Berita Statistik BPS Republik Indonesia
Nilai Ekspor Indonesia November 2008 Turun 11,09 Persen, Nilai Impor Turun 17,87 Persen
2009-01-05
Nilai ekspor Indonesia November 2008 mencapai US$9,61 miliar atau mengalami penurunan sebesar 11,09 persen dibanding ekspor Oktober 2008. Demikian pula bila dibanding ekspor November 2007 mengalami penurunan sebesar 2,36 persen. Ekspor nonmigas November 2008 mencapai US$8,17 miliar, turun 9,24 persen dibanding Oktober 2008, sedangkan dibanding ekspor November 2007 naik 5,61 persen. Secara kumulatif nilai ekspor Indonesia Januari-November 2008 mencapai US$128,09 miliar atau meningkat 24,17 persen dibanding periode yang sama tahun 2007, sementara ekspor nonmigas mencapai US$100,45 miliar atau meningkat 20,18 persen. Penurunan ekspor nonmigas terbesar November 2008 terjadi pada bahan bakar mineral sebesar US$232,2 juta, sedangkan peningkatan terbesar terjadi pada pakaian jadi bukan rajutan sebesar US$50,0 juta. Ekspor nonmigas ke Jepang November 2008 mencapai angka terbesar yaitu US$1,13 miliar, disusul Amerika Serikat US$935,2 juta dan Singapura US$726,5 juta, dengan kontribusi ketiganya mencapai 34,21 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa ( 27 negara ) sebesar US$1,24 miliar. Menurut sektor, ekspor hasil pertanian, ekspor hasil industri serta ekspor hasil tambang dan lainnya periode Januari-November 2008 meningkat masing-masing sebesar 38,26 persen, 18,94 persen dan 22,57 persen dibanding periode yang sama tahun 2007. Nilai impor Indonesia November 2008 mencapai US$8,72 miliar atau menurun 17,87 persen dibanding Oktober 2008 yang terdiri dari impor migas sebesar US$1,31 miliar (15,02 persen) dan impor nonmigas sebesar US$7,41 miliar (84,98 persen). Sedangkan selama Januari-November 2008 nilai impor Indonesia mencapai US$120,97 miliar dengan impor migas sebesar US$29,39 miliar (24,29 persen) dan impor nonmigas sebesar US$91,58 miliar (75,71 persen). Nilai impor Kawasan Berikat November 2008 mencapai US$1,56 miliar atau menurun 12,71 persen dibanding Oktober 2008, sedangkan selama Januari-November 2008 nilai impornya mencapai US$22,29 miliar terdiri dari impor migas sebesar US$194,4 juta (0,87 persen) dan impor nonmigas sebesar US$22,09 miliar (99,13 persen) Nilai impor di Luar Kawasan Berikat November 2008 mencapai US$7,15 miliar atau menurun 18,92 persen dibanding Oktober 2008 yang besarnya US$8,82 miliar, sedangkan selama Januari-November 2008 nilai impor di Luar Kawasan Berikat mencapai US$98,68 miliar atau meningkat 45,91 persen jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Selama Januari-November 2008 impor nonmigas terbesar adalah mesin/pesawat mekanik dengan nilai US$16,60 miliar atau 18,13 persen dari total impor nonmigas Indonesia. Negara pemasok barang impor nonmigas terbesar ditempati oleh Cina dengan nilai US$14,10 miliar dengan pangsa 15,39 persen, diikuti Jepang US$13,40 miliar (14,63 persen) dan Singapura US$10,34 miliar (11,29 persen). Sementara impor nonmigas dari ASEAN mencapai 23,23 persen dan Uni Eropa sebesar 10,30 persen. Menurut golongan penggunaan barang, peranan impor untuk bahan baku/penolong selama November 2008 mengalami penurunan dibanding bulan sebelumnya yaitu dari 74,89 persen menjadi 73,02 persen. Sedangkan peranan impor barang konsumsi dan barang modal meningkat dari 5,99 persen dan 19,12 persen menjadi 6,91 persen dan 20,07 persen.
