Logo BPS
BPS REPUBLIK INDONESIA

Berita Statistik BPS Republik Indonesia

PDB tahun 2007 naik 6,3 persen terhadap tahun 2006

PDB tahun 2007 naik 6,3 persen terhadap tahun 2006

2008-02-15

Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tahun 2007 meningkat sebesar 6,3 persen terhadap tahun 2006, terjadi pada semua sektor ekonomi, dengan pertumbuhan tertinggi di sektor pengangkutan-komunikasi 14,4 persen dan terendah di sektor pertambangan-penggalian 2,0 persen. Pertumbuhan PDB tanpa migas pada tahun 2007 mencapai 6,9 persen. Besaran PDB Indonesia pada tahun 2007 atas dasar harga berlaku mencapai Rp 3.957,4 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan (tahun 2000) mencapai Rp 1.964,0 triliun. Secara triwulanan, PDB Indonesia triwulan IV/2007 dibandingkan dengan triwulan III/2007 (q-to-q) menurun sebesar minus 2,1 persen, dan bila dibandingkan dengan triwulan IV/2006 (y-on-y) tumbuh sebesar 6,3 persen. Dari sisi penggunaan, sebagian besar PDB digunakan untuk memenuhi konsumsi rumah tangga yaitu sebesar 63,5 persen, konsumsi pemerintah 8,3 persen, pembentukan modal tetap bruto atau investasi fisik 24,9 persen serta ekspor neto 4,1 persen (ekspor 29,4 persen dan impor 25,3 persen). Semua komponen PDB penggunaan mengalami pertumbuhan pada tahun 2007, dengan pertumbuhan tertinggi pada pembentukan modal tetap bruto sebesar 9,2 persen, diikuti oleh ekspor 8,0 persen, konsumsi rumah tangga 5,0 persen, pengeluaran konsumsi pemerintah 3,9 persen, serta impor sebesar 8,9 persen. Sumber utama pertumbuhan ekonomi 6,3 persen adalah ekspor 3,8 persen, diikuti konsumsi rumahtangga 2,9 persen, pembentukan modal tetap bruto 2,0 persen, konsumsi pemerintah 0,3 persen serta impor 3,3 persen. PDB per-kapita atas dasar harga berlaku pada tahun 2007 mencapai Rp 17.6 juta (US$ 1.946,1), lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2006 sebesar Rp 15,0 juta (US$ 1.662,6), sementara Produk Nasional Bruto (PNB) per-kapita tahun 2007 mencapai Rp 16,9 juta, juga lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya Rp 14,4 juta. Walaupun kontribusinya semakin menurun pulau Jawa masih merupakan penyumbang terbesar dalam pembentukan PDB Indonesia Triwulan IV 2007 sebesar 58,2 persen. Pulau Sumatera kontribusinya sebesar 23,2 persen, Kalimantan 9,8 persen, Sulawesi 4,3 persen dan kelompok propinsi-propinsi lainnya secara keseluruhan menyumbang 4,5 persen.

Download PDF
Pada November 2007, NTP naik 0,15 persen.

Pada November 2007, NTP naik 0,15 persen.

