsa 14,89 persen, diikuti Jepang US$ 2,95 miliar (12,11 persen) dan Amerika Serikat US$ 2,21 miliar (9,07 persen). Sementara impor nonmigas dari ASEAN mencapai 22,11 persen dan Uni Eropa sebesar 14,04 persen. Menurut golongan penggunaan barang, impor barang konsumsi dan bahan baku/penolong selama semester I 2007 meningkat masing-masing sebesar 44,57 persen dan 15,07 persen dibanding periode yang sama tahun 2006. Sedangkan impor barang modal meningkat sebesar 8,34 persen.

Download PDF
Pada Bulan Juli 2007 Terjadi Inflasi 0,72 Persen

Pada Bulan Juli 2007 Terjadi Inflasi 0,72 Persen

2007-08-01

Pada bulan Juli 2007 terjadi inflasi 0,72 persen. Dari 45 kota tercatat 42 kota mengalami inflasi dan 3 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Banda Aceh 3,83 persen dan inflasi terendah di Palangkaraya 0,08 persen. Sedangkan deflasi terbesar terjadi di Ternate 1,15 persen dan deflasi terkecil di Sampit 0,03 persen. Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh kenaikan indeks pada kelompok barang dan jasa sebagai berikut : kelompok bahan makanan 1,35 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau 0,40 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas & bahan bakar 0,32 persen, kelompok sandang 0,61 persen, kelompok kesehatan 0,35 persen, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 2,89 persen, dan kelompok transpor, komunikasi & jasa keuangan 0,05 persen. Laju inflasi tahun kalender (Januari - Juli) 2007 sebesar 2,81 persen, sedangkan laju inflasi “year on year” (Juli 2007 terhadap Juli 2006) sebesar 6,06 persen. Inflasi komponen inti pada bulan Juli 2007 sebesar 0,71 persen, laju inflasi komponen inti tahun kalender (Januari - Juli) 2007 sebesar 2,83 persen, sedangkan laju inflasi komponen inti “year on year” (Juli 2007 terhadap Juli 2006) sebesar 5,75 persen.

Download PDF
Bulan Maret 2007 Jumlah Penduduk Miskin Indonesia 37,17 Juta

Bulan Maret 2007 Jumlah Penduduk Miskin Indonesia 37,17 Juta

2007-07-02

Jumlah penduduk miskin (penduduk yang berada dibawah Garis Kemiskinan) di Indonesia pada bulan Maret 2007 sebesar 37,17 juta (16,58 persen). Dibandingkan dengan penduduk miskin pada bulan Maret 2006 yang berjumlah 39,30 juta (17,75 persen), berarti jumlah penduduk miskin turun sebesar 2,13 juta. Selama periode Maret 2006-Maret 2007, penduduk miskin di daerah perdesaan berkurang 1,20 juta, sementara di daerah perkotaan berkurang 0,93 juta orang Persentase penduduk miskin antara daerah perkotaan dan perdesaan tidak banyak berubah. Pada bulan Maret 2007, sebagian besar (63,52 persen) penduduk miskin berada di daerah perdesaan. Peranan komoditi makanan terhadap Garis Kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan (perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan). Pada bulan Maret 2007, sumbangan Garis Kemiskinan Makanan terhadap Garis Kemiskinan sebesar 74,38 persen. Komoditi makanan yang berpengaruh besar terhadap nilai Garis Kemiskinan adalah beras, gula pasir, minyak goreng, telur dan mie instan. Untuk komoditi bukan makanan adalah biaya perumahan. Khusus untuk daerah perkotaan, biaya listrik, angkutan dan minyak tanah mempunyai pengaruh yang cukup besar, sementara untuk daerah perdesaan pengaruhnya relatif kecil (kurang dari 2 persen). Pada periode Maret 2006-Maret 2007, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) menunjukkan kecenderungan menurun. Ini mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin cenderung makin mendekati garis kemiskinan dan ketimpangan pengeluaran penduduk miskin juga semakin menyempit.

