Logo BPS
BPS REPUBLIK INDONESIA

Berita Statistik BPS Republik Indonesia

ITB Dan ITK Triwulan I-2006 Dan prospek Triwulan II-2006.

ITB Dan ITK Triwulan I-2006 Dan prospek Triwulan II-2006.

2006-05-15

Indeks Tendensi Bisnis (ITB) pada Triwulan I-2006 sebesar 95,12, berarti kondisi bisnis pada Triwulan I-2006 secara umum lebih buruk dibandingkan Triwulan IV-2005. Kondisi bisnis menurun karena berkurangnya pendapatan usaha yang terjadi karena turunnya penggunaan kapasitas produksi/usaha dan jumlah jam kerja. Penurunan jumlah tenaga kerja yang paling tajam terjadi di sektor industri. Penurunan kondisi bisnis terjadi hampir disemua sektor, kecuali sektor Listrik, Gas & Air dan sektor Lembaga Keuangan yang menunjukkan peningkatan, sementara sektor Pertambangan dan Penggalian menunjukkan kondisi yang stagnan. Nilai ITB terendah terjadi di sektor Konstruksi yang berarti.kondisi sektor Konstruksi paling terpuruk dibandingkan dengan sektor lainnya

Download PDF
NTP Bulan Pebruari 2006 Naik 0,01%

NTP Bulan Pebruari 2006 Naik 0,01%

2006-05-01

Pada bulan Pebruari 2006, Nilai Tukar Petani (NTP) tercatat 100,74 atau naik 0,01 persen dibanding NTP Januari 2006 yang mencapai 100,72. Hal ini disebabkan kenaikan Indeks harga yang diterima petani yang sebesar 0,76 persen, lebih tinggi dibandingkan kenaikan Indeks harga yang dibayar petani yang sebesar 0,75 persen. Dari 23 propinsi yang dilaporkan pada bulan Pebruari 2006, 11 propinsi mengalami kenaikan, 11 propinsi lainnya mengalami penurunan, dan 1 propinsi stabil. Kenaikan NTP tertinggi terjadi di Propinsi Sulawesi Tengah, yaitu sebesar 5,58 persen karena harga cengkeh biji kering naik 33,78 persen, sedangkan penurunan NTP terbesar terjadi di Propinsi Sulawesi Tenggara yaitu sebesar 6,68 persen, karena harga coklat biji kering turun 12,50 persen. Pada Pebruari 2006, terjadi inflasi di daerah pedesaan Indonesia sebesar 0,71 persen. Inflasi pedesaan terjadi karena indeks harga sub kelompok makanan naik 0,95 persen, perumahan naik 0,35 persen, pakaian naik 0,23 persen, dan kelompok aneka barang dan jasa naik 0,51 persen. Berdasarkan observasi 792 transaksi gabah di 13 propinsi pada April 2006, rata-rata harga gabah di tingkat petani dibandingkan bulan Maret 2006 untuk kualitas Gabah Kering Panen (GKP) dan kualitas rendah mengalami kenaikan. Kualitas GKP naik 3,65 persen, dan gabah kualitas rendah naik 0,50 persen, sebaliknya rata-rata harga gabah di tingkat petani untuk kualitas Gabah Kering Giling (GKG) turun 9,83 persen. Walaupun harga gabah mengalami kenaikan dibanding bulan lalu, namun secara rata-rata, harga gabah di tingkat penggilingan untuk kualitas GKG meski tidak banyak masih berada di bawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP), sedangkan untuk kualitas GKP secara umum berada di atas HPP. Persentase observasi harga gabah di tingkat penggilingan yang berada di bawah HPP turun dibanding bulan lalu, yaitu dari 31,73 persen pada Maret 2006 menjadi 25,00 persen pada April 2006. Persentase observasi gabah berkualitas rendah turun, yaitu dari 28,65 persen pada Maret 2006 menjadi 24,75 persen pada April 2006. Harga gabah terendah di tingkat petani sebesar Rp 1.336,00/kg yang dijumpai di Kec. Kaliwungu, Kab. Kendal, Jateng, dengan kualitas Rendah. Harga tertinggi sebesar Rp 3.286,00/kg dijumpai di Kec. Anjir Pasar Hilir, Kab. Barito Kuala, Kalsel, dengan kualitas GKP.

