Logo BPS
BPS REPUBLIK INDONESIA

Berita Statistik BPS Republik Indonesia

Nilai Ekspor Indonesia  Oktober 2009 Naik 20,72 Persen, Nilai Impor Naik 11,16 Persen  Dibanding Bulan Sebelumnya.

Nilai Ekspor Indonesia Oktober 2009 Naik 20,72 Persen, Nilai Impor Naik 11,16 Persen Dibanding Bulan Sebelumnya.

2009-12-01

Nilai ekspor Indonesia Oktober 2009 mencapai US$11,88 miliar atau mengalami peningkatan sebesar 20,72 persen dibanding ekspor September 2009. Sementara bila dibanding Oktober 2008 juga mengalami peningkatan sebesar 10,12 persen. Ekspor nonmigas Oktober 2009 mencapai US$10,16 miliar, naik 25,54 persen dibanding September 2009, sedangkan dibanding ekspor Oktober 2008 meningkat 14,10 persen. Secara kumulatif nilai ekspor Indonesia Januari-Oktober 2009 mencapai US$92,03 miliar atau menurun 22,31 persen dibanding periode yang sama tahun 2008, sementara ekspor nonmigas mencapai US$78,24 miliar atau menurun 15,13 persen. Peningkatan ekspor nonmigas terbesar Oktober 2009 terjadi pada mesin/peralatan listrik sebesar US$209,4 juta, sedangkan penurunan terbesar terjadi pada bijih, kerak, dan abu logam sebesar US$131,5 juta. Ekspor nonmigas ke Jepang Oktober 2009 mencapai angka terbesar yaitu US$1,70 miliar, disusul Amerika Serikat US$976,1 juta dan Cina US$867,4 juta, dengan kontribusi ketiganya mencapai 34,89 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa ( 27 negara ) sebesar US$1,27 miliar. Menurut sektor, ekspor hasil industri periode Januari-Oktober 2009 turun sebesar 22,37 persen dibanding periode yang sama tahun 2008, demikian juga ekspor hasil pertanian 7,39 persen, sebaliknya ekspor hasil tambang dan lainnya naik sebesar 27,04 persen. Nilai impor Indonesia Oktober 2009 mencapai US$9,47 miliar atau meningkat 11,16 persen dibanding September 2009 yang besarnya US$8,52 miliar, sedangkan selama Januari-Oktober 2009 nilai impor mencapai US$77,75 miliar atau menurun 30,84 persen dibanding periode yang sama tahun 2008. Impor nonmigas Oktober 2009 mencapai US$7,55 miliar atau meningkat 22,87 persen dibanding impor September 2009, sedangkan selama Januari-Oktober 2009 mencapai US$62,70 miliar atau menurun 25,57 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Impor migas Oktober 2009 mencapai US$1,92 miliar atau menurun 19,20 persen dibanding impor September 2009, sedangkan selama Januari-Oktober 2009 mencapai US$15,05 miliar atau menurun 46,58 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Nilai impor nonmigas terbesar Oktober 2009 masih sama seperti September 2009 yaitu golongan barang mesin/pesawat mekanik dengan nilai US$1,44 miliar, yang mengalami peningkatan sebesar 26,16 persen dibanding bulan sebelumnya. Negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari-Oktober 2009 masih ditempati oleh Cina dengan nilai US$10,76 miliar dengan pangsa 17,16 persen, diikuti Jepang US$7,90 miliar (12,60 persen) dan Singapura US$7,67 miliar (12,24 persen). Sementara impor nonmigas dari ASEAN mencapai 23,54 persen dan Uni Eropa sebesar 11,19 persen. Impor menurut golongan penggunaan barang selama Januari-Oktober 2009 dibanding periode yang sama tahun sebelumnya mengalami penurunan untuk semua golongan, yaitu impor barang konsumsi sebesar 24,99 persen, bahan baku/penolong sebesar 36,33 persen, dan barang modal sebesar 5,49 persen.

Download PDF
Pada Bulan November  2009 Terjadi Deflasi Sebesar 0,03 Persen.

Pada Bulan November 2009 Terjadi Deflasi Sebesar 0,03 Persen.

