Berita Statistik BPS Republik Indonesia
Bulan Desember 2006 Inflasi 1,21 %
2007-01-02
Pada bulan Desember 2006 terjadi inflasi 1,21 persen. Dari 45 kota tercatat 40 kota mengalami inflasi dan 5 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Sibolga 3,37 persen dan inflasi terendah di Palangkaraya 0,13 persen. Sedangkan deflasi terbesar di Ternate sebesar 0,70 persen, dan deflasi terkecil di Sampit 0,06 persen. Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh kenaikan indeks pada semua kelompok barang dan jasa sebagai berikut : kelompok bahan makanan 3,12 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau 1,11 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas & bahan bakar 0,74 persen, kelompok sandang 0,13 persen, kelompok kesehatan 1,05 persen, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,07 persen, dan kelompok transpor, komunikasi & jasa keuangan 0,10 persen. Laju inflasi tahun kalender (Januari-Desember) 2006 sama dengan laju inflasi year on year (Desember 2006 terhadap Desember 2005) yaitu sebesar 6,60 persen. Inflasi komponen inti pada bulan Desember 2006 sebesar 0,65 persen, sedangkan laju inflasi komponen inti tahun kalender (Januari-Desember) 2006 sama dengan laju inflasi komponen inti year on year (Desember 2006 terhadap Desember 2005) yaitu sebesar 6,03 persen. Kelompok yang memberikan andil inflasi tertinggi selama tahun 2006 adalah kelompok bahan makanan sebesar 3,05 persen. Komoditas yang paling dominan memberikan andil inflasi nasional selama tahun 2006 adalah beras 1,63 persen.
Download PDFBulan September 2006 NTP Naik 0,41 %
2006-12-01
Pada bulan September 2006, Nilai Tukar Petani (NTP) tercatat 103,02 atau naik 0,41 persen dibanding NTP Agustus 2006 yang mencapai 102,60. Hal ini disebabkan kenaikan Indeks harga yang diterima petani sebesar 1,03 persen, lebih besar dibandingkan dengan kenaikan Indeks harga yang dibayar petani yang sebesar 0,62 persen. Dari 23 propinsi yang dilaporkan pada bulan September 2006, 13 propinsi mengalami kenaikan, 1 propinsi stabil dan 9 propinsi mengalami penurunan. Kenaikan NTP tertinggi terjadi di Propinsi Bengkulu, yaitu sebesar 6,63 persen karena harga produsen cabe merah besar naik 55,56 persen, sedangkan penurunan NTP terbesar terjadi di Propinsi Kalimantan Barat yaitu sebesar 3,59 persen, karena harga karet jinton turun 2,50 persen. Pada September 2006, terjadi inflasi di daerah perdesaan Indonesia sebesar 0,62 persen. Inflasi perdesaan terjadi karena indeks harga sub kelompok makanan naik 0,54 persen, perumahan naik 0,89 persen, pakaian naik 0,79 persen, dan kelompok aneka barang dan jasa naik 0,49 persen. Berdasarkan observasi sebanyak 637 transaksi gabah di 13 propinsi pada Nopember 2006, rata-rata harga gabah di tingkat petani dibandingkan keadaan bulan Oktober 2006 untuk kualitas Gabah Kering Panen (GKP) naik sebesar 4,63 persen; Gabah kualitas Rendah naik 3,24 persen. Sebaliknya, rata-rata harga gabah kualitas Gabah Kering Giling (GKG) turun sebesar 0,66 persen. Rata-rata harga gabah di tingkat penggilingan baik kualitas GKG maupun GKP berada di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Persentase observasi harga gabah di tingkat penggilingan yang berada di bawah HPP pada bulan Nopember tidak dijumpai (0 %). Persentase observasi gabah berkualitas rendah naik, yaitu dari 5,81 persen pada Oktober 2006 menjadi 6,12 persen pada Nopember 2006. Harga gabah terendah di tingkat petani sebesar Rp 1.700,-/kg dijumpai di Kab. Sukabumi, Propinsi Jawa Barat (kualitas Rendah), Kab. Gianyar, Propinsi Bali (kualitas GKP dan Rendah), dan Kab. Semarang, Propinsi Jawa Tengah (kualitas GKP). Harga tertinggi sebesar Rp 3.000,-/kg dijumpai di Kab. Tanah Laut, Propinsi Kalimantan Selatan dengan kualitas GKP.