Download PDF
ARAM II Produksi Padi Tahun 2007 Sebesar 55,13 Juta Ton GKG.

ARAM II Produksi Padi Tahun 2007 Sebesar 55,13 Juta Ton GKG.

2007-07-02

Angka Tetap (ATAP) produksi padi tahun 2006 sebesar 54,45 juta ton Gabah Kering Giling (GKG). Dibandingkan produksi tahun 2005, terdapat peningkatan sebesar 303,84 ribu ton (0,56 persen). Kenaikan produksi karena adanya peningkatan produktivitas sebesar 0,46 kuintal/hektar (1,01 persen), meskipun luas panen mengalami penurunan seluas 52,63 ribu hektar (0,44 persen). Angka Ramalan II (ARAM II) produksi padi tahun 2007 sebesar 55,13 juta ton GKG. Dibandingkan produksi tahun 2006, terjadi peningkatan sebesar 672,49 juta ton (1,23 persen). Kenaikan produksi diperkirakan karena peningkatan produktivitas sebesar 0,69 kuintal/hektar (1,49 persen), sementara luas panen mengalami penurunan seluas 28,59 ribu hektar (0,24 persen). Peningkatan produksi padi tahun 2007 terjadi di Luar Jawa sebesar 898,93 ribu ton (3,67 persen). Sedangkan di Jawa diperkirakan menurun sebanyak 226,44 ribu ton (0,76 persen). Perkiraan kenaikan produksi di Luar Jawa terdapat di beberapa propinsi antara lain di Propinsi Sulawesi Selatan, NAD, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Bengkulu dan Kalimantan Selatan. Sedangkan penurunan produksi di Jawa terdapat di Propinsi Jawa Tengah, Jawa Timur , D.I.Y dan Banten. Angka Tetap (ATAP) produksi jagung tahun 2006 sebesar 11,61 juta ton pipilan kering. Dibandingkan produksi tahun 2005, terdapat penurunan sebesar 914,43 ribu ton (7,30 persen). Penurunan produksi karena luas panen mengalami penurunan seluas 280,18 ribu hektar (7,73 persen), meskipun produktivitas meningkat sebesar 0,16 kuintal/hektar (0,46 persen). Angka Ramalan II (ARAM II) produksi jagung tahun 2007 sebesar 12,45 juta ton pipilan kering. Dibandingkan produksi tahun 2006, mengalami peningkatan sebesar 836,48 ribu ton (7,21 persen). Kenaikan produksi diperkirakan karena peningkatan luas panen seluas 85,90 ribu hektar (2,57 persen) dan juga peningkatan produktivitas sebesar 1,57 kuintal/hektar (4,52 persen). Di Jawa, perkiraan kenaikan produksi jagung tahun 2007 sebesar 271,18 ribu ton (4,05 persen) terdapat di Propinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, D.I.Y dan Jawa Barat. Di Luar Jawa, peningkatan produksi sebanyak 565,31 ribu ton (11,49 persen) terdapat di beberapa propinsi, antara lain di Propinsi Gorontalo, Sulawesi Utara, Lampung, Sulawesi Selatan, dan Sumatera Utara. Angka Tetap (ATAP) produksi kedelai tahun 2006 sebesar 747,61 ribu ton biji kering. Dibandingkan produksi tahun 2005, terjadi penurunan sebanyak 60,74 ribu ton (7,51 persen). Penurunan produksi karena adanya penurunan luas panen seluas 41,01 ribu hektar (6,60 persen) dan juga penurunan produktivitas sebesar 0,13 kuintal/hektar (1,00 persen). Angka Ramalan II (ARAM II) produksi kedelai tahun 2007 sebesar 664,44 ribu ton biji kering. Dibandingkan produksi tahun 2006, terjadi penurunan sebesar 83,17 ribu ton (11,13 persen). Penurunan produksi karena adanya penurunan luas panen seluas 78,43 ribu hektar (13,51 persen), meskipun produktivitas meningkat sebesar 0,35 kuintal/hektar (2,72 persen). Penurunan produksi kedelai tahun 2007, di Jawa diperkirakan sebanyak 34,62 ribu ton (6,68 persen) terjadi di Propinsi Jawa Timur, D.I.Y dan Banten. Di Luar Jawa, penurunan produksi sebanyak 48,56 ribu ton (21,19 persen) terdapat dibeberapa propinsi, antara lain di Propinsi Nusa Tenggara Barat, Bali, Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, dan Riau.