Download PDF
Pariwisata dan Transportasi Nasional Bulan Maret 2006

Pariwisata dan Transportasi Nasional Bulan Maret 2006

2006-05-01

Jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang datang ke Indonesia melalui 13 pintu masuk pada bulan Maret 2006 mencapai 312,3 ribu orang, naik 18,18 persen dibanding jumlah wisman bulan Februari 2006 sebanyak 264,3 ribu orang. Begitu pula jumlah wisman ke Bali pada bulan Maret 2006 meningkat 14,94 persen dari 77,4 ribu orang pada bulan Februari 2006 menjadi 88,9 ribu orang. Secara kumulatif, jumlah wisman dari 13 pintu masuk sampai dengan bulan Maret 2006 mencapai 871,8 ribu orang, yang berarti menurun 13,13 persen dibanding jumlah wisman pada periode yang sama tahun 2005 sebesar 1.003,6 ribu orang. Tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang di 10 Daerah Tujuan Wisata (DTW) pada bulan Februari 2006 mencapai rata-rata 40,36 persen, mengalami penurunan 4,50 poin dibanding TPK bulan Januari 2006 sebesar 44,86 persen. Sedangkan TPK hotel berbintang di Bali turun dari 40,40 persen pada bulan Januari 2006 menjadi 32,80 persen pada bulan Februari 2006. Rata-rata lama menginap tamu asing dan Indonesia pada hotel berbintang selama bulan Februari 2006 adalah 2,27 hari, mengalami penurunan 0,01 hari jika dibanding bulan Januari 2006. Jumlah penumpang kereta api bulan Maret 2006 mencapai 13,31 juta orang, yang berarti naik 11,59 persen dibanding bulan Februari 2006, sedangkan untuk barang mencapai 1,42 juta ton atau naik 10,05 persen. Selama Januari-Maret 2006, jumlah penumpang mencapai 37,07 juta orang atau naik 4,13 persen dan barang mencapai 4,12 juta ton atau turun 0,27 persen dibanding periode yang sama tahun 2005. Jumlah penumpang angkutan laut dalam negeri bulan Maret 2006 mencapai 1,19 juta orang atau turun 7,44 persen dibanding bulan Februari 2006, sedangkan angkutan barang mencapai 15,07 juta ton atau naik 4,08 persen. Selama Januari-Maret 2006 jumlah penumpang mencapai 3,87 juta orang atau naik 10,60 persen, sedangkan barang mencapai 44,67 juta ton atau naik 1,81 persen dibanding periode yang sama tahun 2005. Jumlah penumpang angkutan udara domestik bulan Maret 2006 mencapai 2,30 juta orang atau naik 14,98 persen dibanding bulan Februari 2006, sedangkan jumlah penumpang tujuan luar negeri (internasional) mencapai 426,4 ribu orang atau naik 13,68 persen. Selama Januari-Maret 2006 jumlah penumpang domestik mencapai 6,78 juta orang, naik 9,65 persen dan penumpang internasional mencapai 1,22 juta orang turun 5,99 persen dibanding periode yang sama tahun 2005.