Download PDFJumlah Wisman Bulan Oktober 2006 Mencapai 290,3 Ribu Orang.
2006-12-01
"Jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang datang ke Indonesia melalui 13 pintu masuk pada bulan Oktober 2006 mencapai 290,3 ribu orang, mengalami penurunan 12,96 persen dibanding jumlah wisman bulan September 2006 sebanyak 333,5 ribu orang. Sementara itu jumlah wisman ke Bali pada bulan Oktober 2006 turun 4,62 persen dibanding bulan sebelumnya, yaitu dari 124,5 ribu orang pada bulan September 2006 menjadi 118,8 ribu orang. Jumlah wisman dari 13 pintu masuk selama Januari-Oktober 2006, mencapai 3,22 juta orang atau menurun 7,91 persen dibanding jumlah wisman pada periode yang sama tahun 2005 sebanyak 3,50 juta orang. Tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang di 10 Daerah Tujuan Wisata (DTW) pada bulan September 2006 mencapai rata-rata 46,51 persen, mengalami penurunan 1,98 poin dibanding TPK bulan Agustus 2006 sebesar 48,49 persen. Sedangkan TPK hotel berbintang di Bali naik dari 47,43 persen pada bulan Agustus 2006 menjadi 48,69 persen pada bulan September 2006. Rata-rata lama menginap tamu asing dan Indonesia pada hotel berbintang selama bulan September 2006 adalah 2,25 hari, mengalami penurunan 0,19 hari jika dibanding bulan Agustus 2006. Jumlah penumpang kereta api bulan Oktober 2006 mencapai 14,29 juta orang, yang berarti naik 6,36 persen dibanding bulan September 2006. Sebaliknya, jumlah barang yang diangkut kereta api turun 8,70 persen hingga mencapai 1,37 juta ton. Selama Januari-Oktober 2006, jumlah penumpang tercatat sebesar 132,18 juta orang atau naik 5,67 persen dibanding periode yang sama tahun 2005. Di sisi lain, jumlah barang turun 1,50 persen hingga mencapai 14,32 juta ton. Jumlah penumpang angkutan laut dalam negeri bulan Oktober 2006 tercatat sebesar 775,15 ribu orang atau naik 8,95 persen dibanding bulan September 2006. Sebaliknya, jumlah barang yang diangkut turun 0,59 persen hingga mencapai 13,34 juta ton. Selama Januari-Oktober 2006 jumlah penumpang mencapai 10,45 juta orang atau turun 6,47 persen, sedangkan jumlah barang mencapai 147 juta ton atau turun 1,97 persen dibanding periode yang sama tahun 2005. Jumlah penumpang angkutan udara domestik bulan Oktober 2006 mencapai 2,22 juta orang atau turun 6,90 persen dibanding bulan September 2006. Sebaliknya, jumlah penumpang tujuan luar negeri (internasional) naik 6,03 persen hingga mencapai 509,9 ribu orang. Selama Januari-Oktober 2006 jumlah penumpang domestik mencapai 23,92 juta orang atau naik 27,53 persen dibanding periode yang sama tahun 2005 dan jumlah penumpang internasional mencapai 4,62 juta orang atau naik 13,72 persen."