Download PDFDeflasi Desember 2008 Sebesar 0,04 Persen
2009-01-05
Pada bulan Desember 2008 terjadi deflasi sebesar 0,04 persen dengan indeks harga konsumen (IHK) sebesar 113,86. Dari 66 kota, tercatat 27 kota mengalami deflasi dan 39 kota mengalami inflasi. Deflasi tertinggi terjadi di Ambon 1,84 persen dengan IHK 110,70 dan terendah terjadi di Pakanbaru dan Banjarmasin masing-masing 0,03 persen dengan IHK 112,85 dan 114,96. Sedangkan inflasi tertinggi terjadi di Tarakan 1,68 persen dengan IHK 122,55 dan terendah terjadi di Probolinggo dan Ternate masing-masing 0,02 persen dengan IHK 115,80 dan 115,88. Deflasi terjadi karena adanya penurunan harga yang ditunjukkan oleh penurunan indeks pada kelompok transpor, komunikasi & jasa keuangan 2,74 persen. Sedangkan kelompok yang mengalami kenaikan indeks sebagai berikut : kelompok bahan makanan 0,57 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau 0,52 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas & bahan bakar 0,52 persen, kelompok sandang 1,13 persen, kelompok kesehatan 0,21 persen dan kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,16 persen. Laju inflasi tahun kalender (Januari-Desember) 2008 sama dengan laju inflasi “year on year” (Desember 2008 terhadap Desember 2007) sebesar 11,06 persen. Inflasi komponen inti pada bulan Desember 2008 sebesar 0,42 persen, laju inflasi komponen inti tahun kalender (Januari-Desember) 2008 sama dengan laju inflasi komponen inti year on year (Desember 2008 terhadap Desember 2007) sebesar 8,29 persen.
Download PDFNilai Tukar Petani (NTP) Nasional Oktober 2008 Sebesar 99,20, Mengalami Penurunan Sebesar 2,45 Persen
2008-12-01
Pada Oktober 2008, Nilai Tukar Petani Tanaman Pangan (NTPP) tercatat sebesar 97,64, Nilai Tukar Petani Hortikultura (NTPH) 97,08, Nilai Tukar Petani Tanaman Perkebunan Rakyat (NTPR) 102,12, Nilai Tukar Petani Peternakan (NTPT) 101,75, dan untuk Nilai Tukar Nelayan (NTN) 103,01. Secara gabungan, Nilai Tukar Petani (NTP) nasional sebesar 99,20. Ini berarti mengalami penurunan bila dibandingkan dengan bulan sebelumnya yaitu sebesar 2,45 persen. Dari 32 provinsi yang dilaporkan pada Oktober 2008, terdapat 7 provinsi mengalami kenaikan dan 25 provinsi mengalami penurunan. Kenaikan tertinggi NTP Oktober 2008 terjadi di Provinsi Maluku, yaitu sebesar 2,16 persen, karena indeks yang diterima naik hingga 2,95 persen, sedang Indeks yang dibayar hanya naik 0,78 persen. Penurunan NTP terbesar terjadi di Provinsi Jambi yang turun sebesar 11,57 persen, disebabkan indeks yang diterima turun sebesar 11,07 persen dibandingkan indeks yang dibayar yang naik 0,55 persen. Pada Oktober 2008, terjadi inflasi di daerah pedesaan di Indonesia sebesar 0,58 persen. Inflasi pedesaan Oktober 2008 ini dipengaruhi oleh kenaikan indeks harga di seluruh subkelompok yang ada, yaitu: bahan makanan 0,47 persen, makanan jadi, minuman & rokok 0,70 persen, perumahan 0,92 persen, sandang 0,47 persen, kesehatan 0,40 persen, pendidikan, rekreasi & olah raga 0,53 pesen, serta transportasi & komunikasi 0,68 persen. Berdasarkan observasi sebanyak 878 transaksi gabah di 17 provinsi, rata-rata harga gabah di tingkat petani pada November 2008 dibandingkan keadaan Oktober 2008 untuk kualitas Gabah Kering Giling (GKG) keadaannya relatif stabil, kualitas Gabah Kering Panen (GKP) mengalami kenaikan hanya sebesar 0,08 persen, sedangkan kualitas