Download PDF
Pada April 2007, NTP Turun 3,22%. Rata-Rata Harga Gabah Kualitas GKG Naik 11,93%; Upah Nominal Harian Buruh Tani Pada April 2007 Naik 0,17%

Pada April 2007, NTP Turun 3,22%. Rata-Rata Harga Gabah Kualitas GKG Naik 11,93%; Upah Nominal Harian Buruh Tani Pada April 2007 Naik 0,17%

2007-07-02

Pada April 2007, Nilai Tukar Petani (NTP) tercatat 105,51 atau turun 3,22 persen dibanding NTP Maret 2007 yang mencapai 109,01. Hal ini disebabkan karena penurunan Indeks harga yang diterima petani sebesar 3,91 persen, lebih besar dibandingkan dengan penurunan Indeks harga yang dibayar petani sebesar 0,72 persen. Dari 23 Provinsi yang dilaporkan pada April 2007, 9 Provinsi mengalami kenaikan, 1 propinsi stabil dan 13 Provinsi mengalami penurunan. Kenaikan NTP tertinggi terjadi di Provinsi Riau, yaitu sebesar 7,41 persen karena harga produsen karet getah tebal naik 8,26 persen, sedangkan penurunan NTP terbesar terjadi di Provinsi Jawa Barat, yaitu sebesar 8,66 persen, karena harga produsen gabah kering giling IR64 turun 9,08 persen. Pada April 2007, terjadi deflasi di daerah perdesaan Indonesia sebesar 1,25 persen. Deflasi perdesaan terjadi karena penurunan indeks harga sub kelompok makanan sebesar 2,73 persen, sebaliknya sub kelompok perumahan naik sebesar 0,52 persen, pakaian naik 0,23 persen, dan sub kelompok aneka barang dan jasa naik 0,23 persen. Berdasarkan observasi sebanyak 627 transaksi gabah di 15 provinsi, rata-rata harga gabah di tingkat petani pada Juni 2007 dibandingkan keadaan Mei 2007 adalah sebagai berikut: untuk kualitas Gabah Kering Giling (GKG) naik sebesar 11,93 persen; Gabah Kering Panen (GKP) naik 4,11 persen; dan gabah kualitas rendah naik sebesar 4,51 persen. Rata-rata harga gabah di tingkat penggilingan untuk kualitas GKG mencapai Rp2.657,- per kg, berada di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Rata-rata harga gabah untuk kualitas GKP mencapai Rp2.280,- per kg di tingkat petani dan Rp2.337,- per kg di tingkat penggilingan, keduanya berada di atas HPP. Persentase observasi harga gabah di tingkat penggilingan yang berada di bawah HPP turun, yaitu dari 28,02 persen pada Mei 2007 menjadi 14,66 persen pada Juni 2007. Persentase observasi gabah berkualitas rendah turun dari 22,37 persen pada Mei 2007 menjadi 15,15 persen pada Juni 2007. Harga gabah terendah di tingkat petani sebesar Rp1.700,- per kg dijumpai di Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat dengan kualitas Rendah. Harga tertinggi sebesar Rp3.727,- per kg dijumpai di Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan dengan kualitas GKP. Upah nominal harian buruh tani pada April 2007 naik sebesar 0,17 persen dibanding upah Maret 2007, yaitu dari Rp 14.932,- menjadi Rp 14.957,- per hari. Secara riil juga mengalami peningkatan sebesar 1,49 persen*). Dibanding upah April 2006 (year on year) upah nominal naik 9,80 persen. Upah nominal harian buruh bangunan (tukang bukan mandor) pada Juni 2007 naik 0,32 persen dibanding upah Mei 2007, yaitu dari Rp 35.608,- menjadi Rp 35.721,- per hari. Secara riil juga naik sebesar 0,09 persen*). Dibanding upah Juni 2006 (year on year), upah nominal naik 4,63 persen Upah nominal bulanan buruh industri pada triwulan IV 2006 turun sebesar 0,41 persen dibanding upah triwulan III 2006 yaitu dari Rp 954.278,- menjadi Rp 950.380,- per bulan, secara riil turun 2,77 persen*). Dibanding upah triwulan IV 2005 (year on year), upah nominal naik 2,11 persen.