2008-02-01

"Pada November 2007, Nilai Tukar Petani (NTP) tercatat 106,83 atau naik 0,15 persen dibanding NTP Oktober 2007 yang mencapai 106,67. Hal ini disebabkan karena kenaikan Indeks harga yang diterima petani sebesar 0,90 persen, lebih besar dibandingkan dengan kenaikan Indeks harga yang dibayar petani sebesar 0,75 persen. Dari 23 Provinsi yang dilaporkan pada November 2007, 12 Provinsi mengalami kenaikan dan 11 Provinsi mengalami penurunan. Kenaikan NTP tertinggi terjadi di Provinsi Bengkulu, yaitu sebesar 4,29 persen karena harga produsen tomat naik 23,33 persen, sedangkan penurunan NTP terbesar terjadi di Provinsi Sulawesi Tenggara, yaitu sebesar 8,33 persen, karena harga produsen kopi turun 44,44 persen. Pada November 2007, terjadi inflasi di daerah perdesaan Indonesia sebesar 0,81 persen. Inflasi perdesaan terjadi karena kenaikan indeks harga di semua sub kelompok yaitu: makanan sebesar 0,83 persen, perumahan sebesar 0,84 persen, pakaian sebesar 0,96 persen, dan aneka barang dan jasa sebesar 0,50 persen. Berdasarkan observasi sebanyak 480 transaksi gabah di 16 provinsi, rata-rata harga gabah di tingkat petani pada Januari 2008 dibandingkan keadaan Desember 2007 adalah sebagai berikut: untuk kualitas Gabah Kering Giling (GKG) naik sebesar 9,08 persen, kualitas Gabah Kering Panen (GKP) naik sebesar 9,97 persen, dan kualitas rendah turun sebesar 1,73 persen. Rata-rata harga gabah di tingkat penggilingan untuk kualitas GKG mencapai Rp2.932,- per kg, berada di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Rata-rata harga gabah untuk kualitas GKP mencapai Rp2.620,- per kg di tingkat petani dan Rp2.677,- per kg di tingkat penggilingan, keduanya berada di atas HPP. Persentase observasi harga gabah di tingkat penggilingan yang berada di bawah HPP turun, yaitu dari 9,76 persen pada Desember 2007 menjadi 2,73 persen pada Januari 2008. Persentase observasi gabah berkualitas rendah turun, yaitu dari 12,50 persen pada Desember 2007 menjadi 8,54 persen pada Januari 2008. Harga gabah terendah di tingkat petani sebesar Rp1.650,- per kg dijumpai di Kabupaten Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara dengan kualitas GKP dan Rendah. Harga tertinggi sebesar Rp4.200,- per kg dijumpai di Kabupaten Penajam Pasir Utara, Provinsi Kalimantan Timur dengan kualitas GKP. Upah nominal harian buruh tani pada November 2007 naik sebesar 0,59 persen dibanding upah Oktober 2007, yaitu dari Rp 15.345,- menjadi Rp 15.436,- per hari. Secara riil mengalami penurunan sebesar 0,19 persen*). Dibanding upah November 2006 (year on year) upah nominal naik 10,01 persen. Upah nominal harian buruh bangunan (tukang bukan mandor) pada Januari 2008 naik 0,36 persen dibanding upah Desember 2007, yaitu dari Rp 37.252,- menjadi Rp 37.386,- per hari. Secara riil turun sebesar 1,39 persen*). Dibanding upah Januari 2007 (year on year), upah nominal naik 6,47 persen. Upah nominal bulanan buruh industri pada triwulan II 2007 naik sebesar 1,99 persen dibanding upah triwulan I 2007 yaitu dari Rp 1.071.278,- menjadi Rp 1.092.616,- per bulan, secara riil naik 1,82 persen*). Dibanding upah triwulan II 2006 (year on year), upah nominal naik 9,97 persen."

Download PDF
Jumlah wisman Desember 2007 naik 10,29 persen dibanding Desember 2006.

Jumlah wisman Desember 2007 naik 10,29 persen dibanding Desember 2006.

2008-02-01

Jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang datang ke Indonesia melalui 15 pintu masuk pada Desember 2007 mencapai 431,0 ribu orang, mengalami kenaikan 10,29 persen dibanding jumlah wisman Desember 2006 sebanyak 390,8 ribu orang. Dibanding November 2007, wisman Desember 2007 juga mengalami kenaikan sebesar 7,86 persen. Jumlah wisman ke Bali pada Desember 2007 naik 19,89 persen dibanding Desember 2006. Begitu pula jika dibanding November 2007, jumlah wisman ke Bali mengalami kenaikan sebesar 3,95 persen, yaitu dari 148,4 ribu orang menjadi 154,2 ribu orang pada Desember 2007. Jumlah wisman dari 15 pintu masuk selama Januari-Desember 2007, mencapai 4,54 juta orang atau meningkat 13,35 persen dibanding jumlah wisman pada periode yang sama tahun 2006 sebanyak 4,01 juta orang. Secara keseluruhan, jumlah wisman yang datang ke Indonesia pada tahun 2007 (termasuk di luar 15 pintu masuk utama) mencapai 5,51 juta orang atau meningkat 13,02 persen jika dibanding jumlah wisman tahun 2006 sebesar 4,87 juta orang. Total pengeluaran wisman di Indonesia (perkiraan devisa yang masuk) untuk tahun 2007 mencapai US$ 5,3 milyar atau naik 20,45 persen dibanding penerimaan devisa tahun 2006 sebesar US$ 4,4 milyar. Tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang di 10 Daerah Tujuan Wisata (DTW) pada Nopember 2007 mencapai rata-rata 52,88 persen, atau naik 5,42 poin dibanding TPK Oktober 2007 sebesar 47,46 persen. TPK hotel berbintang di Bali naik dari 59,84 persen pada Oktober 2007 menjadi 60,58 persen pada Nopember 2007. Rata-rata lama menginap tamu asing dan Indonesia pada hotel berbintang selama Nopember 2007 adalah 2,21 hari, turun 0,06 hari dibandingkan Oktober 2007.