rendah/diluar kelompok kualitas mengalami penurunan sebesar 1,50 persen. Rata-rata harga gabah di tingkat penggilingan untuk kualitas GKG mencapai Rp 2.962,- per kg, berada di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Rata-rata harga gabah untuk kualitas GKP mencapai Rp 2.577,- per kg di tingkat petani dan Rp 2.638,- per kg di tingkat penggilingan, keduanya berada di atas HPP. Persentase observasi harga gabah di tingkat penggilingan yang berada di bawah HPP mengalami kenaikan, yaitu dari 2,38 persen pada Oktober 2008 menjadi 6,55 persen pada November 2008. Persentase observasi gabah berkualitas rendah juga mengalami kenaikan, yaitu dari 8,71 persen pada Oktober 2008 menjadi 11,28 persen pada November 2008. Harga gabah terendah di tingkat petani sebesar Rp 1.975,- per kg dijumpai di Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah (kualitas Rendah). Harga tertinggi sebesar Rp 3.400,- per kg dijumpai di Kabupaten Serdang Bedage dan Labuhan Batu, Provinsi Sumatera Utara (kualitas GKG). Upah nominal harian buruh tani Nasional pada Oktober 2008 naik sebesar 0,25 persen dibanding upah September 2008, yaitu dari Rp 35.455,- menjadi Rp 35.544,- per hari. Secara riil mengalami penurunan sebesar 0,33 persen1). Upah nominal harian buruh bangunan (tukang bukan mandor) pada November 2008 naik 1,76 persen dibanding upah Oktober 2008, yaitu dari Rp 52.440,- menjadi Rp 53.362,- per hari. Secara riil naik sebesar 1,63 persen1). Upah nominal bulanan buruh industri pada triwulan II-2008 naik sebesar 3,39 persen dibanding upah triwulan I-2008 yaitu dari Rp 1.189.270,- menjadi Rp 1.229.580,-, secara riil turun 1,05 persen1). Dibanding upah triwulan II-2007 (year on year), upah nominal naik 22,50 persen.
Download PDFJumlah Wisatawan Mancanegara (Wisman) Oktober 2008 Naik 21,34 Persen
2008-12-01
Jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang datang ke Indonesia pada Oktober 2008 mencapai 529,4 ribu orang atau naik 21,34 persen dibanding jumlah wisman Oktober 2007 sebanyak 436,3 ribu orang. Dibanding September 2008, jumlah wisman Oktober 2008 mengalami kenaikan sebesar 5,66 persen. Jumlah wisman yang datang melalui 11 pintu masuk utama pada Oktober 2008 naik 25,67 persen dibanding bulan yang sama tahun sebelumnya, yaitu dari 347,6 ribu orang menjadi 436,8 ribu orang. Begitu pula dibanding September 2008, wisman yang datang melalui 11 pintu masuk mengalami kenaikan sebesar 6,33 persen. Jumlah wisman ke Bali pada Oktober 2008 naik 23,59 persen dibanding Oktober 2007. Dibanding September 2008, jumlah wisman ke Bali mengalami sedikit penurunan sebesar 0,06 persen, yaitu dari 189,2 ribu orang menjadi 189,1 ribu orang pada Oktober 2008. Secara kumulatif (Januari-Oktober), jumlah wisman tahun 2008 mencapai 5,10 juta orang atau meningkat 13,07 persen dibanding jumlah wisman pada periode yang sama tahun 2007 sebanyak 4,51 juta orang. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di 14 Propinsi pada September 2008 mencapai rata-rata 42,66 persen, atau turun 12,53 poin dibanding TPK Agustus 2008 yang besarnya 55,19 persen. TPK hotel berbintang di Bali turun 1,25 poin, yaitu dari 69,94 persen pada Agustus 2008 menjadi 68,69 persen pada September 2008. Rata-rata lama menginap tamu asing dan Indonesia pada hotel berbintang di 14 Propinsi selama September 2008 adalah 2,57 hari, naik 0,51 hari dibanding Agustus 2008.
