Berita Statistik BPS Republik Indonesia
NTP Juli 2008 Naik 1,07 Persen.
2008-09-01
Pada Juli 2008, Nilai Tukar Petani Tanaman Pangan (NTPP) tercatat sebesar 98,08, Nilai Tukar Petani Hortikultura (NTPH) 102,58, Nilai Tukar Petani Tanaman Perkebunan Rakyat (NTPR) 115,74, Nilai Tukar Petani Peternakan (NTPT) 99,39, dan untuk Nilai Tukar Nelayan (NTN) 100,42. Secara gabungan, Nilai Tukar Petani (NTP) nasional sebesar 101,71. Ini berarti mengalami kenaikan bila dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang terpaut sebesar 1,07 persen. Dari 32 provinsi yang dilaporkan pada Juli 2008, terdapat 24 provinsi mengalami kenaikan dan 8 provinsi mengalami penurunan. Kenaikan tertinggi NTP Juli 2008 terjadi di Provinsi Kalimantan Barat, yaitu sebesar 2,81 persen, karena indeks yang diterima naik hingga 3,33 persen, sedang penurunan NTP terbesar terjadi di Provinsi Riau yang turun sebesar 1,19 persen, disebabkan indeks yang diterima hanya naik sebesar 1,02 persen dibandingkan indeks yang dibayar yang naik hingga 2,24 persen. Pada Juli 2008, terjadi inflasi di daerah pedesaan secara regional di Indonesia sebesar 1,70 persen. Inflasi pedesaan Juli 2008 ini dipengaruhi oleh kenaikan indeks harga di seluruh subkelompok yang ada, yaitu: bahan makanan 2,25 persen, makanan jadi, minuman, dan rokok 0,98 persen, perumahan 1,35 persen, sandang 1,00 persen, kesehatan 0,83 persen, pendidikan, rekreasi dan olah raga 1,68 pesen, serta transportasi dan komunikasi 1,55 persen. Berdasarkan observasi sebanyak 1.023 transaksi gabah di 17 provinsi, rata-rata harga gabah di tingkat petani pada Agustus 2008 dibandingkan keadaan Juli 2008 untuk kualitas Gabah Kering Giling (GKG) dan Gabah Kering Panen (GKP) mengalami penurunan, yaitu kualitas GKG turun sebesar 0,54 persen, dan kualitas GKP turun sebesar 0,74 persen. Sedangkan kualitas rendah/diluar kelompok kualitas mengalami kenaikan sebesar 1,08 persen. Rata-rata harga gabah di tingkat penggilingan untuk kualitas GKG mencapai Rp2.885,- per kg, berada di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Dan rata-rata harga gabah untuk kualitas GKP mencapai Rp2.506,- per kg di tingkat petani dan Rp2.562,- per kg di tingkat penggilingan, keduanya berada di atas HPP. Persentase observasi harga gabah di tingkat penggilingan yang berada di bawah HPP mengalami kenaikan, yaitu dari 3,67 persen pada Juli 2008 menjadi 8,95 persen pada Agustus 2008. Persentase observasi gabah berkualitas rendah mengalami penurunan, yaitu dari 14,23 persen pada Juli 2008 menjadi 12,61 persen pada Agustus 2008. Harga gabah terendah di tingkat petani sebesar Rp1.975,- per kg dijumpai di Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah (kualitas Rendah). Harga tertinggi sebesar Rp3.335,- per kg dijumpai di Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat (kualitas GKP). Upah nominal harian buruh tani Nasional pada Juli 2008 naik sebesar 0,91 persen dibanding upah Juni 2008, yaitu dari Rp34.908,- menjadi Rp35.225,- per hari. Secara riil mengalami penurunan sebesar 0,77 persen*). Upah nominal harian buruh bangunan (tukang bukan mandor) pada Agustus 2008 naik 0,37 persen dibanding upah Juli 2008, yaitu dari Rp47.400,- menjadi Rp47.576,- per hari. Secara riil turun sebesar 0,14 persen*). Upah nominal bulanan buruh industri pada triwulan I 2008 turun sebesar 5,91 persen dibanding upah triwulan IV 2007 yaitu dari Rp1.994.684,- menjadi Rp1.124.130,- per bulan, secara riil turun 7,55 persen*). Dibanding upah triwulan I 2007 (year on year), upah nominal naik 11,72 persen.