Download PDF
Nilai ekspor Indonesia Desember 2007 naik 10,71 persen,  nilai impor Indonesia turun 9,70 persen.

Nilai ekspor Indonesia Desember 2007 naik 10,71 persen, nilai impor Indonesia turun 9,70 persen.

2008-02-01

Nilai ekspor Indonesia Desember 2007 mencapai US$ 10,86 miliar atau mengalami peningkatan sebesar 10,71 persen dibanding ekspor November 2007, sementara itu bila dibanding Desember 2006 mengalami peningkatan sebesar 13,05 persen. Ekspor nonmigas Desember 2007 mencapai US$ 8,36 miliar, naik 8,06 persen dibanding November 2007, sedangkan dibanding ekspor Desember 2006 meningkat 8,30 persen. Secara kumulatif nilai ekspor Indonesia Januari - Desember 2007 mencapai US$ 113,99 miliar atau meningkat 13,09 persen dibanding periode yang sama tahun 2006, sementara ekspor nonmigas mencapai US$ 91,94 miliar atau meningkat 15,51 persen. Peningkatan ekspor nonmigas terbesar Desember 2007 terjadi pada lemak & minyak hewan/nabati sebesar US$ 975,3 juta, sedangkan penurunan nonmigas terbesar terjadi pada mesin/peralatan listrik sebesar US$ 178,0 juta. Ekspor nonmigas ke Amerika Serikat Desember 2007 mencapai angka terbesar yaitu US$ 1,03 milyar, disusul Jepang US$ 858,0 juta dan Singapura US$ 652,0 juta, dengan kontribusi ketiganya mencapai 30,40 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa ( 27 negara ) sebesar US$ 1,28 milyar. Menurut sektor, ekspor hasil pertanian, hasil industri serta hasil tambang dan lainnya pada periode Januari- Desember 2007 meningkat masing-masing sebesar 17,01 persen, 16,76 persen dan 7,81 persen dibanding periode yang sama tahun 2006. Nilai impor Indonesia Desember 2007 mencapai US$ 6,80 miliar atau menurun 9,70 persen dibanding Nopember 2007 sebesar US$ 7,54 miliar, sedangkan selama Januari-Desember 2007 nilai impor mencapai US$ 74,40 miliar atau meningkat 21,84 persen dibanding periode yang sama tahun 2006 sebesar US$ 61,07 miliar. Impor Nonmigas Desember 2007 mencapai US$ 4,42 miliar atau menurun 13,76 persen dibanding impor Nopember 2007, sedangkan selama Januari-Desember 2007 mencapai US$ 52,52 miliar atau meningkat sebesar 24,75 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Impor Migas Desember 2007 mencapai US$ 2,39 miliar atau menurun 1,09 persen dibanding impor Nopember 2007, sedangkan selama Januari-Desember 2007 mencapai US$ 21,88 miliar atau meningkat 15,38 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Selama Januari-Desember 2007 impor nonmigas terbesar terjadi pada mesin/pesawat mekanik dengan nilai US$ 9,33 miliar atau 17,76 persen dari total impor nonmigas. Negara pemasok barang impor nonmigas terbesar ditempati oleh Cina dengan nilai US$ 7,95 miliar dengan pangsa 15,14 persen, diikuti Jepang US$ 6,46 miliar (12,30 persen) dan Amerika Serikat US$ 4,71 miliar (8,98 persen). Sementara impor nonmigas dari ASEAN mencapai 21,42 persen dan Uni Eropa sebesar 14,57 persen. Menurut golongan penggunaan barang, impor barang konsumsi dan bahan baku/penolong selama Januari-Desember 2007 meningkat masing-masing sebesar 39,80 persen dan 19,83 persen dibanding periode yang sama tahun 2006. Sedangkan impor barang modal meningkat sebesar 22,89 persen

Download PDF
Pada bulan Januari 2008 terjadi inflasi 1,77 persen.

Pada bulan Januari 2008 terjadi inflasi 1,77 persen.