Download PDFNilai Ekspor Oktober 2008 Turun 11,61 Persen, Impor Turun 5,30 Persen
2008-12-01
Nilai ekspor Indonesia Oktober 2008 mencapai US$10,81 miliar atau mengalami penurunan sebesar 11,61 persen dibanding ekspor September 2008. Sementara bila dibanding ekspor Oktober 2007 mengalami peningkatan sebesar 4,92 persen. Ekspor nonmigas Oktober 2008 mencapai US$9,00 miliar, turun 8,10 persen dibanding September 2008, sedangkan dibanding ekspor Oktober 2007 naik 8,22 persen. Secara kumulatif nilai ekspor Indonesia Januari-Oktober 2008 mencapai US$118,43 miliar atau meningkat 26,92 persen dibanding periode yang sama tahun 2007, sementara ekspor nonmigas mencapai US$92,26 miliar atau meningkat 21,63 persen. Penurunan ekspor nonmigas terbesar Oktober 2008 terjadi pada karet dan barang dari karet sebesar US$172,5 juta, sedangkan peningkatan terbesar terjadi pada bahan bakar mineral sebesar US$251,5 juta. Ekspor nonmigas ke Jepang Oktober 2008 mencapai angka terbesar yaitu US$1,38 miliar, disusul Amerika Serikat US$922,7 juta dan Singapura US$797,8 juta, dengan kontribusi ketiganya mencapai 34,46 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa ( 27 negara ) sebesar US$1,34 miliar. Menurut sektor, ekspor hasil pertanian, ekspor hasil industri serta ekspor hasil tambang dan lainnya periode Januari-Oktober 2008 meningkat masing-masing sebesar 34,65 persen, 21,04 persen dan 21,57 persen dibanding periode yang sama tahun 2007. Nilai impor Indonesia Oktober 2008 mencapai US$10,61 miliar atau menurun 5,30 persen dibanding September 2008 yang terdiri dari impor migas sebesar US$1,88 miliar (17,72 persen) dan impor nonmigas sebesar US$8,73 miliar (82,28 persen). Sedangkan selama Januari-Oktober 2008 nilai impor Indonesia mencapai US$112,17 miliar dengan impor migas sebesar US$28,07 miliar (25,02 persen) dan impor nonmigas sebesar US$84,10 miliar (74,98 persen). Nilai impor Kawasan Berikat Oktober 2008 mencapai US$1,79 miliar atau menurun 0,49 persen dibanding September 2008, sedangkan selama Januari-Oktober 2008 nilai impornya mencapai US$20,58 miliar terdiri dari impor migas sebesar US$187,3 juta (0,91 persen) dan impor nonmigas sebesar US$20,40 miliar (99,09 persen) Nilai impor di Luar Kawasan Berikat Oktober 2008 mencapai US$8,82 miliar atau menurun 6,22 persen dibanding September 2008 yang besarnya US$9,41 miliar, sedangkan selama Januari-Oktober 2008 nilai impor di Luar Kawasan Berikat mencapai US$91,58 miliar atau meningkat 52,48 persen jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Selama Januari-Oktober 2008 impor nonmigas terbesar adalah mesin/pesawat mekanik dengan nilai US$15,13 miliar atau 17,99 persen dari total impor nonmigas Indonesia. Negara pemasok barang impor nonmigas terbesar ditempati oleh Cina dengan nilai US$12,87 miliar dengan pangsa 15,30 persen, diikuti Jepang US$12,13 miliar (14,43 persen) dan Singapura US$9,50 miliar (11,29 persen). Sementara impor nonmigas dari ASEAN mencapai 23,22 persen dan Uni Eropa sebesar 10,37 persen. Menurut golongan penggunaan barang, peranan impor untuk barang konsumsi dan bahan baku/penolong selama Oktober 2008 mengalami penurunan dibanding bulan sebelumnya yaitu masing-masing dari 6,77 persen dan 75,65 persen menjadi 5,99 persen dan 74,89 persen. Sedangkan peranan impor barang modal meningkat dari 17,58 persen menjadi 19,12 persen.
Download PDFInflasi November 2008 Sebesar 0,12 Persen
2008-12-01
Pada bulan November 2008 terjadi inflasi sebesar 0,12 persen dengan indeks harga konsumen (IHK) sebesar 113,90. Dari 66 kota, tercatat 27 kota mengalami inflasi dan 39 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Tanjung Pinang 1,51 persen dengan IHK 116,84 dan terendah terjadi di Surabaya 0,04 persen dengan IHK 111,66. Sedangkan deflasi tertinggi terjadi di Maumere 1,63 persen dengan IHK 121,62 dan terendah terjadi di Mataram 0,02 persen dengan IHK 115,13. Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh kenaikan indeks pada kelompok- kelompok barang dan jasa sebagai berikut : kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau 1,13 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas & bahan bakar 0,23 persen, kelompok sandang 0,72 persen, kelompok kesehatan 0,37 persen dan kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,26 persen. Sedangkan kelompok yang mengalami penurunan indeks adalah kelompok bahan makanan 0,67 persen dan kelompok transpor, komunikasi & jasa keuangan 0,31 persen. Laju inflasi tahun kalender (Januari-November) 2008 sebesar 11,10 persen, sedangkan laju inflasi year on year (November 2008 terhadap November 2007) sebesar 11,68 persen.