Download PDFITB Triwulan II-2008 Lebih Baik Dari Pada Triwulan Sebelumnya, ITK Lebih Buruk Dari Kondisi Triwulan Sebelumnya.
2008-08-14
Kondisi Bisnis Triwulan II-2008 Indeks Tendensi Bisnis (ITB) pada Triwulan II-2008 sebesar 111,72, mengindikasikan kondisi bisnis pada Triwulan tersebut secara umum meningkat dibandingkan Triwulan I-2008. Peningkatan kondisi bisnis terjadi pada seluruh sektor ekonomi, dengan sektor Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan mengalami peningkatan paling tinggi, dengan nilai indeks sebesar 119,92. Peningkatan kondisi bisnis terjadi karena adanya peningkatan pendapatan usaha, kapasitas produksi dan jumlah jam kerja. Sektor Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan mengalami peningkatan pendapatan usaha terbesar, sementara sektor Industri mengalami peningkatan pendapatan usaha paling rendah. Prospek Bisnis Triwulan III-2008 Nilai ITB Triwulan III-2008 diperkirakan sebesar 114,55, berarti secara umum kondisi bisnis pada Triwulan tersebut diperkirakan akan meningkat dibandingkan Triwulan II-2008. Semua sektor pada Triwulan III-2008 diperkirakan mengalami peningkatan kondisi bisnis, dengan sektor Transportasi dan Telekomunikasi mengalami peningkatan tertinggi dengan nilai indeks sebesar 129,68. Indeks Tendensi Konsumen (ITK) Triwulan II-2008 di Jabodetabek sebesar 93,84 yang berarti kondisi ekonomi konsumen pada Triwulan II-2008 lebih buruk dibandingkan dengan kondisi triwulan sebelumnya. Penurunan nilai ITK terjadi karena menurunnya pendapatan rumah tangga dan adanya pengaruh inflasi terhadap konsumsi makanan sehari-hari, meskipun peningkatan konsumsi yang tinggi terjadi pada konsumsi non makanan seperti biaya perumahan (listrik dan air), pendidikan dan transportasi. C. Kondisi Ekonomi Konsumen Triwulan III-2008 Perkiraan nilai ITK Triwulan III-2008 sebesar 93,43, berarti kondisi ekonomi konsumen pada Triwulan III-2008 di Jabodetabek diperkirakan akan menurun dibandingkan Triwulan II-2008. Penurunan kondisi ekonomi konsumen diperkirakan terjadi karena menurunnya rencana pembelian barang tahan lama pada Triwulan III-2008.