2008-02-01

Pada bulan Januari 2008 terjadi inflasi 1,77 persen. Dari 45 kota tercatat seluruhnya mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Palangkaraya 5,02 persen dan inflasi terendah di Manado 0,10 persen. Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh kenaikan indeks pada kelompok- kelompok barang dan jasa sebagai berikut : kelompok bahan makanan 2,77 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau 2,02 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas & bahan bakar 1,80 persen, kelompok sandang 2,31 persen, kelompok kesehatan 0,72 persen, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,01 persen, dan kelompok transpor, komunikasi & jasa keuangan 0,24 persen. Laju inflasi tahun kalender (Januari) 2008 sebesar 1,77 persen, sedangkan laju inflasi “year on year” (Januari 2008 terhadap Januari 2007) sebesar 7,36 persen. Inflasi komponen inti pada bulan Januari 2008 sebesar 1,52 persen, laju inflasi komponen inti tahun kalender (Januari) 2008 sebesar 1,52 persen, sedangkan laju inflasi komponen inti year on year (Januari 2008 terhadap Januari 2007) sebesar 7,11 persen.

Download PDF
Pada Oktober 2007, NTP naik 0,35 persen.

Pada Oktober 2007, NTP naik 0,35 persen.

2008-01-02

Pada Oktober 2007, Nilai Tukar Petani (NTP) tercatat 106,67 atau naik 0,35 persen dibanding NTP September 2007 yang mencapai 106,30. Hal ini disebabkan karena kenaikan Indeks harga yang diterima petani sebesar 1,16 persen, lebih besar dibandingkan dengan kenaikan Indeks harga yang dibayar petani sebesar 0,81 persen. Dari 23 Provinsi yang dilaporkan pada Oktober 2007, 15 Provinsi mengalami kenaikan, 1 Provinsi stabil, dan 7 Provinsi mengalami penurunan. Kenaikan NTP tertinggi terjadi di Provinsi Bali, yaitu sebesar 3,81 persen karena harga produsen jeruk naik 23,53 persen, sedangkan penurunan NTP terbesar terjadi di Provinsi Sulawesi Utara, yaitu sebesar 6,73 persen, karena harga produsen cengkeh turun 4,29 persen. Pada Oktober 2007, terjadi inflasi di daerah perdesaan Indonesia sebesar 1,11 persen. Inflasi perdesaan terjadi karena kenaikan indeks harga di semua sub kelompok yaitu: makanan sebesar 1,44 persen, perumahan sebesar 0,63 persen, pakaian sebesar 1,49 persen, dan aneka barang dan jasa sebesar 0,53 persen. Berdasarkan observasi sebanyak 632 transaksi gabah di 19 provinsi, rata-rata harga gabah di tingkat petani pada Desember 2007 dibandingkan keadaan November 2007 adalah sebagai berikut: untuk kualitas Gabah Kering Giling (GKG) ) naik sebesar 1,28 persen, kualitas Gabah Kering Panen (GKP) naik sebesar 2,20 persen, dan kualitas rendah naik sebesar 4,03 persen. Rata-rata harga gabah di tingkat penggilingan untuk kualitas GKG mencapai Rp2.683,- per kg, berada di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Rata-rata harga gabah untuk kualitas GKP mencapai Rp2.382,- per kg di tingkat petani dan Rp2.440,- per kg di tingkat penggilingan, keduanya berada di atas HPP. Persentase observasi harga gabah di tingkat penggilingan yang berada di bawah HPP naik, yaitu dari 7,52 persen pada November 2007 menjadi 9,76 persen pada Desember 2007. Persentase observasi gabah berkualitas rendah turun, yaitu dari 22,87 persen pada November 2007 menjadi 12,50 persen pada Desember 2007. Harga gabah terendah di tingkat petani sebesar Rp1.700,- per kg dijumpai di Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat dengan kualitas Rendah. Harga tertinggi sebesar Rp3.500,- per kg dijumpai di Kabupaten Tanah Laut, Provinsi Kalimantan Selatan dengan kualitas GKP. Upah nominal harian buruh tani pada Oktober 2007 naik sebesar 0,13 persen dibanding upah September 2007, yaitu dari Rp 15.325,- menjadi Rp 15.345,- per hari. Secara riil mengalami penurunan sebesar 1,00 persen*). Dibanding upah Oktober 2006 (year on year) upah nominal naik 9,88 persen. Upah nominal harian buruh bangunan (tukang bukan mandor) pada Desember 2007 naik 1,61 persen dibanding upah November 2007, yaitu dari Rp 36.663,- menjadi Rp 37.252,- per hari. Secara riil naik sebesar 0,51 persen*). Dibanding upah Desember 2006 (year on year), upah nominal naik 7,39 persen. Upah nominal bulanan buruh industri pada triwulan II 2007 naik sebesar 1,99 persen dibanding upah triwulan I 2007 yaitu dari Rp 1.071.278,- menjadi Rp 1.092.616,- per bulan, secara riil naik 1,82 persen*). Dibanding upah triwulan II 2006 (year on year), upah nominal naik 9,97 persen.

