Berita Statistik BPS Republik Indonesia
Pada Bulan Mei 2009 Terjadi Inflasi Sebesar 0,04 Persen
2009-06-01
Pada bulan Mei 2009 terjadi inflasi sebesar 0,04 persen dengan indeks harga konsumen (IHK) sebesar 113,97. Dari 66 kota, tercatat 40 kota mengalami inflasi dan 26 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Maumere 1,58 persen dengan IHK 122,98 dan terendah terjadi di Depok 0,01 persen dengan IHK 112,68. Sedangkan deflasi tertinggi terjadi di Jayapura 1,31 persen dengan IHK 113,70 dan terendah terjadi di Madiun 0,03 persen dengan IHK 117,69. Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh kenaikan indeks pada kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau 0,48 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar 0,09 persen; kelompok kesehatan 0,62 persen dan kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,07 persen. Sedangkan kelompok yang mengalami penurunan indeks adalah kelompok bahan makanan 0,25 persen dan kelompok sandang 0,48 persen. Kelompok transpor, komunikasi & jasa keuangan pada bulan Mei 2009 relatif stabil. Laju inflasi tahun kalender (Januari-Mei) 2009 sebesar 0,10 persen, sedangkan laju inflasi year on year (Mei 2009 terhadap Mei 2008) sebesar 6,04 persen. Komponen inti pada bulan Mei 2009 mengalami inflasi sebesar 0,13 persen, laju inflasi komponen inti tahun kalender (Januari-Mei) 2009 sebesar 1,68 persen, sedangkan laju inflasi komponen inti year on year (Mei 2009 terhadap Mei 2008) sebesar 6,64 persen.
Download PDFJumlah Angkatan Kerja di Indonesia pada Februari 2009 Mencapai 113,74 Juta Orang
2009-05-15
Jumlah angkatan kerja di Indonesia pada Februari 2009 mencapai 113,74 juta orang, bertambah 1,79 juta orang dibanding jumlah angkatan kerja Agustus 2008 sebesar 111,95 juta orang, atau bertambah 2,26 juta orang dibanding Februari 2008 sebesar 111,48 juta orang. Jumlah penduduk yang bekerja di Indonesia pada Februari 2009 mencapai 104,49 juta orang, bertambah 1,94 juta orang dibanding keadaan pada Agustus 2008 sebesar 102,55 juta orang, atau bertambah 2,44 juta orang dibanding keadaan Februari 2008 sebesar 102,05 juta orang. Tingkat pengangguran terbuka di Indonesia pada Februari 2009 mencapai 8,14 persen, mengalami penurunan apabila dibandingkan pengangguran Agustus 2008 sebesar 8,39 persen, dan pengangguran Februari 2008 sebesar 8,46 persen. Dibanding Februari 2008, hampir seluruh sektor mengalami peningkatan lapangan kerja, kecuali sektor konstruksi yang mengalami penurunan lapangan kerja sebanyak 120 ribu orang dan sektor transportasi, pergudangan dan komunikasi yang menurun sebanyak 60 ribu orang. Sektor yang mengalami kenaikan terbesar adalah sektor perdagangan yaitu naik 1,16 juta orang, sektor jasa kemasyarakatan naik 830 ribu orang, dan sektor pertanian naik 340 ribu orang. Pada Februari 2009, jumlah penduduk yang bekerja sebagai buruh/karyawan sebanyak 28,91 juta orang (27,67 persen), berusaha dibantu buruh tidak tetap sebanyak 21,64 juta orang (20,71 persen) dan berusaha sendiri sejumlah 20,81 juta orang (19,92 persen). Berdasarkan jumlah jam kerja maka pada Februari 2009 penduduk yang bekerja diatas 35 jam per minggu mencapai 73,12 juta orang (69,98 persen), sedangkan yang bekerja dengan jumlah jam kerja kurang dari 8 jam per minggu hanya sekitar 1,58 juta orang (1,51 persen). Pekerja dengan pendidikan SD ke bawah mengalami penurunan sebanyak 190 ribu orang dalam setahun terakhir (Februari 2008 – Februari 2009), namun jumlahnya masih tetap mendominasi lapangan kerja di Indonesia yaitu sebanyak 55,43 juta orang (53,05 persen) pada Februari 2009.