Download PDFBulan Oktober 2006 Nilai Ekspor Indonesia Turun 0,75%, Nilai Impor Turun 20,56%
2006-12-01
Nilai ekspor Indonesia bulan Oktober 2006 mencapai US$ 8,72 milyar atau mengalami penurunan sebesar 0,75 persen dibanding ekspor September 2006. Ekspor Non-Migas bulan Oktober 2006 mencapai US$ 7,13 milyar, turun 0,81 persen dibanding bulan September 2006, tetapi naik 16,32 persen dibanding ekspor Oktober 2005. Peningkatan ekspor non migas terbesar bulan Oktober 2006 terjadi pada lemak & minyak hewan/nabati sebesar US$ 338,3 juta, sedangkan penurunan terbesar terjadi pada mesin/peralatan listrik sebesar US$ 187,0 juta. Ekspor non migas ke Jepang bulan Oktober 2006 mencapai angka terbesar yaitu US$ 1 137,2 juta, disusul Amerika Serikat US$ 878,8 juta dan Singapura US$ 595,6 juta, dengan kontribusi ketiganya mencapai 36,62 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa ( 25 negara ) sebesar US$ 954,9 juta. Nilai ekspor Indonesia selama Januari Oktober 2006 mencapai US$ 2,21 milyar meningkat 16,36 persen disbanding ekspor pada periode yang sama tahun 2005, sedangkan untuk ekspor nonmigas mencapai US$ 64,67 milyar atau meningkat 17,88 persen Menurut sektor, ekspor hasil pertanian periode Januari-Oktober 2006 meningkat 17,80 persen dibanding periode yang sama tahun 2005, sementara ekspor hasil industri serta hasil tambang dan lainnya naik masing-masing sebesar 14,65 persen dan 42,52 persen. Nilai impor Indonesia bulan Oktober 2006 mencapai US$ 4,49 milyar atau menurun 20,56 persen dibanding September 2006 sebesar US$ 5,66 milyar, sedangkan selama Januari-Oktober 2006 nilai impor mencapai US$ 50,21 milyar atau meningkat 3,06 persen dibanding periode yang sama tahun 2005 sebesar US$ 48,72 milyar. Impor Non-Migas bulan Oktober 2006 mencapai US$ 2,82 milyar atau menurun 24,48 persen dibanding impor bulan September 2006, sedangkan selama Januari-Oktober tahun 2006 mencapai US$ 34,02 milyar atau meningkat 0,45 persen dibanding periode yang sama tahun 2005. Impor Migas bulan Oktober 2006 mencapai US$ 1,67 milyar atau turun 12,94 persen dibanding impor bulan September 2006, sedangkan selama Januari-Oktober tahun 2006 mencapai US$ 16,19 milyar atau naik 9,00 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Selama Januari-Oktober 2006 impor non migas terbesar terjadi pada mesin dan pesawat mekanik dengan nilai US$ 5,99 milyar atau 17,61 persen dari total impor non migas. Negara pemasok barang impor terbesar ditempati oleh Cina dengan nilai US$ 4,40 milyar dengan pangsa 12,93 persen, diikuti Jepang US$ 4,37 milyar (12,86 persen) dan Amerika Serikat US$ 3,37 milyar (9,91 persen). Sementara impor dari ASEAN mencapai 20,56 persen dan Uni Eropa sebesar 14,11 persen. Menurut golongan penggunaan barang, impor bahan baku/penolong dan barang modal selama Januari-Oktober tahun 2006 meningkat masing-masing sebesar 2,87 persen dan 6,01 persen dibanding periode yang sama tahun 2005, sementara itu impor barang konsumsi turun sebesar 0,36 persen. Sementara dibanding bulan Oktober 2005 mengalami peningkatan sebesar 9,62 persen.
Download PDFBulan November 2006 Terjadi Inflasi 0,34 %
2006-12-01
Pada bulan November 2006 terjadi inflasi 0,34 persen. Dari 45 kota tercatat 32 kota mengalami inflasi dan 13 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Palangkaraya 2,65 persen dan inflasi terendah di Semarang 0,12 persen. Sedangkan deflasi terbesar di Banda Aceh sebesar 0,93 persen, dan deflasi terkecil di Malang 0,04 persen. Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh kenaikan indeks pada kelompok-kelompok barang dan jasa sebagai berikut : kelompok bahan makanan 0,65 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau 0,47 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas & bahan bakar 0,29 persen, kelompok sandang 0,70 persen, kelompok kesehatan 0,42 persen, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,03 persen. Sedangkan kelompok yang mengalami penurunan indeks adalah kelompok transpor, komunikasi & jasa keuangan 0,21 persen. Laju inflasi tahun kalender (Januari-November) 2006 sebesar 5,32 persen, sedangkan tingkat laju inflasi year on year (November 2006 terhadap November 2005) sebesar 5,27 persen. Inflasi komponen inti pada bulan November 2006 sebesar 0,30 persen, laju inflasi komponen inti tahun kalender (Januari-November) 2006 sebesar 5,42 persen, sedangkan laju inflasi komponen inti year on year (November 2006 terhadap November 2005) sebesar 5,92 persen.