2009-12-01

Pada bulan November 2009 terjadi deflasi sebesar 0,03 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 116,65. Dari 66 kota, tercatat 26 kota mengalami deflasi dan 40 kota mengalami inflasi. Deflasi tertinggi terjadi di Singkawang 1,41 persen dengan IHK 116,39 dan terendah terjadi di Sukabumi 0,01 persen dengan IHK 118,00. Sedangkan inflasi tertinggi terjadi di Manado 1,27 persen dengan IHK 117,42 dan terendah terjadi di Cirebon dan Cilegon masing-masing 0,01 persen dengan IHK masing-masing 121,40 dan 118,76. Deflasi terjadi karena adanya penurunan harga yang ditunjukkan oleh penurunan indeks pada kelompok bahan makanan 0,82 persen dan kelompok transpor, komunikasi & jasa keuangan 0,08 persen. Sedangkan kelompok yang mengalami kenaikan indeks adalah: kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau 0,26 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar 0,15 persen; kelompok sandang 0,98 persen; kelompok kesehatan 0,19 persen dan kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,13 persen. Laju inflasi tahun kalender (Januari-November) 2009 sebesar 2,45 persen, sedangkan laju inflasi year on year (November 2009 terhadap November 2008) sebesar 2,41 persen. Komponen inti pada bulan November 2009 mengalami inflasi sebesar 0,18 persen, laju inflasi komponen inti tahun kalender (Januari-November) 2009 sebesar 3,86 persen, sedangkan laju inflasi komponen inti year on year (November 2009 terhadap November 2008) sebesar 4,29 persen.

Download PDF
Indeks Tendensi Bisnis (ITB) pada Triwulan III-2009 sebesar 112,86. Indeks Tendensi Konsumen (ITK) Triwulan III-2009 di Jabodetabek sebesar 107,79

Indeks Tendensi Bisnis (ITB) pada Triwulan III-2009 sebesar 112,86. Indeks Tendensi Konsumen (ITK) Triwulan III-2009 di Jabodetabek sebesar 107,79

2009-11-10

Kondisi Bisnis Triwulan III-2009 Indeks Tendensi Bisnis (ITB) pada Triwulan III-2009 sebesar 112,86, mengindikasikan kondisi bisnis pada triwulan tersebut secara umum meningkat dibandingkan pada Triwulan II-2009 (nilai ITB sebesar 110,43). Semua sektor ekonomi mengalami peningkatan nilai indeks. Sektor Transportasi dan Telekomunikasi mengalami peningkatan bisnis tertinggi dengan nilai indeks sebesar 121,24 sedangkan Sektor Pertambangan dan Penggalian mengalami peningkatan bisnis terendah dengan nilai indeks sebesar 103,54. Peningkatan kondisi bisnis terjadi karena adanya peningkatan pendapatan usaha, kapasitas produksi dan rata-rata jam kerja. Sektor Transportasi dan Telekomunikasi mengalami peningkatan pendapatan usaha terbesar, sedangkan Sektor Pertambangan dan Penggalian mengalami peningkatan pendapatan usaha terendah. Prospek Bisnis Triwulan IV-2009 Nilai ITB Triwulan IV-2009 diperkirakan sebesar 109,58, berarti secara umum kondisi bisnis pada triwulan tersebut diperkirakan akan meningkat, namun peningkatannya lebih lambat dibandingkan Triwulan III-2009. Semua sektor ekonomi pada Triwulan IV-2009 diperkirakan mengalami peningkatan nilai indeks, kecuali sektor Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan yang diperkirakan mengalami penurunan. Kondisi Ekonomi Konsumen Triwulan III-2009 Indeks Tendensi Konsumen (ITK) Triwulan III-2009 di Jabodetabek sebesar 107,79, artinya kondisi ekonomi konsumen pada Triwulan III-2009 meningkat bila dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (ITK sebesar 106,42). Kondisi ekonomi konsumen membaik karena adanya peningkatan pendapatan rumah tangga; rendahnya pengaruh inflasi terhadap konsumsi makanan sehari-hari; dan meningkatnya konsumsi beberapa komoditi makanan dan bukan makanan seperti biaya perumahan (listrik, telepon dan air), pendidikan, dan transportasi. Kondisi Ekonomi Konsumen Triwulan IV-2009 Nilai ITK di Jabodetabek pada Triwulan IV-2009 diperkirakan 105,73, artinya kondisi ekonomi konsumen pada Triwulan IV-2009 diprediksi akan meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya. Perbaikan kondisi ekonomi konsumen pada Triwulan IV-2009 diperkirakan terjadi karena adanya peningkatan pendapatan, meskipun rencana pembelian barang-barang tahan lama diperkirakan menurun.