Download PDF
Jumlah Wisman Naik 9,27 %, Penumpang KA Naik 5,67 %, Penumpang Angkutan Laut DN Turun 0,31 %, Penumpang Angkutan Udara DN Naik 7,68 %

Jumlah Wisman Naik 9,27 %, Penumpang KA Naik 5,67 %, Penumpang Angkutan Laut DN Turun 0,31 %, Penumpang Angkutan Udara DN Naik 7,68 %

2007-07-02

Jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang datang ke Indonesia melalui 15 pintu masuk pada Mei 2007 mencapai 366,1 ribu orang, mengalami kenaikan 9,27 persen dibanding jumlah wisman Mei 2006 sebanyak 335,1 ribu orang. Dibanding April 2007, wisman Mei 2007 mengalami kenaikan tipis sebesar 0,53 persen. Jumlah wisman ke Bali pada Mei 2007 naik 25,62 persen dibanding Mei 2006. Dibanding bulan sebelumnya, jumlah wisman ke Bali juga mengalami kenaikan yaitu dari 131,0 ribu orang pada April 2007 menjadi 135,3 ribu orang atau naik 3,23 persen. Jumlah wisman dari 15 pintu masuk selama Januari-Meil 2007, mencapai 1,73 juta orang atau meningkat 12,02 persen dibanding jumlah wisman pada periode yang sama tahun 2006 sebanyak 1,55 juta orang. Tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang di 10 Daerah Tujuan Wisata (DTW) pada April 2007 mencapai rata-rata 46,63 persen, mengalami kenaikan 0,27 poin dibanding TPK Maret 2007 sebesar 46,36 persen. TPK hotel berbintang di Bali naik dari 45,05 persen pada Maret 2007 menjadi 46,60 persen pada April 2007. Rata-rata lama menginap tamu asing dan Indonesia pada hotel berbintang selama April 2007 adalah 2,14 hari, mengalami penurunan 0,08 hari jika dibandingkan Maret 2007. Jumlah penumpang kereta api bulan Mei 2007 mencapai 15,23 juta orang, yang berarti naik 5,67 persen dibanding bulan April 2007, dan jumlah barang yang diangkut kereta api naik 20,47 persen menjadi 1,48 juta ton. Selama Januari-Mei 2007, jumlah penumpang mencapai 67,99 juta orang atau naik 6,97 persen, sebaliknya jumlah barang mencapai 6,78 juta ton atau turun 1,55 persen dibanding periode yang sama tahun 2006. Jumlah penumpang angkutan laut dalam negeri bulan Mei 2007 tercatat sebesar 479,26 ribu orang atau turun 0,31 persen, sebaliknya jumlah barang yang diangkut naik 5,65 persen menjadi 14,17 juta ton dibanding bulan April 2007. Selama Januari-Mei 2007, jumlah penumpang mencapai 2,50 juta orang atau naik 20,96 persen dan jumlah barang mencapai 67,86 juta ton atau naik 63,90 persen dibanding periode yang sama tahun 2006. Jumlah penumpang angkutan udara domestik bulan Mei 2007 mencapai 2,54 juta orang atau naik 7,68 persen dibanding bulan April 2007 dan jumlah penumpang tujuan luar negeri (internasional) mencapai 525,8 ribu orang atau naik 4,04 persen. Selama Januari-Mei 2007 jumlah penumpang domestik mencapai 11,02 juta orang, turun 4,67 persen. Sebaliknya, jumlah penumpang internasional mencapai 2,45 juta orang, naik 15,86 persen dibanding periode yang sama tahun 2006.