Download PDFPDB Triwulan III Tahun 2006 Meningkat Sebesar 3,49%
2006-11-16
Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada triwulan III tahun 2006 meningkat sebesar 3,49 persen terhadap triwulan II tahun 2006, terjadi pada semua sektor ekonomi, dengan pertumbuhan tertinggi di sektor pertanian 5,36 persen dan terendah di sektor pertambangan-penggalian 1,12 persen. Bila dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun 2005, PDB Indonesia triwulan III tahun 2006 ini mengalami pertumbuhan sebesar 5,52 persen, dengan pertumbuhan tertinggi di sektor pengangkutan-komunikasi 13,50 persen dan terendah disektor pertambangan-penggalian 1,03 persen. Secara kumulatif, pertumbuhan PDB Indonesia hingga triwulan III tahun 2006 dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2005 tumbuh sebesar 5,14 persen. Pertumbuhan PDB tanpa migas hingga triwulan III/2006 mencapai 5,66 persen, yang berarti lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan PDB keseluruhan yang besarnya 5,14 persen. Selanjutnya pertumbuhan sektor riil (semua sektor kecuali sub sektor bank, sub sektor lembaga keuangan bukan bank dan jasa penunjang keuangan) dalam PDB Indonesia selama tiga triwulan pertama tahun 2006 mencapai 5,31 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2005, yang berarti lebih tinggi dibanding pertumbuhan PDB secara keseluruhan yang besarnya 5,14 persen. Besaran PDB Indonesia pada tiga triwulan pertama tahun 2005 atas dasar harga berlaku mencapai Rp 1.992,9 triliun, sedang pada tiga triwulan pertama tahun 2006 mencapai Rp 2.421,0 triliun. Di sisi penggunaan, pertumbuhan PDB triwulan III tahun 2006 terhadap triwulan sebelumnya didorong oleh kenaikan konsumsi rumah tangga sebesar 1,66 persen, pembentukan modal tetap bruto (PMTB) sebesar 1,76 persen, ekspor sebesar 5,46 persen, dan impor sebesar 4,78 persen.
Download PDFProduksi Padi Tahun 2006 (Angka Ramalan III) Diperkirakan Naik 0,95%.
2006-11-01
Produksi padi tahun 2006 (Angka Ramalan III) diperkirakan sebesar 54,66 juta ton Gabah Kering Giling (GKG), naik 512 ribu ton (0,95 persen) dibanding produksi tahun 2005. Kenaikan produksi padi tahun 2006 didasarkan pada kenaikan luas panen sekitar 16 ribu hektar (0,13 persen) dan juga peningkatan produktivitas sebesar 0,37 Ku/Ha (0,81 persen). Peningkatan luas panen terutama terjadi di Luar Jawa sebanyak 14 ribu Ha (0,23 persen), sementara di Jawa hanya bertambah sekitar 2 ribu Ha (0,03 persen). Produksi jagung tahun 2006 (Angka Ramalan III) diperkirakan sebesar 12,14 juta ton pipilan kering, turun 387 ribu ton (3,09 persen) dibanding produksi tahun 2005. Penurunan produksi jagung tahun 2006 terjadi karena penurunan luas panen sekitar 128 ribu hektar (3,54 persen), sedangkan produktivitas meningkat sebesar 0,16 Ku/Ha (0,46 persen). Penurunan luas panen jagung terutama terjadi di Jawa sebanyak 117 ribu Ha (5,87 persen), sementara di Luar Jawa hanya menurun sekitar 11 ribu Ha (0,66 persen). Produksi kedelai tahun 2006 (Angka Ramalan III) diperkirakan sebesar 781 ribu ton biji kering, turun sekitar 27 ribu ton (3,40 persen) dibanding produksi tahun 2005. Penurunan produksi kedelai tahun 2006 terjadi karena penurunan luas panen sebanyak 19 ribu hektar (3,05 persen) dan juga penurunan produktivitas sebesar 0,05 Ku/Ha (0,38 persen). Penurunan luas panen kedelai umumnya terjadi di Jawa, sementara di Luar Jawa tidak mengalami perubahan luas panen yang berarti.