Download PDF
Nilai Ekspor-Impor Indonesia Bulan Maret 2006

Nilai Ekspor-Impor Indonesia Bulan Maret 2006

2006-05-01

Nilai ekspor Indonesia bulan Maret 2006 mencapai US$ 7,45 milyar atau mengalami peningkatan sebesar 1,33 persen dibanding ekspor Februari 2006. Secara kumulatif, ekspor Januari-Maret 2006 mengalami peningkatan 12,47 persen. Ekspor Nonmigas bulan Maret 2006 mencapai US$ 5,75 milyar, naik 0,55 persen dibanding Februari 2006, bila dibanding dengan bulan Maret 2005 naik 2,87 persen. Secara kumulatif, ekspor nonmigas Januari-Maret 2006 mengalami peningkatan 10,72 persen. Peningkatan ekspor nonmigas terbesar bulan Maret 2006 terjadi pada ikan dan udang sebesar US$ 94,4 juta, sedangkan penurunan terbesar terjadi pada kayu dan barang dari kayu sebesar US$ 54,0 juta. Ekspor nonmigas ke Amerika Serikat bulan Maret 2006 mencapai angka terbesar yaitu US$ 876,8 juta, disusul Jepang US$ 720,0 juta dan Singapura US$ 613,8 juta, dengan kontribusi ketiganya mencapai 38,44 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa ( 25 negara ) sebesar US$ 985,6 juta. Menurut sektor, ekspor hasil pertanian periode Januari-Maret 2006 meningkat 32,24 persen dibanding periode yang sama tahun 2005, demikian pula ekspor hasil industri serta hasil tambang naik masing-masing sebesar 6,99 persen dan 32,42 persen. Nilai impor Indonesia Maret 2006 mencapai US$ 4,34 milyar atau menurun 3,85 persen dibanding Februari 2006 sebesar US$ 4,51 milyar, sedangkan selama Januari-Maret 2006 nilai impor US$ 13,23 milyar atau menurun 2,54 persen dibanding periode yang sama tahun 2005 sebesar US$ 13,58 milyar. Impor Nonmigas bulan Maret 2006 mencapai US$ 3,12 milyar atau menurun 5,29 persen dibanding impor bulan Februari 2006, sedangkan selama Januari-Maret 2006 mencapai US$ 9,60 milyar atau menurun 2,31 persen dibanding impor periode yang sama tahun 2005. Impor Migas bulan Maret 2006 mencapai US$ 1,21 milyar atau naik 0,07 persen dibanding impor bulan Februari 2006, sedangkan selama Januari-Maret 2006 mencapai US$ 3,64 milyar atau turun 3,15 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Selama Januari-Maret 2006 impor nonmigas terbesar terjadi pada mesin dan pesawat mekanik dengan nilai US$ 1,71 milyar atau 17,77 persen dari total impor nonmigas. Sedangkan negara pemasok barang impor terbesar ditempati oleh Jepang dengan nilai US$ 1,37 milyar dengan pangsa 14,28 persen, diikuti Cina US$ 1,07 milyar (11,10 persen) dan Amerika Serikat US$ 0,92 milyar (9,57 persen). Sementara impor dari ASEAN mencapai 19,30 persen dan Uni Eropa sebesar 14,76 persen. Menurut golongan penggunaan barang, impor bahan baku/penolong selama Januari-Maret 2006 menurun 8,75 persen dibanding periode yang sama tahun 2005, sementara itu impor barang modal dan barang konsumsi masing-masing meningkat sebesar 21,74 persen dan 17,53 persen.

Download PDF
Inflasi Bulan April 2006 Mencapai 0,05%

Inflasi Bulan April 2006 Mencapai 0,05%

2006-05-01

Pada bulan April 2006 terjadi inflasi 0,05 persen. Dari 45 kota tercatat 22 kota mengalami inflasi dan 23 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Banjarmasin 1,99 persen dan inflasi terendah di Ternate 0,13 persen. Sedangkan deflasi terbesar di Gorontalo sebesar 1,71 persen, dan deflasi terkecil di Balikpapan 0,05 persen. Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh kenaikan indeks pada kelompok-kelompok barang dan jasa sebagai berikut : kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau naik sebesar 0,43 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas & bahan bakar 0,42 persen, kelompok sandang 0,70 persen, kelompok kesehatan 0,58 persen, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,09 persen dan kelompok transpor, komunikasi & jasa keuangan 0,07 persen. Sedangkan kelompok bahan makanan mengalami deflasi 0,85 persen. Laju inflasi tahun kalender (Januari-April) 2006 sebesar 2,03 persen, sedangkan tingkat laju inflasi year on year (April 2006 terhadap April 2005) sebesar 15,40 persen. Inflasi komponen inti pada bulan April 2006 sebesar 0,32 persen, laju inflasi komponen inti tahun kalender (Januari-April) 2006 sebesar 1,96 persen, sedangkan laju inflasi inti year on year (April 2006 terhadap April 2005) sebesar 9,43 persen.