Download PDFIndeks Tendensi Bisnis (ITB) Pada Triwulan III-2008 Sebesar 111,12 Sedangkan Indeks Tendensi Konsumen (ITK) Triwulan III-2008 Di Jabodetabek Sebesar 102,78
2008-11-17
Indeks Tendensi Bisnis adalah indikator perkembangan ekonomi terkini yang datanya diperoleh dari Survei Tendensi Bisnis (STB) yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik bekerja sama dengan Bank Indonesia. Survei ini dilakukan setiap triwulan di beberapa kota besar terpilih di seluruh provinsi di Indonesia. Jumlah sampel STB Triwulan III-2008 sebanyak 2.500 perusahaan besar dan sedang, dengan responden pimpinan perusahaan. Kondisi Bisnis Triwulan III-2008 Indeks Tendensi Bisnis (ITB) pada Triwulan III-2008 sebesar 111,12, mengindikasikan kondisi bisnis pada Triwulan tersebut secara umum meningkat dibandingkan Triwulan II-2008. Peningkatan kondisi bisnis terjadi pada seluruh sektor ekonomi kecuali sektor Pertambangan dan Penggalian yang mengalami sedikit penurunan. Sektor Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan mengalami peningkatan paling tinggi dengan nilai indeks sebesar 122,26. Peningkatan kondisi bisnis terjadi karena adanya peningkatan pendapatan usaha, kapasitas produksi dan jumlah jam kerja. Sektor Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan mengalami peningkatan pendapatan usaha terbesar, sementara sektor Pertambangan dan Penggalian mengalami penurunan pendapatan usaha dan jumlah jam kerja. Prospek Bisnis Triwulan IV-2008 Nilai ITB Triwulan IV-2008 diperkirakan sebesar 111,06, berarti secara umum kondisi bisnis pada Triwulan tersebut diperkirakan akan meningkat dibandingkan Triwulan III-2008. Semua sektor pada Triwulan IV-2008 diperkirakan mengalami peningkatan kondisi bisnis, dengan sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan mengalami peningkatan tertinggi dengan nilai indeks sebesar 128,15. Indeks Tendensi Konsumen adalah indikator perkembangan ekonomi terkini yang dihasilkan Badan Pusat Statistik melalui Survei Tendensi Konsumen (STK). Survei ini dilakukan setiap triwulan di wilayah Jabodetabek dengan jumlah sampel 1.500 rumah tangga. Kondisi Ekonomi Konsumen Triwulan III-2008 Indeks Tendensi Konsumen (ITK) Triwulan III-2008 di Jabodetabek sebesar 102,78 yang berarti kondisi ekonomi konsumen pada Triwulan III-2008 lebih baik dibandingkan dengan kondisi triwulan sebelumnya. Peningkatan nilai ITK terjadi karena meningkatnya pendapatan rumah tangga dan adanya peningkatan konsumsi yang relatif tinggi pada konsumsi bukan makanan seperti biaya perumahan (listrik, telepon dan air), pendidikan dan transportasi, meskipun terdapat pengaruh inflasi terhadap konsumsi makanan sehari-hari. Kondisi Ekonomi Konsumen Triwulan IV-2008 Perkiraan nilai ITK Triwulan IV-2008 sebesar 101,25, berarti kondisi ekonomi konsumen pada Triwulan IV-2008 di Jabodetabek diperkirakan akan meningkat dibandingkan Triwulan III-2008. Ada indikasi bahwa kondisi ekonomi konsumen pada triwulan mendatang akan membaik karena perkiraan pendapatan konsumen masih meningkat, meskipun rencana pembelian barang tahan lama pada Triwulan IV-2008 diperkirakan menurun.