Download PDFPertumbuhan Ekonomi Indonesia Pada Triwulan I-2009 Dibandingkan Triwulan IV-2008, yang diukur dari kenaikan Produk Domestik Bruto (PDB) Meningkat Sebesar 1,6 Persen (q-to-q).
2009-05-15
Perekonomian Indonesia yang diukur berdasarkan besaran PDB atas dasar harga berlaku pada triwulan I-2009 mencapai Rp1.300,3 triliun, sedangkan PDB atas dasar harga konstan 2000 besarnya mencapai Rp527,3 triliun Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I-2009 dibandingkan triwulan IV-2008, yang diukur dari kenaikan Produk Domestik Bruto (PDB) meningkat sebesar 1,6 persen (q-to-q). Pertumbuhan ini terjadi pada sektor pertanian, sektor listrik-gas-air bersih, sektor pengangkutan-komunikasi, sektor keuangan-real estat-jasa perusahaan dan sektor jasa-jasa. Pertumbuhan tertinggi dihasilkan oleh sektor pertanian sebesar 19,3 persen, utamanya disebabkan oleh siklus panen raya tanaman padi tahunan yang terjadi pada triwulan I-2009. PDB Indonesia pada triwulan I-2009 dibandingkan triwulan yang sama tahun 2008 (y-on-y) mengalami pertumbuhan sebesar 4,4 persen. Pengeluaran konsumsi rumah tangga pada triwulan I-2009 dibandingkan dengan triwulan IV-2008 secara riil meningkat sebesar 0,8 persen, sedangkan pengeluaran konsumsi pemerintah menurun 28,7 persen, serta pembentukan modal tetap bruto turun 5,4 persen, demikian juga ekspor barang-jasa turun sebesar 17,2 persen dan komponen impor barang-jasa turun sebesar 18,6 persen. Komponen pengeluaran pada triwulan I-2009 dibandingkan triwulan yang sama tahun 2008 mengalami peningkatan, yakni: pengeluaran konsumsi rumah tangga naik sebesar 5,8 persen, pengeluaran konsumsi pemerintah 19,2 persen, dan pembentukan modal tetap bruto 3,5 persen, sementara itu kegiatan perdagangan luar negeri mengalami penurunan, ekspor barang dan jasa turun sebesar 19,1 persen, dan impor barang dan jasa turun sebesar 24,1 persen. Struktur perekonomian Indonesia secara spasial pada triwulan I-2009 masih didominasi oleh kelompok provinsi di Pulau Jawa yang memberikan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto sebesar 58,3 persen, kemudian diikuti oleh Pulau Sumatera sebesar 23,4 persen, Pulau Kalimantan 9,4 persen, dan Pulau Sulawesi 4,3 persen dan sisanya 4,6 persen di pulau-pulau lainnya.
Download PDFIndeks Tendensi Bisnis (ITB) pada Triwulan I-2009 Sebesar 96,91
2009-05-15
Indeks Tendensi Bisnis (ITB) pada Triwulan I-2009 sebesar 96,91, mengindikasikan kondisi bisnis pada triwulan tersebut secara umum menurun dibandingkan pada Triwulan IV-2008 (nilai ITB 102,19). Sebagian besar sektor ekonomi mengalami penurunan nilai indeks, kecuali sektor Listrik, Gas & Air Bersih (ITB 105,38); Keuangan, Persewaan, & Jasa Perusahaan (ITB 107,88); dan Jasa-jasa (ITB 102,96). Sektor Industri Pengolahan mengalami penurunan bisnis paling tajam dengan nilai indeks sebesar 89,86, sebaliknya Sektor Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan mengalami peningkatan bisnis tertinggi dengan nilai indeks sebesar 107,88. Penurunan kondisi bisnis terjadi karena adanya penurunan pendapatan usaha, kapasitas produksi dan jumlah jam kerja. Sektor Industri Pengolahan mengalami penurunan pendapatan usaha terbesar, sebaliknya Sektor Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan mengalami peningkatan pendapatan usaha tertinggi. Prospek Bisnis Triwulan II-2009 Nilai ITB Triwulan II-2009 diperkirakan sebesar 98,35, berarti secara umum kondisi bisnis pada triwulan tersebut diperkirakan masih akan tetap menurun, namun penurunannya lebih lambat dibandingkan Triwulan I-2009. Sebagian besar sektor ekonomi pada Triwulan II-2009 diperkirakan mengalami penurunan kecuali Sektor Pertambangan dan Penggalian, Listrik, Gas dan Air Bersih, dan Jasa-jasa. Sektor yang diperkirakan mengalami penurunan bisnis terbesar adalah Industri Pengolahan. Indeks Tendensi Konsumen (ITK) Triwulan I-2009 di Jabodetabek sebesar 102,15, artinya kondisi ekonomi konsumen pada Triwulan I-2009 meningkat bila dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (ITK sebesar 