Download PDF
Jumlah wisman pada November 2007 naik 8,57 persen dibanding November 2006.

Jumlah wisman pada November 2007 naik 8,57 persen dibanding November 2006.

2008-01-02

Jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang datang ke Indonesia melalui 15 pintu masuk pada November 2007 mencapai 399,0 ribu orang, mengalami kenaikan 8,57 persen dibanding jumlah wisman November 2006 sebanyak 367,5 ribu orang. Dibanding Oktober 2007, wisman November 2007 juga mengalami kenaikan sebesar 13,56 persen. Jumlah wisman ke Bali pada November 2007 naik 24,40 persen dibanding November 2006. Dibanding Oktober 2007, jumlah wisman ke Bali mengalami penurunan sebesar 3,04 persen, yaitu dari 153,0 ribu orang menjadi 148,4 ribu orang pada November 2007. Jumlah wisman dari 15 pintu masuk selama Januari-November 2007, mencapai 4,11 juta orang atau meningkat 13,67 persen dibanding jumlah wisman pada periode yang sama tahun 2006 sebanyak 3,62 juta orang. Tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang di 10 Daerah Tujuan Wisata (DTW) pada Oktober 2007 mencapai rata-rata 47,46 persen, atau naik 1,09 poin dibanding TPK September 2007 sebesar 46,37 persen. TPK hotel berbintang di Bali naik dari 56,23 persen pada September 2007 menjadi 59,84 persen pada Oktober 2007. Rata-rata lama menginap tamu asing dan Indonesia pada hotel berbintang selama Oktoberber 2007 adalah 2,27 hari, turun 0,08 hari dibandingkan September 2007.

Download PDF
Nilai ekspor Indonesia November 2007 turun 4,26 persen. Nilai impor Indonesia naik 20,45 persen

Nilai ekspor Indonesia November 2007 turun 4,26 persen. Nilai impor Indonesia naik 20,45 persen

2008-01-02

Nilai ekspor Indonesia November 2007 mencapai US$ 9,81 miliar atau mengalami penurunan sebesar 4,26 persen dibanding ekspor Oktober 2007, sementara itu bila dibanding November 2006 mengalami peningkatan sebesar 10,04 persen. Ekspor nonmigas November 2007 mencapai US$ 7,73 miliar, turun 6,51 persen dibanding Oktober 2007, sedangkan dibanding ekspor November 2006 meningkat 7,87 persen. Secara kumulatif nilai ekspor Indonesia Januari-November 2007 mencapai US$ 103,07 miliar atau meningkat 13,04 persen dibanding periode yang sama tahun 2006, sementara ekspor nonmigas mencapai US$ 83,53 miliar atau meningkat 16,22 persen. Penurunan ekspor nonmigas terbesar November 2007 terjadi pada lemak & minyak hewan/nabati sebesar US$ 1,13 milyar, sedangkan peningkatan nonmigas terbesar terjadi pada karet dan barang dari karet sebesar US$ 101,1 juta. Ekspor nonmigas ke Amerika Serikat November 2007 mencapai angka terbesar yaitu US$ 1,02 milyar, disusul Jepang US$ 924,1 juta dan Singapura US$ 751,9 juta, dengan kontribusi ketiganya mencapai 34,88 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa ( 27 negara ) sebesar US$ 1,07 milyar. Menurut sektor, ekspor hasil pertanian, hasil industri serta hasil tambang dan lainnya pada periode Januari-November 2007 meningkat masing-masing sebesar 15,43 persen, 16,63 persen dan 14,03 persen dibanding periode yang sama tahun 2006. Nilai impor Indonesia November 2007 mencapai US$ 7,54 miliar atau meningkat 20,45 persen dibanding Oktober 2007 sebesar US$ 6,26 miliar, sedangkan selama Januari-November 2007 nilai impor mencapai US$ 67,57 miliar atau meningkat 20,45 persen dibanding periode yang sama tahun 2006 sebesar US$ 56,10 miliar. Impor Nonmigas November 2007 mencapai US$ 5,12 miliar atau meningkat 14,56 persen dibanding impor Oktober 2007, sedangkan selama Januari-November 2007 mencapai US$ 48,10 miliar atau meningkat sebesar 24,93 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Impor Migas November 2007 mencapai US$ 2,41 miliar atau meningkat 35,22 persen dibanding impor Oktober 2007, sedangkan selama Januari-November 2007 mencapai US$ 19,47 miliar atau meningkat 10,63 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Selama Januari-November 2007 impor nonmigas terbesar terjadi pada mesin/pesawat mekanik dengan nilai US$ 8,57 miliar atau 17,81 persen dari total impor nonmigas. Negara pemasok barang impor nonmigas terbesar ditempati oleh Cina dengan nilai US$ 7,28 miliar dengan pangsa 15,13 persen, diikuti Jepang US$ 5,98 miliar (12,43 persen) dan Amerika Serikat US$ 4,33 miliar (9,00 persen). Sementara impor nonmigas dari ASEAN mencapai 21,66 persen dan Uni Eropa sebesar 14,12 persen. Menurut golongan penggunaan barang, impor barang konsumsi dan bahan baku/penolong selama Januari-November 2007 meningkat masing-masing sebesar 39,46 persen dan 18,43 persen dibanding periode yang sama tahun 2006. Sedangkan impor barang modal meningkat sebesar 21,01