Download PDF
Produk Domestik Bruto Indonesia pada Triwulan III-2009 meningkat sebesar 3,9 persen

Produk Domestik Bruto Indonesia pada Triwulan III-2009 meningkat sebesar 3,9 persen

2009-11-10

Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada Triwulan III-2009 meningkat sebesar 3,9 persen terhadap Triwulan II-2009 (q-to-q). Peningkatan terjadi hampir pada semua sektor ekonomi dengan pertumbuhan tertinggi di Sektor Pertanian 7,3 persen dan terendah di Sektor Jasa-jasa yaitu minus 0,3 persen. Bila dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun 2008 (y-on-y), PDB Indonesia Triwulan III-2009 ini tumbuh sebesar 4,2 persen, dimana hampir semua sektor tumbuh positif dan yang tertinggi di Sektor Pengangkutan dan Komunikasi 18,2 persen, sedangkan Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran tumbuh minus 0,6 persen. Secara kumulatif, pertumbuhan PDB Indonesia hingga Triwulan III-2009 dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2008 (c-to-c) tumbuh sebesar 4,2 persen. Besaran PDB Indonesia atas dasar harga berlaku pada Triwulan III-2009 Rp1.452,5 triliun sehingga kumulatif Triwulan ke III-2009 mencapai Rp4.131,1 triliun. Dari sisi penggunaan, pertumbuhan PDB Triwulan III-2009 terhadap triwulan sebelumnya didorong oleh kenaikan konsumsi rumah tangga sebesar 1,8 persen, pembentukan modal tetap bruto (PMTB) sebesar 6,6 persen, ekspor sebesar 8,5 persen, dan impor 8,3 persen. Sementara konsumsi pemerintah pada Triwulan III-2009 tumbuh minus 0,5 persen dibanding triwulan sebelumnya. Pertumbuhan PDB penggunaan Triwulan III-2009 bila dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun 2008 (4,2 persen) ditopang oleh pertumbuhan konsumsi pemerintah 10,2 persen, konsumsi rumah tangga 4,7 persen, dan PMTB sebesar 4,0 persen. Sedangkan ekspor tumbuh minus 8,2 persen dan impor juga tumbuh minus 18,3 persen. Struktur perekonomian Indonesia secara spasial pada Triwulan III 2009 masih didominasi oleh kelompok provinsi di Pulau Jawa yang memberikan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto sebesar 57,8 persen, kemudian diikuti oleh Pulau Sumatera sebesar 23,3 persen, Pulau Kalimantan 9,5 persen, dan Pulau Sulawesi 4,5 persen dan sisanya 4,9 persen di pulau-pulau lainnya.

Download PDF
Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB)  September 2009 Turun 0,38 Persen Dibanding Bulan Sebelumnya.

Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) September 2009 Turun 0,38 Persen Dibanding Bulan Sebelumnya.

2009-11-02

Pada bulan September 2009 Indeks harga grosir/agen atau Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Umum turun 0,38 persen dibanding bulan sebelumnya. Penurunan IHPB terbesar terjadi pada kelompok barang Impor sebesar 2,87 persen, utamanya barang-barang hasil kilang minyak, dan minyak bumi, yang memberi andil negatif masing-masing sebesar 0,20, dan 0,10 persen. Pada bulan ini IHPB kelompok barang ekspor turun 2,47 persen, sedangkan Sektor Pertanian, Pertambangan & Penggalian dan Industri naik masing-masing sebesar 2,30 persen, 0,59 persen, dan 0,39 persen. Selama September 2009, komoditas yang harganya turun antara lain: minyak bumi ekspor (10,51%), barang-barang hasil kilang minyak impor (8,24%), minyak bumi impor (7,46%) batubara ekspor (2,80%), dan minyak kelapa sawit ekspor (3,12%). Sedangkan yang mengalami kenaikan harga antara lain: karet (7,90%), gula pasir (7,88%), ikan darat (3,94%), gas alam cair ekspor (3,43%), daging sapi (1,86%), dan aspal (1,12%). IHPB Bahan Bangunan/Konstruksi pada September 2009 naik 0,19 persen terhadap bulan sebelumnya, antara lain disebabkan kenaikan harga aspal (1,12%), barang-barang dari karet (0,81%), barang galian segala jenis (0,33%), barang-barang dari besi dan baja dasar (0,30%), dan barang-barang logam lainnya (0,19%). Sedangkan yang mengalami penurunan harga antara lain: barang-barang hasil kilang minyak lainnya (0,22%).