Download PDFBulan Agustus 2006 NTP Turun 0,53%. Harga GKG Naik 1,00%; GKP Naik 0,58%; dan Gabah Kualitas Rendah Naik 1,83%
2006-11-01
Pada bulan Agustus 2006, Nilai Tukar Petani (NTP) tercatat 102,60 atau turun 0,53 persen dibanding NTP Juli 2006 yang mencapai 103,15. Hal ini disebabkan kenaikan Indeks harga yang diterima petani sebesar 0,04 persen, lebih kecil dibandingkan dengan kenaikan Indeks harga yang dibayar petani yang sebesar 0,58 persen. Dari 23 propinsi yang dilaporkan pada bulan Agustus 2006, 9 propinsi mengalami kenaikan, dan 14 propinsi mengalami penurunan. Kenaikan NTP tertinggi terjadi di Propinsi Sumatera Selatan, yaitu sebesar 6,80 persen karena harga produsen kopi biji kering robusta naik 7,78 persen, sedangkan penurunan NTP terbesar terjadi di Propinsi Riau yaitu sebesar 13,58 persen, karena harga karet getah tebal turun 17,89 persen. Pada Agustus 2006, terjadi inflasi di daerah perdesaan Indonesia sebesar 0,52 persen. Inflasi perdesaan terjadi karena indeks harga sub kelompok makanan naik 0,55 persen, perumahan naik 0,38 persen, pakaian naik 0,69 persen, dan kelompok aneka barang dan jasa naik 0,51 persen. Berdasarkan observasi sebanyak 602 transaksi gabah di 18 propinsi pada Oktober 2006, rata-rata harga gabah di tingkat petani dibandingkan bulan September 2006 untuk semua kualitas mengalami kenaikan. Harga gabah kualitas Gabah Kering Giling (GKG) naik sebesar 1,00 persen; Gabah Kering Panen (GKP) naik sebesar 0,58 persen; dan Gabah kualitas Rendah naik 1,83 persen. Rata-rata harga gabah di tingkat penggilingan baik kualitas GKG maupun GKP berada di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Persentase observasi harga gabah di tingkat penggilingan yang berada di bawah HPP naik dibanding bulan lalu, yaitu dari 0,14 persen pada September 2006 menjadi 0,35 persen pada Oktober 2006. Persentase observasi gabah berkualitas rendah turun, yaitu dari 9,45 persen pada September 2006 menjadi 5,81 persen pada Oktober 2006. Harga gabah terendah di tingkat petani sebesar Rp 1.629,-/kg dijumpai di Kab. Gianyar, Propinsi Bali dengan kualitas GKP. Harga tertinggi sebesar Rp 2.950,-/kg dijumpai di Kab. Kapuas, Propinsi Kalimantan Tengah dengan kualitas GKP.
Download PDFEkspor Indonesia Bulan September Turun 1,18%, Impor Naik 0,67%.