Download PDF
Pada bulan Desember 2007 terjadi inflasi 1,10 persen

Pada bulan Desember 2007 terjadi inflasi 1,10 persen

2008-01-02

Pada bulan Desember 2007 terjadi inflasi 1,10 persen. Seluruh 45 kota IHK mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Banda Aceh 3,76 persen dan inflasi terendah di Pangkal Pinang 0,03 persen. Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga pada kelompok barang dan jasa sebagai berikut : kelompok bahan makanan 2,47 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau 0,91 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas & bahan bakar 0,63 persen, kelompok sandang 0,99 persen, kelompok kesehatan 0,41 persen, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,12 persen, dan kelompok transpor, komunikasi & jasa keuangan 0,22 persen. Laju inflasi tahun kalender (Januari - Desember) 2007 sama dengan laju inflasi “year on year” (Desember 2007 terhadap Desember 2006) sebesar 6,59 persen. Inflasi komponen inti pada bulan Desember 2007 sebesar 0,68 persen. Laju inflasi komponen inti tahun kalender (Januari - Desember) 2007 sama dengan laju inflasi komponen inti “year on year” (Desember 2007 terhadap Desember 2006) sebesar 6,29 persen.

Download PDF
Pada September 2007, NTP tercatat 106,30 atau naik 0,32 persen.

Pada September 2007, NTP tercatat 106,30 atau naik 0,32 persen.

2007-12-03

Pada September 2007, Nilai Tukar Petani (NTP) tercatat 106,30 atau naik 0,32 persen dibanding NTP Agustus 2007 yang mencapai 105,95. Hal ini disebabkan karena kenaikan Indeks harga yang diterima petani sebesar 1,39 persen, lebih besar dibandingkan dengan kenaikan Indeks harga yang dibayar petani sebesar 1,07 persen. Dari 23 Provinsi yang dilaporkan pada September 2007, 15 Provinsi mengalami kenaikan dan 8 Provinsi mengalami penurunan. Kenaikan NTP tertinggi terjadi di Provinsi Sulawesi Tengah, yaitu sebesar 5,28 persen karena harga produsen gabah naik 24,44 persen, sedangkan penurunan NTP terbesar terjadi di Provinsi Bali, yaitu sebesar 5,62 persen, karena harga produsen salak turun 12,90 persen. Pada September 2007, terjadi inflasi di daerah perdesaan Indonesia sebesar 1,15 persen. Inflasi perdesaan terjadi karena kenaikan indeks harga di semua sub kelompok yaitu: makanan sebesar 1,32 persen, perumahan sebesar 1,17 persen, pakaian sebesar 1,41 persen, dan aneka barang dan jasa sebesar 0,51 persen.

Download PDF