Download PDF
NTP Bulan Januari 2006 Naik 2,01

NTP Bulan Januari 2006 Naik 2,01

2006-04-03

Pada bulan Januari 2006, Nilai Tukar Petani (NTP) tercatat 100,72 atau naik 2,01 persen dibanding NTP Desember 2005 yang mencapai 98,73. Hal ini disebabkan kenaikan Indeks harga yang diterima petani yang sebesar 5,04 persen, lebih tinggi dibandingkan kenaikan Indeks harga yang dibayar petani yang sebesar 2,97 persen. Dari 18 propinsi yang diamati pada bulan Januari 2006, 10 propinsi mengalami penurunan, dan 8 propinsi lainnya mengalami kenaikan. Kenaikan NTP tertinggi terjadi di Propinsi Kalimantan Selatan, yaitu sebesar 10,23 persen karena harga padi naik 22,62 persen, sedangkan penurunan NTP terbesar terjadi di Propinsi Sulawesi Selatan yaitu sebesar 3,00 persen, karena harga cengkeh biji kering turun 5,82 persen. Pada Januari 2006, terjadi inflasi di daerah pedesaan Indonesia sebesar 3,35 persen. Inflasi pedesaan terjadi karena indeks harga sub kelompok makanan naik 5,64 persen, perumahan naik 0,99 persen, pakaian naik 0,64 persen, dan kelompok aneka barang dan jasa naik 0,76 persen. Berdasarkan observasi 1281 transaksi gabah di 16 propinsi pada Maret 2006, rata-rata harga gabah di tingkat petani dibandingkan bulan Pebruari 2006 untuk kualitas Gabah Kering Panen (GKP) dan kualitas rendah mengalami penurunan. Kualitas GKP turun 11,31 persen, dan gabah kualitas rendah turun 10,13 persen, sebaliknya rata-rata harga gabah di tingkat petani untuk kualitas Gabah Kering Giling (GKG) naik 6,04 persen Walaupun harga gabah mengalami penurunan dibanding bulan lalu, namun secara rata-rata, harga gabah di tingkat penggilingan baik kualitas GKP maupun GKG masih berada di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Persentase transaksi harga gabah di tingkat penggilingan yang berada di bawah HPP naik dibanding bulan lalu, yaitu dari 5,39 persen pada Pebruari 2006 menjadi 31,73 persen pada Maret 2006. Persentase transaksi gabah berkualitas rendah naik, yaitu dari 22,75 persen pada Pebruari 2006 menjadi 28,65 persen pada Maret 2006. Harga gabah terendah di tingkat petani sebesar Rp. 1.200,00/kg yang dijumpai di Kec. Kedung Galar, Kab. Ngawi, Jatim, dengan kualitas Rendah. Harga tertinggi sebesar Rp.2.800,00/kg dijumpai di Kec. Mempawah Hilir, Kab. Pontianak, Kalbar, dengan kualitas GKP.

Download PDF
Pariwisata dan Transportasi Nasional Bulan Februari 2006

Pariwisata dan Transportasi Nasional Bulan Februari 2006

2006-04-03

Jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang datang ke Indonesia melalui 13 pintu masuk pada bulan Pebruari 2006 mencapai 264,3 ribu orang, turun 10,46 persen dibanding jumlah wisman bulan Januari 2006 sebanyak 295,2 ribu orang. Begitu pula jumlah wisman ke Bali pada bulan Pebruari 2006 menurun 9,02 persen, dari 85,1 ribu orang pada bulan Januari 2006 menjadi 77,4 ribu orang. Secara kumulatif, jumlah wisman dari 13 pintu masuk sampai dengan bulan Pebruari 2006 mencapai 559,5 ribu orang, yang berarti menurun 14,93 persen dibanding jumlah wisman pada periode yang sama tahun 2005 sebesar 657,7 ribu orang Tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang di 10 Daerah Tujuan Wisata (DTW) pada bulan Januari 2006 mencapai rata-rata 44,86 persen, mengalami penurunan 0,45 poin dibanding TPK bulan Desember 2005 sebesar 45,31 persen. Sedangkan TPK hotel berbintang di Bali bulan Januari 2006 naik dari 39,88 persen pada bulan Desember 2005 menjadi 40,40 persen. Rata-rata lama menginap tamu asing dan Indonesia pada hotel berbintang selama bulan Januari 2006 mengalami kenaikan 0,30 hari jika dibanding bulan Desember 2005, yaitu dari 1,98 hari menjadi 2,28 hari. Jumlah penumpang kereta api bulan Februari 2006 mencapai 11,93 juta orang, yang berarti naik 0,87 persen dibanding bulan Januari 2006, sedangkan untuk barang mencapai 1,29 juta ton atau turun 8,04 persen. Selama Januari-Februari 2006, jumlah penumpang mencapai 23,76 juta orang atau naik 2,11 persen dan barang mencapai 2,70 juta ton atau turun 3,98 persen dibanding periode yang sama tahun 2005. Jumlah penumpang angkutan laut dalam negeri bulan Februari 2006 mencapai 1,29 juta orang atau turun 7,21 persen dibanding bulan Januari 2006, sedangkan angkutan barang mencapai 14,48 juta ton atau turun 4,24 persen. Selama Januari-Februari 2006 jumlah penumpang mencapai 2,67 juta orang atau naik 9,29 persen, sedangkan barang mencapai 29,60 juta ton atau turun 2,80 persen dibanding periode yang sama tahun 2005. Jumlah penumpang angkutan udara domestik bulan Februari 2006 mencapai 2,00 juta orang atau turun 19,00 persen dibanding bulan Januari 2006, sedangkan jumlah penumpang tujuan luar negeri (internasional) mencapai 375,1 ribu orang atau turun 11,13 persen. Selama Januari-Februari 2006 jumlah penumpang domestik mencapai 4,47 juta orang, naik 8,75 persen dan penumpang internasional mencapai 797,2 ribu orang turun 10,09 persen dibanding periode yang sama tahun 2005.