Download PDFPDB Triwulan II-2008 Mencapai 2,4 Persen Dibanding Triwulan I-2008
2008-08-14
Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diukur berdasarkan kenaikan Produk Domestik Bruto (PDB) pada triwulan II-2008 mencapai 2,4 persen dibanding triwulan I-2008 (q-to-q) dan apabila dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun 2007 mengalami pertumbuhan 6,4 persen (y-on-y). Secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi Indonesia semester I-2008 dibandingkan dengan semester I-2007 sebesar 6,4 persen. Besaran PDB atas dasar harga berlaku pada triwulan II-2008 mencapai Rp1.230,9 triliun, sedangkan PDB atas dasar harga konstan 2000 pada triwulan yang sama adalah Rp518,2 triliun. Tiga sektor yang mengalami pertumbuhan tertinggi (q-to-q) adalah sektor pertanian 5,1 persen; sektor pengangkutan dan komunikasi 4,1 persen; dan sektor listrik, gas dan air bersih 3,6 persen. Sementara untuk pertumbuhan (y-on-y) sektor pengangkutan dan komunikasi tumbuh 19,6 persen; sektor listrik, gas dan air bersih 11,2 persen; dan sektor keuangan, real estat dan jasa perusahaan 8,7 persen. Struktur PDB triwulan II-2008 masih didominasi oleh sektor industri pengolahan; sektor pertanian; dan sektor perdagangan, hotel dan restoran masing-masing memberikan kontribusi sebesar 27,3 persen, 14,7 persen dan 14,3 persen. Pengeluaran konsumsi rumah tangga pada triwulan II-2008 dibandingkan dengan triwulan I-2008 (q-to-q) meningkat sebesar 1,1 persen. Sementara pengeluaran konsumsi pemerintah meningkat 21,2 persen, pembentukan modal tetap bruto 2,4 persen, ekspor barang dan jasa 5,2 persen, serta impor barang dan jasa 5,4 persen. Dibandingkan dengan triwulan II-2007 (y-on-y), pengeluaran konsumsi rumah tangga meningkat 5,3 persen, pengeluaran konsumsi pemerintah 2,2 persen, pembentukan modal tetap bruto 12,8 persen, ekspor barang dan jasa 16,1 persen, serta impor barang dan jasa 16,7 persen. Struktur perekonomian Indonesia secara spasial masih didominasi oleh Pulau Jawa yang memberikan kontribusi terhadap PDB Nasional sebesar 57,5 persen kemudian diikuti oleh Pulau Sumatera sebesar 24,2 persen, Pulau Kalimantan 9,9 persen dan Pulau Sulawesi 4,1 persen serta sisanya sebesar 4,3 persen.
Download PDFNTP Juni 2008 Naik 0,48 Persen.
2008-08-01
Pada Juni 2008, Nilai Tukar Petani Padi & Palawija (NTPP) tercatat sebesar 97,14, Nilai Tukar Petani Hortikultura (NTPH) 100,43, Nilai Tukar Petani Tanaman Perkebunan Rakyat (NTPR) 113,90, Nilai Tukar Petani Peternakan (NTPPT) 99,43, dan untuk Nilai Tukar Nelayan (NTN) 100,28. Secara gabungan, Nilai Tukar Petani (NTP) nasional sebesar 100,64. Ini berarti mengalami kenaikan bila dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang terpaut sebesar 0,48 persen. Dari 32 Provinsi yang dilaporkan pada Juni 2008, terdapat 17 Provinsi mengalami kenaikan dan 15 Provinsi mengalami penurunan. Kenaikan tertinggi NTP Juni 2008 terjadi di Provinsi Papua Barat, yaitu sebesar 3,24 persen, karena indeks yang diterima naik hingga 6,32 persen, sedang penurunan NTP terbesar terjadi di Provinsi Kepulauan Riau sebesar 2,65 persen, disebabkan indeks yang diterima hanya naik sebesar 1,44 persen dibandingkan indeks yang dibayar yang naik hingga 3,99 persen. Pada Juni 2008, terjadi inflasi di daerah pedesaan secara regional di Indonesia sebesar 2,88 persen. Inflasi pedesaan Juni 2008 ini dipengaruhi oleh kenaikan harga bahan bakar minyak sehingga terjadi kenaikan indeks harga di seluruh subkelompok yang ada, yaitu: bahan makanan 2,16 persen, makanan jadi, minuman & rokok 1,68 persen, perumahan 5,03 persen, sandang 1,15 persen, kesehatan 1,43 persen, pendidikan, rekrease & Olah Raga 1,10 pesen, serta transportasi & komunikasi 10,66 persen. Berdasarkan observasi sebanyak 1047 transaksi gabah di 18 provinsi, rata-rata harga gabah di tingkat petani pada Juli 2008 dibandingkan keadaan Juni 2008 untuk semua kualitas mengalami penurunan. Untuk Gabah Kering Giling (GKG) turun sebesar 1,56 persen, kualitas Gabah Kering Panen (GKP) turun sebesar 2,47 persen, dan kualitas rendah/di luar kelompok kualitas turun sebesar 1,71 persen. Rata-rata harga gabah di tingkat penggilingan untuk kualitas GKG mencapai Rp 2.914,- per kg, berada di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Dan rata-rata harga gabah untuk kualitas GKP mencapai Rp 2.525,- per kg di tingkat petani dan Rp 2.584,- per kg di tingkat penggilingan, keduanya berada di atas HPP. Persentase observasi harga gabah di tingkat penggilingan yang berada di bawah HPP mengalami kenaikan tetapi tidak terlalu signifikan, yaitu dari 3,28 persen pada Juni 2008 menjadi 3,67 persen pada Juli 2008. Persentase observasi gabah berkualitas rendah juga mengalami kenaikan, yaitu dari 9,98 persen pada Juni 2008 menjadi 14,23 persen pada Juli 2008. Harga gabah terendah di tingkat petani sebesar Rp 1.950,- per kg dijumpai di Kabupaten Luwu Utara, Provinsi Sulawesi Selatan (kualitas rendah). Harga tertinggi sebesar Rp 3.700,- per kg dijumpai di Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah (kualitas GKP). Upah nominal harian buruh tani Nasional pada Juni 2008 naik sebesar 20,43 persen dibanding upah Mei 2008, yaitu dari Rp 28.986,- menjadi Rp 34.908,- per hari. Secara riil mengalami peningkatan sebesar 14,15 persen). Upah nominal harian buruh bangunan (tukang bukan mandor) pada Juli 2008 naik 0,43 persen dibanding upah Juni 2008, yaitu dari Rp 47.198,- menjadi Rp 47.400,- per hari. Secara riil turun sebesar 0,90 persen). Upah nominal bulanan buruh industri pada triwulan IV 2007 naik sebesar 2,98 persen dibanding upah triwulan III 2007 yaitu dari Rp 991.207,- menjadi Rp 1.020.696,- per bulan, secara riil naik 0,87 persen). Dibanding upah triwulan IV 2006 (year on year), upah nominal naik 6,61 persen.
Download PDFJumlah Wisatawan Mancanegara (wisman) Juni 2008 Naik 3,95 %.
2008-08-01
Jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang datang ke Indonesia pada Juni 2008 mencapai 529,1 ribu orang atau naik 6,22 persen dibanding jumlah wisman Juni 2007 sebanyak 498,1 ribu orang. Dibanding Mei 2008, jumlah wisman Juni 2008 mengalami kenaikan sebesar 3,95 persen. Jumlah wisman yang datang melalui 11 pintu masuk utama pada Juni 2008 naik 9,03 persen dibanding bulan yang sama tahun sebelumnya, yaitu dari 408,0 ribu orang menjadi 444,9 ribu orang. Begitu pula dibanding Mei 2008, wisman yang datang melalui 11 pintu masuk mengalami kenaikan sebesar 3,87 persen. Jumlah wisman ke Bali pada Juni 2008 naik 17,79 persen dibanding Juni 2007. Dibanding Mei 2008, jumlah wisman ke Bali mengalami kenaikan sebesar 6,52 persen, yaitu dari 167,3 ribu orang menjadi 178,3 ribu orang pada Juni 2008. Secara kumulatif, jumlah wisman selama Semester I tahun 2008 mencapai 2,90 juta orang atau meningkat 11,66 persen dibanding jumlah wisman pada periode yang sama tahun 2007 sebanyak 2,60 juta orang. Tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang di 14 Daerah Tujuan Wisata (DTW) pada Mei 2008 mencapai rata-rata 50,83 persen, atau naik 1,76 poin dibanding TPK April 2008 yang besarnya 49,07 persen. TPK hotel berbintang di Bali naik 6,28 poin, yaitu dari 55,68 persen pada April 2008 menjadi 61,96 persen pada Mei 2008. Rata-rata lama menginap tamu asing dan Indonesia pada hotel berbintang di 14 Daerah Tujuan Wisata (DTW) selama Mei 2008 adalah 2,03 hari, turun 0,07 hari dibandingkan April 2008.