100,93). Kondisi ekonomi konsumen membaik karena adanya peningkatan pendapatan rumah tangga dan konsumsi beberapa komoditi bukan makanan, seperti biaya perumahan (listrik, telepon dan air), pendidikan, transportasi dan kesehatan. Kondisi Ekonomi Konsumen Triwulan II-2009 Nilai ITK di Jabodetabek pada Triwulan II-2009 diperkirakan 103,28, artinya kondisi ekonomi konsumen pada Triwulan II-2009 diprediksi akan meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya. Perbaikan kondisi ekonomi konsumen pada Triwulan II-2009 diperkirakan terjadi karena adanya peningkatan pendapatan, meskipun rencana pembelian barang-barang tahan lama diperkirakan menurun.
Download PDFBulan Maret 2009 Harga Grosis Naik 0,24 Persen
2009-05-01
Pada bulan Maret 2009 Indeks harga grosir/agen atau Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Umum naik 0,24 persen dibanding bulan sebelumnya. Kenaikan IHPB terbesar terjadi pada sektor Pertanian sebesar 0,63 persen, utamanya buah-buahan dan kelapa sawit yang memberi andil masing-masing sebesar 0,1 dan 0,07 persen. IHPB sektor Industri dan barang Impor masing-masing naik 0,18 persen dan 0,39 persen. Sedangkan sektor Pertambangan & Penggalian dan barang Ekspor masing-masing turun 0,10 persen dan 0,07 persen. Selama Maret 2009, komoditas yang harga grosirnya naik antara lain: kelapa sawit (13,60%), kacang hijau (13,71%); dan barang impor hasil kilang minyak (6,39%). Sedangkan yang turun antara lain barang ekspor karet olahan (-8,15%), batubara (-6,83%), dan kayu lapis (-4,00%). IHPB Bahan Bangunan/Konstruksi di Maret 2009 turun 0,12 persen terhadap bulan sebelumnya, terutama disebabkan penurunan harga grosir barang-barang dari besi dan baja dasar (-1,23%), batu split (-1,00%) dan kayu lapis (-0.40%). Namun yang mengalami kenaikan harga grosir antara lain alat pertukangan dari logam (0,84%), kayu gergajian (0,77%), aspal (0,74%), dan cat, vernis dan lak (0,46%).
Download PDFPertumbuhan Produksi Industri Pengolahan Besar dan Sedang (q-to-q) Pada Triwulan I Tahun 2009 Adalah Negatif, Yaitu Turun Sebesar 1,61 Persen Dari Triwulan IV Tahun 2008
2009-05-01
Pertumbuhan Produksi Industri Pengolahan Besar dan Sedang (q-to-q) pada triwulan I tahun 2009 adalah negatip, yaitu turun sebesar 1,61 persen dari triwulan IV tahun 2008. Jenis-jenis industri yang mengalami penurunan produksi terbesar adalah Industri Kendaraan Bermotor turun 16,49 persen, Industri Radio, Televisi dan Peralatan Komunikasi serta Perlengkapannya turun 8,85 persen, Industri Barang Galian Bukan Logam turun 5,15 persen, dan Industri Tekstil turun 4,83 persen. Selama triwulan I tahun 2009, produksi Industri Pengolahan Besar dan Sedang bulanan (m to m) mengalami pertumbuhan yang positip pada bulan Febuari 2009 dan Maret 2009. Pertumbuhan produksi industri pada bulan Februari 2009 naik 0,24 persen dari bulan Januari 2009 dan bulan Maret 2009 pertumbuhan produksi industri naik 0,77 persen dari bulan Februari 2009. Pertumbuhan produksi industri triwulan I tahunan (y on y) selama tiga tahun terakhir adalah positip namun mengalami perlambatan setiap tahunnya. Pada triwulan I tahun 2007 produksi industri naik sebesar 7,16 persen dari produksi industri pada triwulan I tahun 2006, kemudian dari triwulan I tahun 2007 ke triwulan I tahun 2008 produksi industri naik 5,85 persen, dan selanjutnya pada triwulan I tahun 2009 produksi industri naik 0,23 persen dari triwulan I tahun 2008. Pertumbuhan produksi Industri Pengolahan Besar dan Sedang tahun 2008 mencapai 3,01 persen. Jenis-jenis industri yang mengalami pertumbuhan produksi tertinggi adalah Industri Alat Angkutan selain Kendaraan Bermotor Roda Empat atau lebih naik 35,45 persen, Industri Furniture dan Pengolahan lainnya naik 33,56 persen, dan Industri Kendaraan Bermotor naik 22,41 persen. Namun, ada jenis-jenis industri yang justru pertumbuhannya negatip, dengan penurunan pertumbuhan yang terbesar pada Industri Pakaian Jadi yang turun 28,72 persen dan Industri Barang-Barang dari Logam kecuali Mesin dan Peralatannya turun 14,61 persen.