Download PDF
Produksi Padi, Jagung dan Kedelai (Angka Ramalan III 2009)

Produksi Padi, Jagung dan Kedelai (Angka Ramalan III 2009)

2009-11-02

PADI Angka Ramalan III (ARAM III) produksi padi tahun 2009 diperkirakan sebesar 63,84 juta ton Gabah Kering Giling (GKG). Dibandingkan produksi tahun 2008, terjadi peningkatan sebanyak 3,51 juta ton (5,83 persen). Kenaikan produksi diperkirakan terjadi karena peningkatan luas panen seluas 515,31 ribu hektar (4,18 persen) dan produktivitas sebesar 0,77 kuintal/hektar (1,57 persen). Perkiraan kenaikan produksi padi tahun 2009 yang relatif besar terjadi di Provinsi Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Lampung, dan Sulawesi Selatan. Sedangkan penurunan produksi diperkirakan terjadi antara lain di Provinsi Kalimantan Barat, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tengah. JAGUNG Angka Ramalan III (ARAM III) produksi jagung tahun 2009 diperkirakan sebesar 17,66 juta ton pipilan kering. Dibandingkan produksi tahun 2008, terjadi peningkatan sebesar 1,34 juta ton (8,22 persen). Kenaikan produksi diperkirakan terjadi karena peningkatan luas panen seluas 192,42 ribu hektar (4,81 persen) dan produktivitas sebesar 1,32 kuintal/hektar (3,24 persen). Perkiraan kenaikan produksi jagung tahun 2009 yang relatif besar terjadi di Provinsi Jawa Tengah, Lampung, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, Jawa Barat, dan Nusa Tenggara Barat. Sementara penurunan produksi diperkirakan terjadi antara lain di Provinsi Gorontalo, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tenggara, Kalimantan Barat, dan Bengkulu. KEDELAI Angka Ramalan III (ARAM III) produksi kedelai tahun 2009 diperkirakan sebesar 966,47 ribu ton biji kering. Dibandingkan produksi tahun 2008, terjadi kenaikan sebesar 190,76 ribu ton (24,59 persen). Kenaikan produksi tahun 2009 diperkirakan terjadi karena naiknya luas panen seluas 137,24 ribu hektar (23,22 persen) dan produktivitas sebesar 0,14 kuintal/hektar (1,07 persen). Perkiraan kenaikan produksi kedelai tahun 2009 yang relatif besar terjadi di Provinsi Jawa Timur, Nanggroe Aceh Darussalam, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Banten, dan Lampung. Sementara penurunan produksi diperkirakan terjadi antara lain di Provinsi Maluku Utara dan Papua Barat.

Download PDF
Perkembangan Nilai Tukar Petani, Harga Produsen Gabah dan Upah Buruh September 2009

Perkembangan Nilai Tukar Petani, Harga Produsen Gabah dan Upah Buruh September 2009

2009-11-02

Pada September 2009, Nilai Tukar Petani (NTP) nasional sebesar 100,90, atau naik 0,66 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Nilai Tukar Petani Tanaman Pangan (NTPP) tercatat sebesar 95,57; Nilai Tukar Petani Hortikultura (NTPH) 105,79; Nilai Tukar Petani Tanaman Perkebunan Rakyat (NTPR) 105,31; Nilai Tukar Petani Peternakan (NTPT) 105,93; dan untuk Nilai Tukar Nelayan (NTN) 106,53. Kenaikan NTP dipicu oleh kenaikan subsektor hortikultura terutama pada kelompok sayur-sayuran dan subsektor peternakan terutama pada kelompok unggas. Dari 32 provinsi (tanpa DKI) pada September 2009, NTP 24 provinsi naik, sedangkan 8 provinsi turun. Kenaikan NTP tertinggi terjadi di Provinsi Kalimantan Selatan (1,60 persen), terutama disebabkan harga produsen karet yang naik 4,49 persen. Penurunan NTP terbesar terjadi di Provinsi Maluku (1,14 persen), terutama disebabkan harga produsen ikan kembung yang turun 3,64 persen. Pada September 2009, terjadi inflasi di daerah perdesaan di Indonesia sebesar 1,23 persen. Inflasi yang cukup besar ini terjadi karena bertepatan dengan bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri, di mana meningkatnya konsumsi masyarakat menyebabkan kenaikan indeks harga di seluruh subkelompok, yaitu subkelompok bahan makanan, makanan jadi, perumahan, sandang, kesehatan, pendidikan, rekreasi dan olah raga juga transportasi dan komunikasi, yang masing-masing naik sebesar 1,46 persen; 1,69 persen; 0,71 persen; 1,60 persen; 0,36; 0.13 persen dan 0,41 persen.