Download PDFNilai Ekspor Indonesia Juni 2008 Naik 0,06 Persen dan Nilai Impor Naik 3,13 Persen.
2008-08-01
Nilai ekspor Indonesia Juni 2008 mencapai US$ 12,90 miliar atau mengalami peningkatan sebesar 0,06 persen dibanding ekspor Mei 2008. Sementara bila dibanding ekspor Juni 2007 mengalami peningkatan sebesar 34,92 persen. Ekspor nonmigas Juni 2008 mencapai US$ 9,91 miliar, naik 2,50 persen dibanding Mei 2008, sedangkan dibanding ekspor Juni 2007 naik 28,26 persen. Secara kumulatif nilai ekspor Indonesia Januari-Juni 2008 mencapai US$ 70,45 miliar atau meningkat 30,80 persen dibanding periode yang sama tahun 2007, sementara ekspor nonmigas mencapai US$ 54,38 miliar atau meningkat 23,20 persen. Peningkatan ekspor nonmigas terbesar Juni 2008 terjadi pada lemak & minyak hewan/nabati sebesar US$ 153,6 juta, sedangkan penurunan terbesar terjadi pada kertas/karton sebesar US$ 45,9 juta. Ekspor nonmigas ke Amerika Serikat Juni 2008 mencapai angka terbesar yaitu US$ 1,19 milyar, disusul Jepang US$ 1,00 milyar dan China US$ 763,8 juta, dengan kontribusi ketiganya mencapai 29,77 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa (27 negara) sebesar US$ 1,45 miliar. Menurut sektor, ekspor hasil pertanian serta ekspor hasil industri periode Januari-Juni 2008 meningkat 50,13 persen dan 25,12 persen dibanding periode yang sama tahun 2007, sementara hasil tambang dan lainnya juga naik sebesar 5,16 persen. Nilai impor Indonesia Juni 2008 mencapai US$ 12,02 miliar atau meningkat 3,13 persen dibanding Mei 2008 yang terdiri dari impor migas sebesar US$ 3,59 miliar (29,82 persen) dan impor nonmigas sebesar US$ 8,44 miliar (70,18 persen). Sedangkan selama Semester I 2008 nilai impor Indonesia mencapai US$ 65,05 miliar dengan impor migas sebesar US$ 16,70 miliar (25,67 persen) dan impor nonmigas sebesar US$ 48,36 miliar (74,33 persen). Nilai impor Kawasan Berikat Juni 2008 mencapai US$ 2,19 miliar atau meningkat 11,34 persen dibanding Mei 2008, sedangkan selama semester I-2008 nilai impor mencapai US$ 12,84 miliar terdiri dari impor migas sebesar US$ 59,0 juta (0,46 persen) dan impor nonmigas sebesar US$ 12,78 miliar (99,54 persen) Nilai impor di Luar Kawasan Berikat Juni 2008 mencapai US$ 9,83 miliar atau meningkat 1,46 persen dibanding Mei 2008 yang besarnya US$ 9,69 miliar, sedangkan selama semester I-2008 nilai impor di Luar Kawasan Berikat mencapai US$ 52,21 miliar atau meningkat 54,90 persen jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Selama semester I-2008 impor nonmigas terbesar adalah mesin/pesawat mekanik dengan nilai US$ 8,66 miliar atau 17,91 persen dari total impor nonmigas Indonesia. Negara pemasok barang impor nonmigas terbesar ditempati oleh Jepang dengan nilai US$ 7,06 miliar dengan pangsa 14,60 persen, diikuti Cina US$ 7,05 miliar (14,58 persen) dan Singapura US$ 5,66 miliar (11,70 persen). Sementara impor nonmigas dari ASEAN mencapai 23,71 persen dan Uni Eropa sebesar 10,12 persen. Menurut golongan penggunaan barang, peranan impor untuk barang konsumsi dan barang modal selama Juni 2008 mengalami penurunan dibanding bulan sebelumnya yaitu masing-masing dari 6,91 persen dan 13,15 persen menjadi 6,82 persen dan 12,93 persen. Sedangkan peranan impor bahan baku/penolong meningkat dari 79,94 persen menjadi 80,25 persen.