2006-11-01
Nilai ekspor Indonesia bulan September 2006 mencapai US$ 8,78 milyar atau mengalami penurunan sebesar 1,18 persen dibanding ekspor Agustus 2006. Sementara dibanding bulan September 2005 mengalami peningkatan sebesar 16,75 persen. Ekspor Nonmigas bulan September 2006 mencapai US$ 7,19 milyar, naik 2,10 persen dibanding bulan Agustus 2006, dan naik 23,93 persen dibanding ekspor September 2005. Peningkatan ekspor nonmigas terbesar bulan September 2006 terjadi pada Bijih, kerak dan abu logam sebesar US$ 119,0 juta, sedangkan penurunan terbesar terjadi pada bahan bakar mineral sebesar US$ 113,4 juta. Ekspor nonmigas ke Jepang bulan September 2006 mencapai angka terbesar yaitu US$ 1,24 milyar, disusul Amerika Serikat US$ 964,0 juta dan Singapura US$ 687,6 juta, dengan kontribusi ketiganya mencapai 40,15 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa ( 25 negara ) sebesar US$ 1.083,0 juta. Menurut sektor, ekspor hasil pertanian periode Januari-September 2006 meningkat 19,82 persen dibanding periode yang sama tahun 2005, sementara ekspor hasil industri serta hasil tambang dan lainnya naik masing-masing sebesar 15,36 persen dan 37,38 persen. Nilai impor Indonesia bulan September 2006 mencapai US$ 5,66 milyar atau meningkat tipis 0,67 persen dibanding Agustus 2006 sebesar US$ 5,62 milyar, sedangkan selama Januari-September 2006 nilai impor mencapai US$ 45,63 milyar atau meningkat 4,04 persen dibanding periode yang sama tahun 2005 sebesar US$ 43,86 milyar. Impor Nonmigas bulan September 2006 mencapai US$ 3,74 milyar atau menurun 5,45 persen dibanding impor bulan Agustus 2006, sedangkan selama Januari-September tahun 2006 mencapai US$ 31,16 milyar atau meningkat 2,03 persen dibanding periode yang sama tahun 2005. Impor Migas bulan September 2006 mencapai US$ 1,92 milyar atau naik 15,17 persen dibanding impor bulan Agustus 2006, sedangkan selama Januari-September tahun 2006 mencapai US$ 14,47 milyar atau naik 8,67 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Selama Januari-September 2006 impor nonmigas terbesar terjadi pada mesin dan pesawat mekanik dengan nilai US$ 5,53 milyar atau 17,74 persen dari total impor nonmigas. Negara pemasok barang impor terbesar ditempati oleh Cina dengan nilai US$ 4,01 milyar dengan pangsa 12,86 persen, diikuti Jepang US$ 3,98 milyar (12,76 persen) dan Amerika Serikat US$ 3,17 milyar (10,18 persen). Sementara impor dari ASEAN mencapai 20,30 persen dan Uni Eropa sebesar 14,41 persen. Menurut golongan penggunaan barang, impor bahan baku/penolong selama Januari-September tahun 2006 meningkat 3,71 persen dibanding periode yang sama tahun 2005, sementara itu impor barang konsumsi dan barang modal masing-masing meningkat sebesar 4,61 persen dan 5,57 persen.
Download PDFBulan Oktober 2006 Terjadi Inflasi 0,86 %
2006-11-01
Pada bulan Oktober 2006 terjadi inflasi 0,86 persen. Dari 45 kota tercatat 41 kota mengalami inflasi dan 4 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Ternate 2,98 persen dan inflasi terendah di Balikpapan 0,02 persen. Sedangkan deflasi terbesar di Kendari sebesar 0,66 persen, dan deflasi terkecil di Palu 0,06 persen. Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh kenaikan indeks pada semua kelompok barang dan jasa sebagai berikut : kelompok bahan makanan 2,17 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau 0,64 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas & bahan bakar 0,26 persen, kelompok sandang 1,00 persen, kelompok kesehatan 0,29 persen, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,10 persen dan kelompok transpor, komunikasi & jasa keuangan 0,46 persen. Laju inflasi tahun kalender (Januari-Oktober) 2006 sebesar 4,96 persen, sedangkan tingkat laju inflasi year on year (Oktober 2006 terhadap Oktober 2005) sebesar 6,29 persen. Inflasi komponen inti pada bulan Oktober 2006 sebesar 0,72 persen, laju inflasi komponen inti tahun kalender (Januari-Oktober) 2006 sebesar 5,02 persen, sedangkan laju inflasi komponen inti year on year (Oktober 2006 terhadap Oktober 2005) sebesar 6,86 persen.
Download PDF