Download PDF
Perkembangan Pariwisata dan Transportasi Nasional September 2009

Perkembangan Pariwisata dan Transportasi Nasional September 2009

2009-11-02

Jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang datang ke Indonesia pada September 2009 mencapai 493,8 ribu orang atau turun 1,44 persen dibanding jumlah wisman September 2008 sebanyak 501,0 ribu orang. Begitu pula jika dibanding Agustus 2009, jumlah wisman September 2009 turun 12,88 persen. Jumlah wisman yang datang melalui 11 pintu masuk utama pada September 2009 naik 0,50 persen dibanding bulan yang sama tahun sebelumnya, yaitu dari 410,8 ribu orang menjadi 412,8 ribu orang. Jika dibanding Agustus 2009, wisman yang datang melalui 11 pintu masuk turun 14,48 persen. Jumlah wisman ke Bali melalui bandara Ngurah Rai pada September 2009 naik 15,32 persen dibanding September 2008. Jika dibanding Agustus 2009, jumlah wisman ke Bali mengalami penurunan sebesar 6,00 persen, yaitu dari 232,2 ribu orang menjadi 218,2 ribu orang pada September 2009. Secara kumulatif (Januari-September) 2009, jumlah wisman mencapai 4,62 juta orang atau naik 1,07 persen dibanding jumlah wisman pada periode yang sama tahun 2008 sebanyak 4,57 juta orang. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di 14 provinsi pada September 2009 mencapai rata-rata 45,54 persen, atau turun 6,14 poin dibanding TPK Agustus 2009 sebesar 51,68 persen. TPK hotel berbintang di Bali pada September 2009 turun 2,52 poin bila dibanding Agustus 2009, yaitu dari 65,54 persen menjadi 63,02 persen. Rata-rata lama menginap tamu asing dan Indonesia pada hotel berbintang di 14 provinsi selama September 2009 adalah 2,15 hari turun 0,13 poin dibanding keadaan Agustus 2009. Jumlah penumpang kereta api pada bulan September 2009 mencapai 17,3 juta orang, yang berarti turun 1,40 persen dibanding bulan Agustus 2009. Demikian juga jumlah barang yang diangkut kereta api turun 20,51 persen menjadi 1,4 juta ton. Selama Januari-September 2009, jumlah penumpang mencapai 154,9 juta orang atau naik 6,51 persen, sebaliknya jumlah barang mencapai 14,2 juta ton atau turun 3,25 persen dibanding periode yang sama tahun 2008. Jumlah penumpang angkutan laut dalam negeri yang diberangkatkan pada bulan September 2009 tercatat 648,6 ribu orang atau naik 47,62 persen dibanding bulan Agustus 2009, sebaliknya jumlah barang yang diangkut turun 30,84 persen menjadi 10,7 juta ton. Dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2008, selama Januari-September 2009 jumlah penumpang mencapai 4,4 juta orang atau turun 1,69 persen dan jumlah barang yang diangkut 116,6 juta ton atau turun 5,28 persen. Jumlah penumpang angkutan udara domestik pada bulan September 2009 mencapai 2,8 juta orang atau turun 7,68 persen dibanding bulan Agustus 2009. Jumlah penumpang tujuan luar negeri (internasional) juga turun 7,48 persen menjadi 680,4 ribu orang. Selama Januari-September 2009 jumlah penumpang domestik mencapai 25,6 juta orang atau naik 8,28 persen, dan jumlah penumpang internasional mencapai 5,7 juta orang atau naik 6,78 persen dibanding periode yang sama tahun 2008.

Download PDF
Nilai Ekspor Indonesia  September 2009 Turun 6,75 Persen Dibanding Bulan Sebelumnya

Nilai Ekspor Indonesia September 2009 Turun 6,75 Persen Dibanding Bulan Sebelumnya