Download PDF
Nilai Ekspor-Impor Indonesia Bulan Februari 2006

Nilai Ekspor-Impor Indonesia Bulan Februari 2006

2006-04-03

Nilai ekspor Indonesia bulan Februari 2006 mencapai US$ 7,35 milyar atau mengalami penurunan sebesar 2,19 persen dibanding ekspor Januari 2006. Sementara dibanding bulan Februari 2005 mengalami peningkatan 15,18 persen. Ekspor Nonmigas bulan Februari 2006 mencapai US$ 5,72 milyar, naik 0,38 persen dibanding bulan Januari 2006, sedangkan ekspor Migas Februari 2006 mencapai US$ 1,6 milyar turun 10,24 persen dibanding bulan Januari 2006. Peningkatan ekspor nonmigas terbesar bulan Februari 2006 terjadi pada lemak & minyak hewan/nabati sebesar US$ 106,1 juta, sedangkan penurunan terbesar terjadi pada bahan bakar mineral sebesar US$ 65,9 juta. Ekspor nonmigas ke Amerika Serikat bulan Februari 2006 mencapai angka terbesar yaitu US$ 849,7 juta, disusul Jepang US$ 770,7 juta dan Singapura US$ 617,6 juta, dengan kontribusi ketiganya mencapai 39,13 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa ( 25 negara) sebesar US$ 930,8 juta. Menurut sektor, ekspor hasil pertanian periode Januari-Februari 2006 meningkat 20,61 persen dibanding periode yang sama tahun 2005, demikian pula ekspor hasil industri serta hasil tambang naik masing-masing sebesar 9,79 persen dan 60,21 persen. Nilai impor Indonesia Februari 2006 mencapai US$ 4,51 milyar atau meningkat 5,64 persen dibanding Januari 2006 sebesar US$ 4,27 milyar, sedangkan selama Januari-Februari 2006 nilai impor US$ 8,78 milyar atau meningkat 4,47 persen dibanding periode yang sama tahun 2005 sebesar US$ 8,40 milyar. Impor Nonmigas bulan Februari 2006 mencapai US$ 3,30 milyar atau meningkat 3,60 persen dibanding impor bulan Januari 2006, sedangkan selama Januari-Februari tahun 2006 mencapai US$ 6,48 milyar atau meningkat 2,42 persen dibanding impor periode yang sama tahun 2005. Impor Migas bulan Februari 2006 mencapai US$ 1,21 milyar atau naik 11,62 persen dibanding impor bulan Januari 2006, sedangkan selama Januari-Februari tahun 2006 mencapai US$ 2,30 milyar atau naik 10,69 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Selama Januari-Februari 2006 impor nonmigas terbesar terjadi pada mesin dan pesawat mekanik dengan nilai US$ 1,25 milyar atau 19,22 persen dari total impor nonmigas, sedangkan negara pemasok barang impor terbesar ditempati oleh Jepang dengan nilai US$ 0,98 milyar dengan pangsa 15,09 persen, diikuti Cina US$ 0,70 milyar (10,78 persen) dan Amerika Serikat US$ 0,63 milyar (9,71 persen). Sementara impor dari ASEAN mencapai 17,30 persen dan Uni Eropa sebesar 14,40 persen. Menurut golongan penggunaan barang, impor bahan baku/penolong selama Januari-Februari tahun 2006 menurun 1,70 persen, sementara itu impor barang modal dan barang konsumsi masing-masing meningkat sebesar 22,65 persen dan 29,93 persen dibanding periode yang sama tahun 2005.