Download PDFPDB Triwulan III/2008 Meningkat 3,5 Persen
2008-11-17
Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada triwulan III-2008 meningkat sebesar 3,5 persen terhadap triwulan II-2008 (q-to-q). Peningkatan terjadi pada semua sektor ekonomi, dengan pertumbuhan tertinggi di sektor pertanian 6,7 persen dan terendah di sektor jasa-jasa 0,9 persen. Bila dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun 2007 (y-on-y), PDB Indonesia triwulan III-2008 ini mengalami pertumbuhan sebesar 6,1 persen, dimana semua sektor mengalami pertumbuhan, tertinggi di sektor pengangkutan dan komunikasi 17,1 persen dan terendah disektor pertambangan dan penggalian 1,6 persen. Pertumbuhan PDB tanpa migas pada triwulan III-2008 mencapai 6,6 persen (y-on-y), yang berarti lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan PDB keseluruhan yang besarnya 6,1 persen. Secara kumulatif, pertumbuhan PDB Indonesia hingga triwulan III-2008 dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2007 (c-to-c) tumbuh sebesar 6,3 persen. Besaran PDB Indonesia atas dasar harga berlaku pada triwulan III-2008 Rp1.343,8 triliun sehingga kumulatif triwulan ke III-2008 mencapai Rp3.705,3 triliun. Dari sisi penggunaan, pertumbuhan PDB triwulan III-2008 terhadap triwulan sebelumnya didorong oleh kenaikan konsumsi rumah tangga sebesar 1,9 persen, konsumsi pemerintah 7,9 persen, pembentukan modal tetap bruto (PMTB) sebesar 5,4 persen, ekspor sebesar 0,0 persen, dan impor 1,2 persen. Pertumbuhan PDB penggunaan triwulan III-2008 dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun 2007 (6,1 persen) ditopang oleh pertumbuhan konsumsi pemerintah 16,9 persen, ekspor 14,3 persen, PMTB 12,0 persen, impor 11,9 persen dan konsumsi rumah tangga 5,3 persen. Struktur perekonomian Indonesia secara spasial masih didominasi oleh Pulau Jawa yang memberikan kontribusi terhadap PDB nasional sebesar 57,5 persen, kemudian diikuti oleh Pulau Sumatera sebesar 23,8 persen, Pulau Kalimantan 10,1 persen, Pulau Sulawesi 4,1 persen dan lainnya sebesar 4,5 persen.
Download PDFIndustri Pengolahan Besar Dan Sedang Pada Tahun 2007 Mengalami Kenaikan Produksi Sebesar 5,57 Persen Dari Tahun 2006
2008-11-03
Industri Pengolahan Besar dan Sedang pada Tahun 2007 mengalami kenaikan produksi sebesar 5,57 persen dari Tahun 2006. Pertumbuhan produksi tersebut terutama disebabkan oleh peningkatan produksi yang sangat tinggi pada Industri Radio, Televisi, Peralatan Komunikasi, dan Perlengkapannya sebesar 50,46 persen. Produksi Industri Pengolahan Besar dan Sedang pada Triwulan III Tahun 2008 naik sebesar 1,60 persen dibandingkan Triwulan III Tahun 2007 (y-on-y). Industri penyumbang utama kenaikan tersebut adalah Industri Alat Angkutan selain Kendaraan Bermotor Roda Empat atau Lebih sebesar 48,03 persen serta Industri Furnitur dan Pengolahan Lainnya sebesar 43,43 persen. Produksi Industri Pengolahan Besar dan Sedang pada Triwulan III Tahun 2008 naik sebesar 3,30 persen dari Triwulan II Tahun 2008 (q-to-q). Kenaikan tersebut terutama karena kontribusi dari kenaikan Industri Radio, Televisi, dan Peralatan Komunikasi, serta Perlengkapannya sebesar 15,21 persen, Industri Makanan dan Minuman sebesar 10,39 persen, dan Industri Pengolahan Tembakau sebesar 9,10 persen. Sebaliknya bulan September 2008, produksi Industri Pengolahan Besar dan Sedang mengalami penurunan produksi sebesar 1,79 persen dari bulan Agustus 2008 (m-to-m). Begitu juga produksi industri pada bulan September 2008 menurun sebesar 0,85 persen dari bulan September 2007 (y-on-y).