2009-11-02

Nilai ekspor Indonesia September 2009 mencapai US$9,83 miliar atau mengalami penurunan sebesar 6,75 persen dibanding ekspor Agustus 2009. Sementara bila dibanding September 2008 mengalami penurunan sebesar 19,92 persen. Ekspor nonmigas September 2009 mencapai US$8,13 miliar, turun 8,58 persen dibanding Agustus 2009 sedangkan dibanding ekspor September 2008 menurun 17,25 persen. Secara kumulatif nilai ekspor Indonesia Januari-September 2009 mencapai US$80,13 miliar atau menurun 25,57 persen dibanding periode yang sama tahun 2008, sementara ekspor nonmigas mencapai US$68,11 miliar atau menurun 18,21 persen. Penurunan ekspor nonmigas terbesar September 2009 terjadi pada lemak & minyak hewan/nabati sebesar US$417,7 juta, sedangkan peningkatan terbesar terjadi pada bijih, kerak, dan abu logam sebesar US$207,5 juta. Ekspor nonmigas ke Jepang September 2009 mencapai angka terbesar yaitu US$1,09 milyar, disusul Amerika Serikat US$850,4 juta dan Cina US$704,3 juta, dengan kontribusi ketiganya mencapai 32,51 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa ( 27 negara ) sebesar US$1,11 miliar. Menurut sektor, ekspor hasil industri periode Januari-September 2009 turun sebesar 25,46 persen dibanding periode yang sama tahun 2008, demikian juga ekspor hasil pertanian 10,72 persen, sebaliknya ekspor hasil tambang dan lainnya naik sebesar 25,46 persen. Nilai impor Indonesia September 2009 mencapai US$8,56 miliar atau menurun 11,79 persen dibanding Agustus 2009 yang besarnya US$9,71 miliar, sedangkan selama Januari-September 2009 nilai impor mencapai US$68,33 miliar atau menurun 32,80 persen dibanding periode yang sama tahun 2008. Impor nonmigas September 2009 mencapai US$6,19 miliar atau menurun 24,37 persen dibanding impor Agustus 2009, sedangkan selama Januari-September 2009 mencapai US$55,19 miliar atau menurun 26,88 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Impor migas September 2009 mencapai US$2,37 miliar atau meningkat 56,02 persen dibanding impor Agustus 2009, sedangkan selama Januari-September 2009 mencapai US$13,14 miliar atau menurun 49,86 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Nilai impor nonmigas terbesar September 2009 masih sama seperti Agustus 2009 yaitu golongan barang mesin/pesawat mekanik dengan nilai US$1,15 miliar, yang menurun sebesar 13,63 persen dibanding bulan sebelumnya. Negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari-September 2009 masih ditempati oleh Cina dengan nilai US$9,48 miliar dengan pangsa 17,18 persen, diikuti Jepang US$6,89 miliar (12,48 persen) dan Singapura US$6,85 miliar (12,40 persen). Sementara impor nonmigas dari ASEAN mencapai 23,58 persen dan Uni Eropa sebesar 11,37 persen. Impor menurut golongan penggunaan barang selama Januari-September 2009 dibanding periode yang sama tahun sebelumnya mengalami penurunan untuk semua golongan, yaitu impor barang konsumsi sebesar 28,17 persen, bahan baku/penolong sebesar 38,73 persen, dan barang modal sebesar 4,08 persen.

Download PDF
Inflasi Oktober Sebesar 0,19 Persen.

Inflasi Oktober Sebesar 0,19 Persen.

2009-11-02

Pada bulan Oktober 2009 terjadi inflasi sebesar 0,19 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 116,68. Dari 66 kota, tercatat 45 kota mengalami inflasi dan 21 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Padang 1,78 persen dengan IHK 119,82 dan terendah terjadi di Depok 0,05 persen dengan IHK 115,49. Sedangkan deflasi tertinggi terjadi di Banda Aceh 1,30 persen dengan IHK 117,32 dan terendah terjadi di Madiun 0,02 persen dengan IHK 120,06. Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh kenaikan indeks pada kelompok bahan makanan 0,28 persen; kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau 0,70 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar 0,24 persen; kelompok sandang 0,37 persen; kelompok kesehatan 0,20 persen; kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,34 persen. Sedangkan kelompok transpor, komunikasi & jasa keuangan mengalami deflasi 0,71 persen. Laju inflasi tahun kalender (Januari-Oktober) 2009 sebesar 2,48 persen, sedangkan laju inflasi year on year (Oktober 2009 terhadap Oktober 2008) sebesar 2,57 persen. Komponen inti pada bulan Oktober 2009 mengalami inflasi sebesar 0,20 persen, laju inflasi komponen inti tahun kalender (Januari-Oktober) 2009 sebesar 3,67 persen, sedangkan laju inflasi komponen inti year on year (Oktober 2009 terhadap Oktober 2008) sebesar 4,52 persen.

Download PDF