Download PDFPada Maret 2009, Nilai Tukar Petani (NTP) Nasional Sebesar 98,78, Atau Naik 0,01 Persen Dibandingkan Bulan Sebelumnya.
2009-05-01
Pada Maret 2009, Nilai Tukar Petani (NTP) nasional sebesar 98,78, atau naik 0,01 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Nilai Tukar Petani Tanaman Pangan (NTPP) tercatat sebesar 93,90, Nilai Tukar Petani Hortikultura (NTPH) 102,62, Nilai Tukar Petani Tanaman Perkebunan Rakyat (NTPR) 102,23, Nilai Tukar Petani Peternakan (NTPT) 104,06, dan untuk Nilai Tukar Nelayan (NTN) 104,91. Dari 32 provinsi (tanpa DKI) pada Maret 2009, NTP 20 provinsi naik, sedangkan 12 provinsi turun. Kenaikan NTP tertinggi terjadi di Provinsi Jambi (3,12 persen), terutama disebabkan harga produsen Karet yang naik 13,04 persen. Penurunan NTP terbesar terjadi di Provinsi Jawa Barat (1,13 persen), terutama disebabkan harga produsen padi yang turun 1,74 persen. Pada Maret 2009, terjadi Inflasi di daerah pedesaan di Indonesia sebesar 0,33 persen. Inflasi pedesaan Maret 2009 ini dipengaruhi oleh kenaikan indeks harga di 6 (enam) subkelompok, yaitu subkelompok bahan makanan 0,16 persen, makanan jadi 0,80 persen, perumahan 0,29 persen, sandang 0,66 persen, kesehatan 0,42 persen, serta pendidikan, rekreasi & olah raga 0,27 persen. Sedangkan subkelompok transportasi dan komunikasi turun sebesar 0,24 persen. Berdasarkan hasil observasi terhadap 1.404 transaksi gabah di 18 provinsi pada April 2009, sebagian besar (73,8 persen) berbentuk Gabah Kering Panen (GKP), disusul 18,0 persen gabah kualitas rendah, dan 8,2 persen Gabah Kering Giling (GKG) Pada April 2009, rata-rata harga GKP di tingkat petani adalah Rp2.603,- per kg atau naik 2,47 persen dibanding Maret 2009 dan di tingkat penggilingan Rp2.662,- per kg (naik 2,49 persen dan berada di atas HPP). Rata-rata harga GKG di tingkat petani Rp2.632,- per kg atau turun 15,52 persen dibanding Maret 2009 dan di tingkat penggilingan, Rp2.695,- per kg (turun 15,28 persen dan berada di bawah HPP). Rata-rata harga gabah kualitas rendah sebesar Rp2.307,- per kg atau naik 2,60 persen. Harga gabah terendah di tingkat petani sebesar Rp1.800,- per kg dijumpai di Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat (kualitas Rendah). Harga tertinggi sebesar Rp3.590,- per kg dijumpai di Kabupaten Batubara, Provinsi Sumatera Utara (kualitas GKP). Persentase harga gabah di tingkat penggilingan yang berada di bawah HPP turun dari 31,96 persen di Maret 2009 menjadi 19,55 persen di April 2009, demikian juga persentase gabah berkualitas rendah turun dari 31,26 persen di Maret 2009 menjadi 18,02 persen di April 2009. Upah nominal harian buruh tani Nasional pada Maret 2009 naik sebesar 0,37 persen dibanding upah Februari 2009, yaitu dari Rp36.392,- menjadi Rp36.526,- per hari. Secara riil mengalami peningkatan sebesar 0,03 persen1). Upah nominal harian buruh bangunan (tukang bukan mandor) pada April 2009 naik 0,27 persen dibanding upah Maret 2009, yaitu dari Rp54.878,- menjadi Rp55.025,- per hari. Secara riil naik sebesar 0,58 persen1). Upah nominal bulanan buruh industri pada triwulan III 2008 naik sebesar 0,35 persen dibanding upah triwulan II 2008 yaitu dari Rp1.148.635,- menjadi Rp1.152.605,-, secara riil turun 2.47 persen1). Dibanding upah triwulan III 2007 (year on year), upah nominal naik 13.48 persen."