Download PDFInflasi Juli 2008 Sebesar 1,37 Persen.
2008-08-01
Pada bulan Juli 2008 terjadi inflasi sebesar 1,37 persen dengan indeks harga konsumen (IHK) sebesar 111,59. Dari 66 kota, tercatat seluruh kota mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Manokwari 4,33 persen dengan IHK 117,45 dan terendah terjadi di Banda Aceh 0,25 persen dengan IHK sebesar 110,82. Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh kenaikan indeks pada kelompok- kelompok barang dan jasa sebagai berikut : kelompok bahan makanan 1,85 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau 1,07 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas & bahan bakar 1,80 persen, kelompok sandang 0,81 persen, kelompok kesehatan 0,71 persen, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 1,74 persen serta kelompok transpor, komunikasi & jasa keuangan 0,71 persen. Laju inflasi tahun kalender (Januari-Juli) 2008 sebesar 8,85 persen, sedangkan laju inflasi year on year (Juli 2008 terhadap Juli 2007) sebesar 11,90. persen.
Download PDFJumlah Penduduk Miskin di Indonesia Maret 2008 34,96 Juta Orang (15,42 %)
2008-07-01
Jumlah penduduk miskin (penduduk yang berada dibawah Garis Kemiskinan) di Indonesia pada bulan Maret 2008 sebesar 34,96 juta orang (15,42 persen). Dibandingkan dengan penduduk miskin pada bulan Maret 2007 yang berjumlah 37,17 juta orang (16,58 persen), berarti jumlah penduduk miskin turun sebesar 2,21 juta orang. Selama periode Maret 2007-Maret 2008, penduduk miskin di daerah perdesaan berkurang 1,42 juta orang, sementara di daerah perkotaan berkurang 0,79 juta orang Persentase penduduk miskin antara daerah perkotaan dan perdesaan tidak banyak berubah. Pada bulan Maret 2008, sebagian besar (63,47 persen) penduduk miskin berada di daerah perdesaan. Peranan komoditi makanan terhadap Garis Kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan (perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan). Pada bulan Maret 2008, sumbangan Garis Kemiskinan Makanan terhadap Garis Kemiskinan sebesar 74,07 persen. Komoditi makanan yang berpengaruh besar terhadap nilai Garis Kemiskinan adalah beras, gula pasir, mie instan, telur, tempe dan tahu. Untuk komoditi bukan makanan adalah biaya perumahan. Khusus untuk daerah perkotaan, biaya listrik, angkutan dan minyak tanah mempunyai pengaruh yang cukup besar, sementara untuk daerah perdesaan pengaruhnya relatif kecil (kurang dari 2 persen). Pada periode Maret 2007-Maret 2008, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) menunjukkan kecenderungan menurun. Ini mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin cenderung makin mendekati garis kemiskinan dan ketimpangan pengeluaran penduduk miskin juga semakin menyempit.