Download PDF
Nilai Ekspor Indonesia Mei 2007 Naik 9,71%, Impor Naik 14,92%

Nilai Ekspor Indonesia Mei 2007 Naik 9,71%, Impor Naik 14,92%

2007-07-02

Nilai ekspor Indonesia Mei 2007 mencapai US$ 9,71 miliar atau mengalami peningkatan sebesar 9,71 persen dibanding ekspor April 2007. Sementara itu bila dibanding Mei 2006 mengalami peningkatan sebesar 15,98 persen. Ekspor nonmigas Mei 2007 mencapai US$ 7,93 miliar, naik 7,77 persen dibanding April 2007, sedangkan dibanding ekspor Mei 2006 meningkat 20,46 persen. Secara kumulatif nilai ekspor Indonesia Januari-Mei 2007 mencapai US$ 44,14 miliar atau meningkat 14,75 persen dibanding periode yang sama tahun 2006, sementara ekspor nonmigas mencapai US$ 36,30 miliar atau meningkat 21,68 persen. Peningkatan ekspor nonmigas terbesar Mei 2007 terjadi pada bijih, kerak dan abu logam sebesar US$ 143,9 juta, sedangkan penurunan terbesar terjadi pada bahan bakar mineral sebesar US$ 105,6 juta. Ekspor nonmigas ke Jepang Mei 2007 mencapai angka terbesar yaitu US$ 1,46 milyar, disusul Amerika Serikat US$ 958,4 juta dan Singapura US$ 882,8 juta, dengan kontribusi ketiganya mencapai 41,60 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa ( 25 negara ) sebesar US$ 1,08 miliar. Menurut sektor, ekspor hasil pertanian periode Januari-Mei 2007 meningkat 5,66 persen dibanding periode yang sama tahun 2006, sementara ekspor hasil industri serta hasil tambang dan lainnya naik masing-masing sebesar 19,46 persen dan 41,58 persen. Nilai impor Indonesia Mei 2007 mencapai US$ 6,49 miliar atau meningkat 14,92 persen dibanding April 2007 sebesar US$ 5,65 miliar, sedangkan selama Januari-Mei 2007 nilai impor mencapai US$ 27,73 miliar atau meningkat 19,49 persen dibanding periode yang sama tahun 2006 sebesar US$ 23,20 miliar. Impor Nonmigas Mei 2007 mencapai US$ 4,60 miliar atau meningkat 14,20 persen dibanding impor April 2007, sedangkan selama Januari-Mei 2007 mencapai US$ 20,02 miliar atau meningkat sebesar 22,45 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Impor Migas Mei 2007 mencapai US$ 1,89 miliar atau meningkat 16,70 persen dibanding impor April 2007, sedangkan selama Januari-Mei 2007 mencapai US$ 7,70 miliar atau meningkat 12,43 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Selama Januari-Mei 2007 impor nonmigas terbesar terjadi pada mesin/pesawat mekanik dengan nilai US$ 3,45 miliar atau 17,21 persen dari total impor nonmigas. Negara pemasok barang impor nonmigas terbesar ditempati oleh Cina dengan nilai US$ 2,93 miliar dengan pangsa 14,64 persen, diikuti Jepang US$ 2,46 miliar (12,29 persen) dan Amerika Serikat US$ 1,86 miliar (9,30 persen). Sementara impor nonmigas dari ASEAN mencapai 22,51 persen dan Uni Eropa sebesar 13,62 persen. Menurut golongan penggunaan barang, impor barang konsumsi dan bahan baku/penolong selama Januari-Mei 2007 meningkat masing-masing sebesar 49,08 persen dan 18,80 persen dibanding periode yang sama tahun 2006. Sedangkan impor barang modal meningkat sebesar 7,69 persen.

Download PDF