Download PDFJumlah Wisatawan Mancanegara Bulan Maret 2009 Mencapai 511,3 Ribu Orang Atau Naik 1,85 Persen
2009-05-01
Jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang datang ke Indonesia pada Maret 2009 mencapai 511,3 ribu orang atau naik 1,85 persen dibanding jumlah wisman Maret 2008 sebanyak 502,0 ribu orang. Begitu pula jika dibanding Februari 2009, jumlah wisman Maret 2009 naik 21,29 persen. Jumlah wisman yang datang melalui 11 pintu masuk utama pada Maret 2009 naik 1,49 persen dibanding bulan yang sama tahun sebelumnya, yaitu dari 422,1 ribu orang menjadi 428,4 ribu orang. Jika dibanding Februari 2009, wisman yang datang melalui 11 pintu masuk naik 21,52 persen. Jumlah wisman ke Bali melalui bandara Ngurah Rai pada Maret 2009 naik 5,10 persen dibanding Maret 2008. Dibanding Februari 2009, jumlah wisman ke Bali mengalami kenaikan sebesar 14,94 persen, yaitu dari 146,2 ribu orang menjadi 168,0 ribu orang pada Maret 2009. Selama periode Januari-Maret 2009, jumlah wisman mencapai 1,406 juta orang atau naik tipis 0,04 persen dibanding jumlah wisman pada periode yang sama tahun 2008 sebanyak 1,405 juta orang. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di 14 provinsi pada Maret 2009 mencapai rata-rata 47,27 persen, atau naik 2,73 poin dibanding TPK Februari 2009 sebesar 44,54 persen. TPK hotel berbintang di Bali pada Maret 2009 naik 6,73 poin bila dibanding Februari 2009, yaitu dari 50,99 persen menjadi 57,72 persen. Rata-rata lama menginap tamu asing dan Indonesia pada hotel berbintang di 14 provinsi selama Maret 2009 adalah 2,11 hari atau mengalami kenaikan 0,03 poin bila dibanding Februari 2009.