Download PDFARAM II 2008 Sebesar 59,88 Juta Ton GKG
2008-07-01
A.PADI Angka Tetap (ATAP) produksi padi tahun 2007 sebesar 57,16 juta ton Gabah Kering Giling (GKG). Dibandingkan dengan produksi tahun 2006, terjadi kenaikan sebanyak 2,70 juta ton (4,96 persen). Kenaikan produksi terjadi karena peningkatan luas panen seluas 361,21 ribu hektar (3,06 persen) dan juga produktivitas sebesar 0,85 kuintal/hektar (1,84 persen). Kenaikan produksi padi tahun 2007 terjadi di beberapa provinsi terutama di Provinsi Jawa Barat, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, Nanggroe Aceh Darussalam, Lampung, Sulawesi Tengah, dan Kalimantan Barat. Angka Ramalan II (ARAM II) produksi padi tahun 2008 diperkirakan sebesar 59,88 juta ton GKG. Dibandingkan produksi tahun 2007 (ATAP), terjadi kenaikan sebanyak 2,72 juta ton (4,76 persen). Kenaikan produksi diperkirakan terjadi karena peningkatan luas panen seluas 237,61 ribu hektar (1,96 persen) dan juga produktivitas sebesar 1,30 kuintal/hektar (2,76 persen). Kenaikan produksi padi tahun 2008 diperkirakan terjadi di beberapa provinsi terutama di Provinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, Jawa Barat, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Tengah. B.JAGUNG Angka Tetap (ATAP) produksi jagung tahun 2007 sebesar 13,29 juta ton pipilan kering. Dibandingkan dengan produksi tahun 2006, terjadi kenaikan sebanyak 1,68 juta ton (14,45 persen). Kenaikan produksi terjadi karena peningkatan luas panen seluas 284,52 ribu hektar (8,50 persen) dan juga produktivitas sebesar 1,90 kuintal/hektar (5,48 persen). Kenaikan produksi jagung tahun 2007 terjadi di beberapa provinsi terutama di Provinsi Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, Sulawesi Utara, Lampung, Gorontalo, dan Sumatera Utara. Angka Ramalan II (ARAM II) produksi jagung tahun 2008 diperkirakan sebesar 14,85 juta ton pipilan kering. Dibandingkan produksi tahun 2007 (ATAP), terjadi kenaikan sebanyak 1,57 juta ton (11,79 persen). Kenaikan produksi diperkirakan terjadi karena peningkatan luas panen seluas 178,67 ribu hektar (4,92 persen) dan produktivitas sebesar 2,40 kuintal/hektar (6,56 persen). Kenaikan produksi jagung tahun 2008 diperkirakan terjadi di beberapa provinsi terutama di Provinsi Lampung, Jawa Timur, Sumatera Utara, Jawa Tengah, dan Nusa Tenggara Timur. C.KEDELAI Angka Tetap (ATAP) produksi kedelai tahun 2007 sebesar 592,53 ribu ton biji kering. Dibandingkan dengan produksi tahun 2006, terjadi penurunan sebanyak 155,08 ribu ton (20,74 persen). Penurunan produksi terjadi karena penurunan luas panen seluas 121,42 ribu hektar (20,91 persen), sedangkan produktivitas mengalami peningkatan sebesar 0,03 kuintal/hektar (0,23 persen). Penurunan produksi kedelai tahun 2007 terjadi di beberapa provinsi terutama di Provinsi Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, D.I. Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat, Nanggroe Aceh Darussalam, Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, Bali, dan Riau. Angka Ramalan II (ARAM II) produksi kedelai tahun 2008 diperkirakan sebesar 723,54 ribu ton biji kering. Dibandingkan produksi tahun 2007 (ATAP), terjadi kenaikan sebanyak 131,00 ribu ton (22,11 persen). Kenaikan produksi diperkirakan terjadi karena peningkatan luas panen seluas 90,30 ribu hektar (19,67 persen) dan produktivitas sebesar 0,26 kuintal/hektar (2,01 persen). Kenaikan produksi kedelai tahun 2008 diperkirakan terjadi di beberapa provinsi terutama di Provinsi Nusa Tenggara Barat, Jawa Barat, Nanggroe Aceh Darussalam, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Jambi, Jawa Timur, dan Sumatera Utara.