Download PDFNTP September 2008 Turun 0,31 Persen
2008-11-03
Pada September 2008, Nilai Tukar Petani Tanaman Pangan (NTPP) tercatat sebesar 98,62, Nilai Tukar Petani Hortikultura (NTPH) 100,06, Nilai Tukar Petani Tanaman Perkebunan Rakyat (NTPR) 113,30, Nilai Tukar Petani Peternakan (NTPT) 101,50, dan untuk Nilai Tukar Nelayan (NTN) 102,73. Secara gabungan, Nilai Tukar Petani (NTP) nasional sebesar 101,69. Ini berarti mengalami penurunan bila dibandingkan dengan bulan sebelumnya yaitu sebesar 0,31 persen. Dari 32 provinsi yang dilaporkan pada September 2008, terdapat 12 provinsi mengalami kenaikan dan 20 provinsi mengalami penurunan. Kenaikan tertinggi NTP September 2008 terjadi di Provinsi Sulawesi Barat, yaitu sebesar 2,81 persen, karena indeks yang diterima naik hingga 3,68 persen, sedang indeks yang dibayar hanya naik 1,03 persen. Penurunan NTP terbesar terjadi di Provinsi Jambi yang turun sebesar 4,93 persen, disebabkan indeks yang diterima turun sebesar 4,40 persen dibandingkan indeks yang dibayar yang naik 0,62 persen. Pada September 2008, terjadi inflasi di daerah pedesaan di Indonesia sebesar 0,84 persen. Inflasi pedesaan September 2008 ini dipengaruhi oleh kenaikan indeks harga di seluruh subkelompok yang ada, yaitu: bahan makanan 0,81 persen, makanan jadi, minuman & rokok 0,53 persen, perumahan 1,57 persen, sandang 1,15 persen, kesehatan 0,47 persen, pendidikan, rekreasi & olah raga 0,46 pesen, serta transportasi dan komunikasi 0,40 persen. Berdasarkan observasi sebanyak 781 transaksi gabah di 17 provinsi, rata-rata harga gabah di tingkat petani pada Oktober 2008 dibandingkan keadaan September 2008 untuk kualitas Gabah Kering Giling (GKG) mengalami kenaikan, yaitu naik sebesar 2,95 persen. Sedangkan kualitas Gabah Kering Panen (GKP) dan kualitas rendah/diluar kelompok kualitas mengalami penurunan, yaitu GKP turun sebesar 0,92 persen dan kualitas Rendah turun sebesar 1,50 persen. Rata-rata harga gabah di tingkat penggilingan untuk kualitas GKG mencapai Rp 2.968,- per kg, berada di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Dan rata-rata harga gabah untuk kualitas GKP mencapai Rp 2.575,- per kg di tingkat petani dan Rp 2.641,- per kg di tingkat penggilingan, keduanya berada di atas HPP. Persentase observasi harga gabah di tingkat penggilingan yang berada di bawah HPP mengalami penurunan, yaitu dari 3,12 persen pada September 2008 menjadi 2,38 persen pada Oktober 2008. Persentase observasi gabah berkualitas rendah juga mengalami penurunan, yaitu dari 10,61 persen pada September 2008 menjadi 8,71 persen pada Oktober 2008. Harga gabah terendah di tingkat petani sebesar Rp 1.900,- per kg dijumpai di Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat (kualitas Rendah). Harga tertinggi sebesar Rp 3.350,- per kg dijumpai di Kabupaten Serdang Bedage, Provinsi Sumatera Utara (kualitas GKG). Upah nominal harian buruh tani Nasional pada September 2008 naik sebesar 0,30 persen dibanding upah Agustus 2008, yaitu dari Rp 35.348,- menjadi Rp 35.455,- per hari. Secara riil mengalami penurunan sebesar 0,53 persen*). Upah nominal harian buruh bangunan (tukang bukan mandor) pada Oktober 2008 naik 8,56 persen dibanding upah September 2008, yaitu dari Rp 48.305,- menjadi Rp 52.440,- per hari. Secara riil naik sebesar 8,07 persen*). Upah nominal bulanan buruh industri pada triwulan II 2008 turun sebesar 0,33 persen dibanding upah triwulan I 2008 yaitu dari Rp 1.148.080,- menjadi Rp 1.144.260,-, secara riil turun 4,61 persen*). Dibanding upah triwulan II 2007 (year on year), upah nominal naik 14,0 persen.
Download PDF