Download PDF
Inflasi Bulan Maret 2006  Mencapai 0,03 %

Inflasi Bulan Maret 2006 Mencapai 0,03 %

2006-04-03

Pada bulan Maret 2006 terjadi inflasi 0,03 persen. Dari 45 kota tercatat 22 kota mengalami inflasi dan 23 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kendari 1,24 persen dan inflasi terendah di Bandar Lampung 0,01 persen. Sedangkan deflasi terbesar di Banda Aceh sebesar 2,91 persen, dan deflasi terkecil di Bandung dan Semarang masing-masing 0,01 persen. Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh kenaikan indeks pada kelompok-kelompok barang dan jasa sebagai berikut : kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau naik sebesar 0,58 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas & bahan bakar 0,36 persen, kelompok sandang 0,15 persen, kelompok kesehatan 0,39 persen, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,12 persen dan kelompok transpor, komunikasi & jasa keuangan 0,13 persen. Sedangkan kelompok bahan makanan mengalami deflasi 0,88 persen. Laju inflasi tahun kalender (Januari-Maret) 2006 sebesar 1,98 persen, sedangkan tingkat laju inflasi year on year (Maret 2006 terhadap Maret 2005) sebesar 15,74 persen. Inflasi komponen inti pada bulan Maret 2006 sebesar 0,28 persen, laju inflasi komponen inti tahun kalender (Januari-Maret) 2006 sebesar 1,63 persen, sedangkan laju inflasi komponen inti year on year (Maret 2006 terhadap Maret 2005) sebesar 9,64 persen.

Download PDF
Production Of Paddy Maize And Soybeans

Production Of Paddy Maize And Soybeans

2006-03-01

Produksi padi tahun 2005 (angka sementara) sebesar 54.056.282 ton gabah kering giling (GKG) atau turun sebesar 32.186 ton (0,06 persen) jika dibandingkan dengan produksi padi tahun 2004. Penurunan produksi terjadi karena adanya penurunan luas panen di Jawa seluas 5.758 hektar dan di luar Jawa seluas 98.303 hektar. Sedangkan produktivitas mengalami kenaikan sebesar 0,38 ku/ha (0,84 persen). Produksi padi tahun 2006 (ramalan I) diperkirakan sebesar 54.254.734 ton GKG, bertambah sebesar 198.452 ton (0,37 persen) jika dibandingkan dengan produksi padi tahun 2005 (angka sementara). Perkiraan kenaikan produksi tahun 2006 (ramalan I) adalah melalui kenaikan luas panen di luar Jawa dan produktivitas baik di Jawa maupun di luar Jawa. Produksi jagung tahun 2005 (angka sementara) sebesar 12.413.353 ton pipilan kering atau naik sebesar 1.188.110 ton (10,58 persen) dibandingkan dengan produksi jagung tahun 2004. Peningkatan produksi jagung disebabkan oleh kenaikan luas panen dan produktivitas baik di Jawa maupun di Luar Jawa. Produksi jagung tahun 2006 (Ramalan I) diperkirakan sebesar 12.352.831 ton pipilan kering, berkurang sebanyak 60.522 ton (0,49 persen) dibandingkan produksi tahun 2005 (angka sementara). Produksi kedelai tahun 2005 (angka sementara) sebesar 808.054 ton biji kering atau naik sebesar 84.571 ton (11,69 persen) dibandingkan dengan produksi tahun 2004. Kenaikan produksi terjadi karena adanya kenaikan luas panen dan produktivitas baik di Jawa maupun di Luar Jawa. Produksi kedelai tahun 2006 (angka ramalan I) diperkirakan sebesar 800.023 ton biji kering atau turun sebesar 8.031 ton (0,99 persen) dibandingkan tahun 2005 (angka sementara). Penurunan produksi kedelai diperkirakan terjadi karena adanya penurunan luas panen dan produktivitas di Jawa.

Download PDF