Download PDFNTP Mei 2008 Naik Sebesar 1,15%
2008-07-01
Pada bulan Mei 2008, Nilai Tukar Petani Padi & Palawija (NTPP) tercatat sebesar 95,38, Nilai Tukar Petani Hortikultura (NTPH) 101,27, Nilai Tukar Petani Tanaman Perkebunan Rakyat (NTPR) 114,04, Nilai Tukar Petani Peternakan (NTPPT) 100,89, dan untuk Nilai Tukar Nelayan (NTN) 100,64. Seara gabungan, Nilai Tukar Petani (NTP) nasional sebesar 100,16. Ini berarti mengalami kenaikan bila dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang terpaut sebesar 1,15 persen. Dari 32 Provinsi yang dilaporkan pada Mei 2008, ada sebanyak 22 Provinsi mengalami kenaikan dan 10 Provinsi mengalami penurunan. Kenaikan tertinggi NTP Mei 2008 terjadi di Provinsi Maluku yaitu sebesar 6,47 persen, karena indeks yang diterima naik hingga 8,15 persen, sedangkan penurunan NTP terbesar terjadi di Provinsi Sulawesi Utara yaitu sebesar 2,45 persen, karena indeks yang diterima turun hingga 1,22 persen. Pada Mei 2008, terjadi inflasi di daerah pedesaan secara regional di Indonesia sebesar 1,19 persen karena kenaikan indeks harga di seluruh kelompok yang ada yaitu: bahan makanan (1.65%), makanan jadi, minuman& rokok (0,52%), perumahan (1,17%) sandang (0,29%), kesehatan (0,94%)., pendidikan, rekrease & OR (0,33%), dan transportasi & komunikasi (1,12%). Berdasarkan observasi sebanyak 812 transaksi gabah di 15 provinsi, rata-rata harga gabah di tingkat petani pada Juni 2008 dibandingkan keadaan Mei 2008 untuk semua kualitas mengalami kenaikan. Untuk Gabah Kering Giling (GKG) naik sebesar 6,33 persen, kualitas Gabah Kering Panen (GKP) naik sebesar 5,98 persen, dan kualitas rendah/diluar kelompok kualitas naik sebesar 9,34 persen. Rata-rata harga gabah di tingkat penggilingan untuk kualitas GKG mencapai Rp 2.941,- per kg, berada di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Dan rata-rata harga gabah untuk kualitas GKP mencapai Rp 2.589,- per kg di tingkat petani dan Rp 2.651,- per kg di tingkat penggilingan, keduanya berada di atas HPP. Persentase observasi harga gabah di tingkat penggilingan yang berada di bawah HPP mengalami penurunan, yaitu dari 21,03 persen pada Mei 2008 menjadi 3,28 persen pada Juni 2008. Sedangkan persentase observasi gabah berkualitas rendah mengalami kenaikan, yaitu dari 8,30 persen pada Mei 2008 menjadi 9,98 persen pada Juni 2008. Harga gabah terendah di tingkat petani sebesar Rp 1.900,- per kg dijumpai di Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah (kualitas Rendah). Harga tertinggi sebesar Rp 3.840,- per kg dijumpai di Kabupaten Solok, Provinsi Sumatera Barat (kualitas Rendah). Upah nominal harian buruh tani Nasional pada Mei 2008 naik sebesar 1,20 persen dibanding upah April 2008, yaitu dari Rp 28.643,- menjadi Rp 28.986,- per hari. Secara riil mengalami peningkatan sebesar 0,39 persen. Upah nominal harian buruh bangunan (tukang bukan mandor) pada Juni 2008 naik 1,47 persen dibanding upah Mei 2008, yaitu dari Rp 46.515,- menjadi Rp 47.198,- per hari. Secara riil turun sebesar 0,96 persen. Upah nominal bulanan buruh industri pada triwulan IV 2007 naik sebesar 2,98 persen dibanding upah triwulan III 2007 yaitu dari Rp 991.207,- menjadi Rp 1.020.696,- per bulan, secara riil naik 0,87 persen. Dibanding upah triwulan IV 2006 (year on year), upah nominal naik 6,61 persen.
Download PDF