Download PDFNilai Ekspor Indonesia Bulan Maret 2009 Naik Sebesar 20,64 Persen, Nilai Impor Naik 9,94 Persen
2009-05-01
Nilai ekspor Indonesia Maret 2009 mencapai US$8,54 miliar atau mengalami peningkatan sebesar 20,64 persen dibanding ekspor Februari 2009. Sementara bila dibanding Maret 2008 masih mengalami penurunan sebesar 28,87 persen. Ekspor nonmigas Maret 2009 mencapai US$7,27 miliar, naik 20,08 persen dibanding Februari 2009 sedangkan dibanding ekspor Maret 2008 menurun 21,31 persen. Secara kumulatif nilai ekspor Indonesia Januari-Maret 2009 mencapai US$22,90 miliar atau menurun 32,13 persen dibanding periode yang sama tahun 2008, sementara ekspor nonmigas mencapai US$19,58 miliar atau menurun 25,69 persen. Peningkatan ekspor nonmigas terbesar Maret 2009 terjadi pada bahan bakar mineral sebesar US$444,3 juta, sedangkan penurunan terbesar terjadi pada perhiasan/permata sebesar US$74,5 juta. Ekspor nonmigas ke Jepang Maret 2009 mencapai angka terbesar yaitu US$888,9 juta, disusul Amerika Serikat US$808,5 juta dan Cina US$582,4 juta, dengan kontribusi ketiganya mencapai 31,35 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa ( 27 negara ) sebesar US$1.212,9 juta. Menurut sektor, ekspor hasil industri periode Januari-Maret 2009 turun sebesar 31,68 persen dibanding periode yang sama tahun 2008, sebaliknya ekspor hasil pertanian meningkat 0,87 persen demikian juga ekspor hasil tambang dan lainnya naik sebesar 10,74 persen. Nilai impor Indonesia Maret 2009 mencapai US$6,53 miliar atau meningkat 9,94 persen dibanding Februari 2009 yang sebesar US$5,94 miliar, sedangkan selama Januari-Maret 2009 nilai impor mencapai US$19,07 miliar atau menurun 35,85 persen dibanding periode yang sama tahun 2008. Impor nonmigas Maret 2009 mencapai US$5,61 miliar atau meningkat 12,81 persen dibanding impor Februari 2009, sedangkan selama Januari-Maret 2009 mencapai US$15,91 miliar atau menurun sebesar 30,03 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Impor migas Maret 2009 mencapai US$0,92 miliar atau menurun 4,87 persen dibanding impor Februari 2009, sedangkan selama Januari-Maret 2009 mencapai US$3,16 miliar atau menurun 54,78 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Nilai impor nonmigas terbesar Maret 2009 masih sama seperti Februari 2009 yaitu golongan barang mesin/pesawat mekanik dengan nilai US$1,14 miliar, yang mengalami kenaikan sebesar 2,53 persen dibanding bulan sebelumnya. Negara pemasok barang impor nonmigas terbesar ditempati oleh Cina dengan nilai US$2,85 miliar dengan pangsa 17,89 persen, diikuti Jepang US$2,13 miliar (13,37 persen) dan Singapura US$1,89 miliar (11,86 persen). Sementara impor nonmigas dari ASEAN mencapai 22,37 persen dan Uni Eropa sebesar 11,80 persen. Impor menurut golongan penggunaan barang selama Januari-Maret 2009 dibanding periode yang sama tahun sebelumnya mengalami penurunan, impor barang konsumsi sebesar 33,08 persen, bahan baku/penolong sebesar 42,25 persen, dan barang modal sebesar 3,29 persen.
Download PDFBulan April 2009 Terjadi Deflasi Sebesar 0,31 Persen
2009-05-01
Pada bulan April 2009 terjadi deflasi sebesar 0,31 persen dengan indeks harga konsumen (IHK) sebesar 113,92. Dari 66 kota, tercatat 50 kota mengalami deflasi dan 16 kota mengalami inflasi. Deflasi tertinggi terjadi di Manado 1,32 persen dengan IHK 115,03 dan terendah terjadi di Surakarta 0,02 persen dengan IHK 109,27. Sedangkan inflasi tertinggi terjadi di Palopo 0,99 persen dengan IHK 124,62 dan terendah terjadi di Palangkaraya 0,06 persen dengan IHK 115,50 Deflasi terjadi karena adanya penurunan harga yang ditunjukkan oleh penurunan indeks pada kelompok kelompok bahan makanan 1,33 persen dan kelompok sandang 1,70 persen. Sedangkan kelompok yang mengalami kenaikan indeks adalah kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau 0,40 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar 0,12 persen; kelompok kesehatan 0,34 persen; kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,05 persen dan kelompok transpor, komunikasi & jasa keuangan 0,07 persen. Laju inflasi tahun kalender (Januari-April) 2009 sebesar 0,05 persen, sedangkan laju inflasi year on year (April 2009 terhadap April 2008) sebesar 7,31 persen. Komponen inti pada bulan April 2009 mengalami deflasi sebesar 0,04 persen, laju inflasi komponen inti tahun kalender (Januari-April) 2009 sebesar 1,55 persen, sedangkan laju inflasi komponen inti year on year (April 2009 terhadap April 2008) sebesar 7,14 persen.
Download PDF